
"Kak Mila...." ucap Erika sesampainya ia di kamar.
"iya, ka." jawab Mila yang duduk di pinggir ranjang.
"Maaf Kak, Kakak nggak apa-apa?" tanya Erika
"Nggak apa-apa kok ka, cuma mungkin hari ini Kak Mila nggak bisa ikut meeting dulu, agak kurang enak badan." ucap Mila
"iya Kak, nanti ika yang gantiin Kak Mila. Kak Mila istirahat aja ya." ucap Erika.
Erika tahu Mila bukan tidak enak badan, tapi mungkin ia sedang tidak ingin bertemu Riko. Wajah Kak Mila berbeda dari biasanya, lebih murung dan lesu.
Erika pun beranjak pergi ke kamar mandi dan segera bersiap diri. Ia meninggalkan Mila yang sedang merebahkan dan menyelimuti tubuhnya. Melihat punggung Mila, Erika tahu kalau ia sedang menangis.
Erika turun ke lobby. Ia mendapati Riko dan Angga sudah ada disana. Erika sudah sarapan roti tadi karena ia yakin kalau ia sarapan lagi di restoran hotel, pasti tidak akan keburu.
"Mila mana?" tanya Angga. Sementara Riko hanya bisa diam.
"Kak Mila kurang enak badan Mas Angga. Nanti ika yang gantiin aja." jawab Mila sembari sesekali melihat ke arah Riko.
Tiba-tiba Reyhan datang menghampiri mereka.
"ayo kita berangkat, mobil sudah siap di depan." ucap Reyhan
"Pagi, Pak. Pak Reyhan ada disini? bukan Pak Adam mau datang nanti siang?" tanya Angga kaget.
"Kebetulan Pak Adam sedang ada keperluan mendadak, jadi saya yang gantiin. Ayo kita berangkat." ucap Reyhan sekali lagi.
Riko dan Angga berjalan di depan, sementara Reyhan dan Erika berjalan di belakang mereka. Reyhan melihat Erika dan tersenyum padanya. Wajah Erika langsung memerah melihat senyuman itu. Ia pun langsung menepuk pipinya agar tidak mengeluarkan warna merah itu, diiringi tawa kecil Reyhan yang melihatnya melakukan itu.
__ADS_1
----------
Meeting mereka berjalan dengan lancar. Angga menggantikan Riko untung melakukan presentasi dan sisanya dilakukan oleh Reyhan. Riko benar-benar kurang konsentrasi.
Tiba-tiba handphone nya berbunyi. Riko seperti tersadar dari lamunannya. Ia mengangkat teleponnya, menjawab sambil berbisik, dan memberikannya pada Erika.
Erika permisi keluar dari ruangan sambil membawa handphone Riko. Reyhan yang melihatnya keluar dari ruangan sempat terhenti sebentar. Matanya mengikuti Erika keluar sari ruangan. Setelah itu baru ia melanjutkan presentasi.
"ika." ucap Tante Hana diseberang telepon
"halo. Iya Tante, ada apa?" tanya Erika penuh selidik, karena tidak biasanya Tante Hana meneleponnya.
"begini Erika....(Tante Hana berbicara agak terbata-bata) Tante mau kasih tahu kamu tentang orang tua kamu." ucap Hana
"Papa Mama kenapa Tan?" Erika mulai kuatir.
"iya Tan, ika dengerin."
"Barusan mama kamu telepon. Katanya tadi pagi tempat jualan makanannya didatangi preman tadi. Barang-barang dagangan mereka diacak-acak. Mama kamu sih nggak ngejelasin lebih detail lagi, jadi Tante mengambil kesimpulan mungkin preman-preman itu minta uang." ucap Hana
"Kok Mama bisa telepon Tante?" tanya Erika.
"iya, tadi mama kamu ada sedikit pinjam uang tante buat memperbaiki etalase tokonya. Tante cuma kuatir aja kalau preman-preman itu datang lagi."
"iya Tan, makasih ya Tan udah ngasi tahu ika. Nanti ika telepon mama setelah pulang dari sini." ucap Erika
"Sama-sama Erika. Tante juga titip Riko ya, maklum anak kesayangan tante." Tante Hana menutup telepon diujung sana.
Erika cuma bisa diam. Masalah apalagi pikirnya. Belum selesai masalah yang satu, sudah datang masalah baru.
__ADS_1
Erika pun berjalan kembali ke dalam ruangan. Ia duduk kembali dan memberikan handphone kembali pada Riko.
Riko agak sedikit bingung dan juga kuatir. Ia memang sedang tidak konsentrasi, tapi melihat Ibunya sampai menelepon Erika, pasti karena ada sesuatu yang penting. Ia akan menanyakannya nanti.
Reyhan pun melihat kekuatiran di wajah Erika, tapi ia menahan pertanyaannya sampai ia punya kesempatan.
Meeting tersebut berjalan dengan baik dan sukses. Perusahaan berhasil mendapatkan project tersebut. Hal yang tidak sia-sia datang ke Batam.
"karena project kita sudah goal, yuk saya traktir makan dulu." ucap Reyhan
"tapi kita mau langsung ke project Hotel yang sedang kita tangani." ucap Angga
"Makan dulu. Kalau kerja mau konsentrasi, perut harus kenyang dulu." ucap Reyhan tersenyum.
"Ah Pak Reyhan tahu aja." Angga berkata sambil tertawa.
Riko lebih banyak diam sedangkan Erika hanya tersenyum simpul. Reyhan memperhatikan mereka berdua, hanya saja ia tak ingin menganggu mereka saat ini.
Setelah makan siang selesai.
"Angga." ucap Reyhan
"iya, Pak." jawab Angga
"kamu pakai mobil saja, biar gampang. Saya akan bawa Erika pulang ke hotel pakai taksi." ucap Reyhan
"Baik, Pak. Terima kasih. Yuk bro." Angga mengajak Riko berangkat. Mereka meninggalkan Reyhan dan Erika.
"yuk ka, aku udah pesen taksi. Kita duduk di dalam dulu. Nanti kalau taksinya udah dateng, kita dikasih tau." ucap Reyhan sambil menggandeng Erika kembali ke dalam tempat makan.
__ADS_1