
Matahari sudah turun, Erika sudah duduk di taman belakang sejak selesai membersihkan diri tadi. Ia berpikir dan terus berpikir apa yang harus dilakukannya. Rasanya semua isi kepala sudah tidak mampu menemukan jalan keluar selain pasrah.
"ka, Ika.....", mama memanggil dari arah ruang dalam. Erika pun tersadar dari lamunannya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri ibunya. "ya ma, ada apa?"
"papa masih kurang enak badan, sebaiknya kita bicarakan masalah ini bertiga saja, mama, kamu dan Elisa. Siapa tau kita bisa mendapatkan solusi, meski bukan solusi yang menyelesaikan semuanya."
"ya ma, kita bicarakan ini setelah selesai makan malam. Aku panggil lisa dulu ya ma." Erika pun langsung menaiki tangga dan menghampiri kamar Elisa. Mereka makan malam bersama tanpa banyak berkata-kata. Masing-masing terasa memiliki masalah yang begitu pelik.
Setelah makan, Bi Inah, asisten rumah tangga mereka, membereskan meja. Ia tau keluarga ini sedang dalam masalah yang cukup besar. Ia tidak ingin mencampurinya. Bi Inah adalah asisten rumah tangga yang sudah bekerja sejak Ayah dan Ibu Erika menikah.
Oiya, Ayah Erika bernama Edo Kun, pria berkebangsaan Indonesia yang memiliki darah campuran Jepang- Indonesia. Ibu Erika bernama Widyaningsih. Erika Gracie, anak sulung keluarga Edo Kun, umur 19 tahun, sedang kuliah semester 4 di jurusan Arsitektur. Elisa Kirana, anak bungsu keluarga Edo Kun, umur 17 tahun, berada di tahun terakhir SMU.
__ADS_1
Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Ibu Widya, Erika dan Elisa. Mereka sudah duduk bersama selama 15 menit, tapi belum ada satupun yang memulai pembicaraan. Masing-masing dari mereka tidak tahu harus memulai darimana, karena ini sama sekali diluar perkiraan mereka. Tertipu rekan bisnis, hutang ke bank, rumah dan mobil yang akan segera disita, perusahaan properti yang saat ini sedang agak terpuruk karena resesi ekonomi, karyawan perusahaan yang harus mereka gaji, dan ayah mereka yang kurang sehat.
Begitu banyak masalah yang datang secara bersama-sama, dan rasanya langsung menghantam mereka ke titik terbawah.Hal tersebut yang membuat mereka rasanya tidak mampu untuk berkata-kata.
Erika tidak mampu menggerakan bibirnya untuk berbicara, ia hanya menggigit bibir bawahnya karena ia bingung harus memulai darimana. "Ma, apa yang harus kita lakukan?" Elisa memulai pembicaraan dengan nada sedih. Ibu Widya hanya diam dan meneteskan air mata. Hatinya hancur, bukan karena masalah datang bertubi-tubi, tapi lebih dikarenakan keadaan suaminya yang kurang sehat.
Ibu Widya adalah seorang wanita keibuan, yang jarang berkumpul dengan wanita-wanita sosialita. Ia lebih suka berada di dapur, memasak untuk suaminya dan duduk mendengarkan anak-anaknya bercerita tentang keseharian mereka.
"Untuk perusahaan, mama tidak yakin apa ini jalan terbaik. Bulan kemarin, ada seorang pengusaha mau membeli perusahaan papa. Mungkin kita bisa menawarkan perusahaan itu kepadanya, sehingga kita bisa menyelamatkan karyawan perusahaan."
[FLASHBACK ON]
__ADS_1
"Siang Pak Edo, perkenalkan ini Pak Suryadiningrat, pemilik Mega Jaya Properti. Ia berencana membeli perusahaan properti milik Pak Edo."
"Maaf pak sebelumnya. Tapi saya tidak menjual perusahaan ini. Kalau ingin bekerja sama, bisa saya pertimbangkan."
"Pak Edo, Pak Surya tidak berniat untuk bekerja sama, ia kesini hanya untuk membeli perusahaan anda. Ia akan membayar berapapun permintaan anda."
"Sekali lagi saya mohon maaf. Perusahaan ini tidak untuk dijual. Silakan anda mencari perusahaan lain."
Pak Surya dan asistennya meninggalkan ruangan Pak Edo. Pak Surya berbisik kepada asistennya, "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan." "Baik Pak, mengerti."
[FLASHBACK OFF]
__ADS_1