
Erika membereskan semua barang-barangnya, memasukkannya ke dalam koper dan melihat sekeliling kamar kostnya. Ia akan merindukan tempat ini, tempat ia sering tersenyum sendiri sambil membaca chat dari Reyhan. Erika menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia harus melupakan semua itu.
Semua yang terjadi bersama Reyhan adalah semu, hanya keinginan sendiri yang sangat egois. Ia memang sudah menyerahkan dirinya pada laki-laki itu, berharap ia bisa seperti putri-putri dalam dongeng.
Erika menutup pintu kamar kostnya, menutup semua kenangannya. Linda sudah berdiri di depan pintu kamar kost Erika. Melihat temannya akan pergi, hatinya serasa terpisah.
Ia sudah menganggap Erika seperti saudaranya sendiri, meskipun mereka baru kenal saat masuk kuliah.
"Lin, gue nitip ini ya." sambil menyerahkan sebuah kotak kepada Linda
"Apaan ini ka?" tanya Linda.
"handphone gue. Tolong lo simpenin, karena itu bukan punya gue. Itu punya Reyhan, dia yang kasih ke gue pas gue ke Batam waktu itu supaya gue gampang dihubungi. Kalau misalkan lo ketemu, minta tolong balikin aja ya." ucap Erika.
"Trus, gue nggak bisa telpon lo donk?" tanya Linda sedih.
"Tenang aja. Sementara ini gue mau sendiri dulu. Mau fokus sama keluarga gue. Nanti gue pasti hubungin lo. Cuma gue minta sama lo, jangan sampai ada yang tahu gue kemana atau gue ada dimana. Gue nggak mau orang-orang itu ngeganggu hidup keluarga gue lagi." ucap Erika dengan mata yang tenang
Linda menganggukkan kepalanya, tanda ia mengerti, meskipun ia tidak tahu kapan sahabatnya ini akan menghubunginya.
Mereka saling berpelukan, menitikkan air mata.
"thanks ya Lin. Lo udah bantuin gue selama ini. Gue nggak tahu kapan bisa balas semua kebaikan lo." Erika mengusap air matanya
Erika pun berlalu pergi.
----------
Belakangan ini Reyhan sibuk sekali. Sejak ayahnya memajukan tanggal pernikahan, ia harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor, mengurus pernikahannya yang sangat ingin ia batalkan.
__ADS_1
Reyhan pun tidak sempat untuk menghubungi Erika. Oleh karena itu, saat ia memiliki waktu luang sebentar di dalam ruang kantornya, ia mengambil handphone dan mengirimkan pesan instan ke Erika.
Pesan WA yang ia kirimkan tidak juga mendapatkan balasan. Reyhan merasa gelisah. Ia melihat bahwa ternyata pesannya tidak terkirim. Ia mencoba langsung menghubungi Erika, tapi teleponnya juga mati.
Akhirnya Reyhan mengangkat gagang telepon dan menghubungi bagian teknik.
"Boleh minta Erika bawakan laporan pembangunan ke ruangan saya?" ucap Reyhan dengan wibawa.
"Baik Pak." ucap orang di seberang telepon.
Reyhan menunggu Erika di ruangannya. Berharap Erika segera datang.
Tak lama, terdengar suara pintu diketuk.
"Permisi Pak Reyhan. Ini saya bawakan laporan pembangunan yang tadi Bapak minta." ucap Mila
"Ohh Erika sudah nggak kerja disini Pak. Beberapa hari lalu ngajuin resign."
"Ok, terima kasih atas laporannya kalau begitu." ucap Reyhan
"Baik Pak, saya permisi."
Reyhan menutup dokumen-dokumen dihadapannya, mengepalkan kedua tangannya menjadi satu. Ia berpikir mengapa Erika tidak mengabarinya kalau mau resign dari kantor, lalu apa alasannya.
Reyhan menyandarkan tubuhnya ke kursinya, masih setengah berpikir. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
"honey, ayo kita makan siang." ucap Fiona dengan wajah gembira
"Kamu makan aja sendiri, aku nggak lapar." ucap Reyhan ketus
__ADS_1
Fiona yang awalnya datang dengan muka berseri-seri menjadi kesal. Ia tidak mau berdebat dengan Reyhan. Ia langsung berbalik badan meninggalkan Reyhan dan menutup pintu dengan suara keras.
Reyhan mengangkat teleponnya dan mulai menekan tombol.
"Sudah ada kabar terbaru? saya minta segera. Saya tidak punya banyak waktu."
----------
"Mil, makan yuk...Angga udah kelaperan ni" ajak Riko
Mila menganggukkan kepalanya. Sejak kepergian Erika, Mila berusaha berdamai dengan keadaannya. Ia tahu tidak mungkin ia menghindar terus dari Riko.
Mereka makan tidak jauh dari kantor, di warung pecel sebelah.
"Tadi kamu dipanggil Pak Reyhan?" tanya Riko
"Nggak sih, Pak Reyhan cuma minta laporan progress pembangunan. Biasanya kan Erika yang anterin kesana." jawab Mila
"Emang Pak Reyhan nggak tahu kalau Erika udah resign?" tanya Angga
"Kayaknya nggak tahu lha bro, masa bos ngurusin resign anak buah." ucap Riko
"Iya Pak Reyhan agak sedikit kaget tadi pas aku bilang Erika udah resign. Mungkin nggak nyangka kali ya." ucap Mila
"Lo kan kenal keluarganya bro, lo nggak tahu Erika pergi kemana?" tanya Angga
"Nggak tahu bro gue mah. Gue cuma tahu keluarganya ada di Bandung. Mungkin dia kesana kali." ucap Riko
Mereka pun mengobrol sambil melanjutkan makan siang.
__ADS_1