
Malam ini Erika tidur sangat nyenyak. Ia merasa terbebas dari segala masalah yang ia hadapi saat ini. Jauh dari gerak-gerik Riko yang membuat dirinya ketakutan.
Pagi-pagi, Erika bangun dengan tubuh yang segar. Ia melihat Linda masih tidur, maklum anak kuliahan kalau nggak ada jadwal kuliah pagi, bisa tidur sampai siang.
Erika langsung mandi dan mengenakan dress cantik kepunyaan Linda, yang sudah dipinjamkan semalam. Erika terlihat sangat cantik, dan makin menarik.
Ia tidak ingin membangunkan Linda, jadi Erika meletakkan notes di nakas samping tempat tidur, agar saat Linda bangun, ia bisa membacanya.
Erika menutup pintu pelan-pelan agar Linda tidak terbangun. Lalu langsung berangkat menuju kantor.
----------
Kantor masih sepi seperti biasanya. Erika naik lift menuju ruang administrasi. Ia duduk, membuka handphone nya sebentar, ia berencana untuk mencari pekerjaan baru. Ia tidak bisa bertahan disini terus.
Semalam ia sudah ngobrol dengan Linda, dan mengambil kesimpulan bahwa ia harus pindah tempat tinggal dan mencari pekerjaan baru. Itu semua demi ketenangan hidupnya.
Ia ingin membahagiakan orang tuanya. Hal itu tak mungkin ia lakukan jika dirinya sendiri tidak bahagia. Ia terus men-scroll layar handphone nya, berharap mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya.
Sampai-sampai ia tidak sadar kalau Reyhan sudah berdiri di depan mejanya.
"Erika, mengapa kemarin kamu tidak ke ruangan saya?" tanya Reyhan.
Erika kaget, ia langsung berdiri.
"maaf Pak. Bukan saya tidak ingin mengikuti perintah Pak Reyhan, tapi saya tidak bisa melakukannya Pak. Mungkin Pak Reyhan bisa mengajak yang lain untuk menemani makan siang." ucap Erika penuh keberanian.
Erika sudah tidak mau mengikuti kemauan Riko ataupun Reyhan. Jika memang karena masalah ini ia harus keluar dari pekerjaan ini, ia sudah ikhlas.
"Erika, kamu....apa kamu sudah siap dengan konsekuensinya kalau menolak permintaan saya?" tanya Reyhan.
"maaf pak, saya tahu. Mungkin saya akan dipecat dari perusahaan ini, dan saya rasa mungkin itu jalan hidup saya. Saya tidak ingin merasa terbeban untuk bekerja di suatu perusahaan." jawab Erika tegas dengan mata yang berbinar.
yaa, inilah yang harus aku lakukan. Jangan takut. Tuhan tidak akan meninggalkan aku. Jika aku harus keluar dari sini, itu berarti Tuhan punya jalan lain yang lebih baik untukku.
"Nanti siang, kamu ke ruangan saya. Ada yang ingin saya bicarakan." ucap Reyhan sambil berjalan pergi.
"Baik, Pak." jawab Erika.
Erika bernapas lega. Ia memang lebih nyaman berada berdua bersama Reyhan dibandingkan dengan Riko, karena Reyhan tidak pernah berbuat hal yang tidak pantas seperti yang Riko lakukan padanya.
----------
__ADS_1
[WA notification received]
(ka, kamar kost nya masih ada tuh yang diujung, baru ketemu ibu kost ni.)
wahhh, tengkyuuu Lin. Tapi bayarannya gimana ya?
(lo tenang aja, udah gue bayarin. Nyantai lha, kita kan pren)
Ya ampun Lin, gue nggak tau gimana jadinya gue tanpa lo. Tengkyuuu tengkyuuu bangettt.
(huahahahaha, sayalahhh pahlawan penyelamat bumi)
wkwkwkwk ya udah, nanti pulang dari sini gue ke rumah beberesan dulu ya. Trus langsung kesana.
(sippp, lagi dibersihin sama si mbo Na, yang biasa bersih-bersih kost. Gue cabut kuliah dulu ya. Jam 3an gue udah balik kok.)
Okay Lin, tengkyuuu ya.
----------
Riko menghampiri bagian administrasi, ke arah meja Erika. Tatapan mata Laura dan Mila seakan menyelidik.
