
"Rikooo" ucap Hana sambil mengetuk pintu kamar Riko.
"kenapa Ma?" tanya Riko
"Kamu dari pulang belum keluar kamar, makan malam dulu sini."
Riko berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
"Riko ga lapar Ma, Riko mau tidur aja, Riko agak cape." jawab Riko pelan
"kamu nggak sakit kan?" Hana memegang dahi Riko.
"Nggak kok Ma, cuma cape aja."
"Ya udah kalau kamu nggak mau makan, papa sama mama makan dulu ya." ucap Hana
"iya Ma." Riko menutup pintu dan kembali berbaring di kasurnya. Melihat handphone nya, tapi tidak melihat ada balasan apa-apa sejak ia mengirimkan pesan untuk Mila.
kenapa sekarang gue jadi mikirin Mila terus sih? ampe rasanya nggak sempet mikirin Erika. Apa ini cuma karena gue ngrasa bersalah aja?
Riko menutup mukanya dengan bantal dan berteriak. Dia berharap tidak ada yang mendengarnya.
----------
Erika melihat handphone barunya. Ia mulai memasukkan beberapa contact, supaya mudah mencarinya.
Ia membuka gallery, ternyata disana ada beberapa foto Reyhan. Erika memandangi foto tersebut sambil tersenyum.
[WA notification received]
__ADS_1
(halo ka, lagi ngapain? udah makan belum?)
Erika tahu itu pasti Reyhan, karena baru Mamanya dan Linda yang tahu nomornya.
lagi liat-liat handphonenya ni, lagi belajar. Belum pernah punya handphone kayak begini soalnya.
(*udah makan belum?)
belum, tapi ntar mau keluar sama temen.
(mau makan bareng nggak? aku jemput ya)
nggak, nggak usah. Lain kali aja. Aku makan bareng temen dulu, udah janji soalnya.
(temennya diajak aja sekalian yuk. Bosen dirumah)
(ok deh kalo gitu. See you sweet* ;*)
Erika jadi senyum-senyum sendiri dengan chat terakhir Reyhan. Mungkin tidak apa jika dia pelan-pelan membuka hati untuk Reyhan, ancaman kemarin itu mungkin hanya sekedar ancaman, tidak serius.
Erika pun beranjak dari kasurnya dan berlari menuju pintu. Ia keluar untuk makan bersama Linda.
----------
Hari ini Reyhan sudah diwanti-wanti tidak boleh keluar rumah. Reyhan merasa bosan di kamarnya. Rasanya dia ingin kabur saja dari rumah.
Pertunangan ini bukan keinginannya. Ia sama sekali tidak menyukai ataupun mencintai Fiona. Ayahnya, Suryadiningrat, pasti punya alasan tertentu juga memilih Fiona sebagai calon menantunya.
Terdengar pintu kamar diketuk.
__ADS_1
"Rey, kamu di dalam? mama masuk ya." ucap Anne, ibu Reyhan.
Reyhan langsung menghampiri pintu dan membukakan pintu untuk ibunya.
"kenapa Ma?" tanya Reyhan
"ini sayang, baju yang nanti kamu pakai, sudah disetrika dengan rapi." ucap Anne sambil menggantung baju tersebut ke lemari.
"Rey nggak mau bertunangan sama Fiona, Ma. Rey nggak suka sama Fiona. Apa nggak bisa dibatalin aja." ucap Reyhan
Reyhan memang agak manja pada ibunya. Maklum ia adalah anak satu-satunya keluarga Suryadiningrat. Ibunya sangat menyayanginya.
"Tapi Rey, nanti Papa marah. Papa sudah siapin ini lumayan lama, dan mama lihat, Papa sangat sayang sama Fiona." ucap Anne sambil melihat Reyhan
"Reyhan nggak suka Ma. Reyhan suka sama Erika. Reyhan maunya bertunangan dan menikah sama Erika." Reyhan memegang tangan ibunya.
"Wah anak mama udah jatuh cinta sendiri ya. Siapa tadi namanya? Erika." Anne tersenyum sambil memegang wajah Reyhan
"Mama tolong bilang papa, Rey nggak mau dipaksa-paksa begini." ucap Reyhan memohon
"Kamu tahu papa kamu kan Rey. Papa kamu itu paling nggak suka dibantah, apalagi sampai kita ngelawan."
"iya Rey tahu, tapi ini kan juga menyangkut masa depan Rey. Rey nggak mau menghabiskan hidup sama orang yang nggak Rey cintai."
"Ya sudah, nanti Mama coba bicarakan dengan papa, tapi mama rasa akan kecil kemungkinannya untuk merubah keputusan papamu. Mama nggak janji ya sayang." ucap Anne
Reyhan tidak bisa menjawab apa-apa karena ia tahu keputusan papanya tidak bisa diubah. Apakah dia harus pasrah? memberikan hidupnya untuk seseorang yang tidak ia cintai.
Lalu, bagaimana dengan Erika? Kalau aku tidak bersamanya, berarti Erika akan menjadi milik orang lain, ahhh.....aku tidak bisa terima itu.
__ADS_1