"ngomong disini aja kak, ika lagi banyak kerjaan." jawab Erika menghindar
"Ntar siang makan bareng ya. Ada yang perlu aku omongin. Penting." ucap Riko.
"maaf kak. Nanti siang ika mesti ke ruangan Pak Reyhan, ada kerjaan."
Riko bertanya-tanya dalam hati mengapa Pak Reyhan memanggil Erika, pasti ada sesuatu. Riko mulai merasa cemburu. Masa mesti saingan sama Pak Reyhan, nggak adil ini.
Riko meninggalkan ruang administrasi dengan perasaan kesal, cemburu, dan penuh tanda tanya. Di belakangnya sudah mengekor Laura yang suka ngelendot aja. Kalau Mila lebih jaim, karena dia tidak ingin terlihat agresif.
----------
Erika membereskan laporan-laporan penjualan, merapikan mejanya, kemudian naik lift menuju ruang Pak Reyhan.
Mengetuk pintu, begitu terdengar suara dari dalam mengijinkannya masuk, Erika pun masuk.
"siang Pak." ucap Erika
"duduk, saya ingin bicara." ucap Reyhan dibarengi tatapan matanya yang tiba-tiba seperti masuk ke jantung Erika.
__ADS_1
"iya, Pak."
Reyhan meletakkan tangannya di meja, memegang pulpen dan memutarnya. Ia seperti agak ragu berbicara. Namun, matanya terus menatap mata Erika
"Erika..." ucap Reyhan
"iya, Pak." Erika merasa salah tingkah dengan tatapan Reyhan. Laki-laki di hadapannya tidak seperti Brama yang dulu, Brama yang iseng, sombong, dan sering mengganggunya.
Di depannya sekarang adalah Reyhan. Seorang bos dari perusahaan konstruksi. Memiliki wajah yang tampan (sudah dari dulu sih, cuma karena dulu yang diingat cuma keisengannya, ia tidak menarik sama sekali bagi Erika), tubuh yang tinggi dengan dada yang bidang, berbicara dengan lembut, tapi kadangkala masih suka mengancam.
"Erika, kamu mau menolong saya?" tanya Reyhan.
"sayaaa??? menolong Bapak? maksudnya apa ya Pak?" jawab Erika kebingungan.
"Apakah kamu bisa berpura-pura jadi pacar saya, sebentar saja. Supaya orang tua saya tidak menjodohkan saya dengan wanita yang sama sekali tidak saya sukai."
"tapi, Pak..."
"Tolong saya, setidaknya biar mereka tidak melanjutkan perjodohan ini. Saya tau kamu dari dulu, meski bukan hubungan yang baik, tapi saya tahu kamu orang yang baik." ucap Reyhan.
"Maaf tapi Pak. Suatu hubungan itu bukan untuk main-main, apalagi sampai memperkenalkan kepada orang tua." ucap Erika.
"Erika....jujur, saya suka sama kamu. Sejak pertama kali kita ketemu di kampus, saya suka sama kamu." Ucap Reyhan
"Maaf Pak, bukan saya menolak, tapi...."
Reyhan bangun dari kursinya, merendahkan tubuhnya dan memegang tangan Erika.
"tolong saya Erika. Saya tidak bisa menikah dengan orang lain sementara hati saya ada disini." sambil memandang Erika
"tapi Pak Reyhan akan menyakiti orang tua Pak Reyhan." ucap Erika
"Papa yang suka memaksa dan ingin semua orang mengikuti keinginannya. Cuma mama yang mengerti perasaanku."
Tiba-tiba Reyhan memeluk Erika. Erika ingin melepaskan pelukan itu, tapi ia merasa laki-laki di hadapannya seperti terlihat lemah, tubuhnya bergetar seperti menahan tangis.
Erika merasakan pelukan Reyhan sangat hangat dan lembut, tidak memaksa seperti Riko. Laki-laki ini seperti kesepian meskipun dikelilingi banyak orang.
Erika melepaskan pelukan Reyhan, ia meminta izin untuk keluar dari ruangan, dan berkata "akan saya pikirkan Pak, saya tidak berjanji. Sebaiknya Pak Reyhan berpikir ulang juga meminta saya melakukan ini, karena suatu hubungan bukan main-main."
Erika keluar dari ruangan meninggalkan Reyhan yang berdiri terdiam. Reyhan berharap Erika mengerti perasaannya.
__ADS_1