
Riko menghentikan mobilnya di depan kost Mila. Ia diam, menarik nafasnya, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk memulai.
"Mil, gue...." ucap Riko memulai.
"Udah, lo nggak perlu ngomong apa-apa, anggap aja nggak pernah terjadi." Mila melepaskan seatbelt, membuka pintu dan turun dari mobil meninggalkan Riko yang terdiam disana.
Mila tahu Riko menyukai Erika dan apa yang terjadi diantara mereka adalah suatu kesalahan.
Riko menyandarkan wajahnya ke setir mobil di hadapannya, perasaannya kacau. Mila tidak meminta apapun darinya, sekedar pertanggungjawaban atas apa yang telah ia lakukan pun tidak. Ia hanya disuruh melupakan.
----------
"Apa???!!" Surya menggebrak meja kerjanya.
"iya Bos. Gadis yang disukai Reyhan itu bernama Erika. Ia adalah putri sulung dari keluarga Edo Kun, pemilik perusahaan property yang kita hancurkan waktu itu." ucap anak buahnya.
"Ouuu, sepertinya kita tidak akan terlalu sulit memisahkan mereka. Kamu sudah tahu semua tentang keberadaan mereka?" tanya Surya.
"Sudah, Pak. Semua informasi sudah saya dapatkan."
"Baik, 3 bulan lagi Reyhan akan menikah, saya tidak mau sampai gagal. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan." Surya menaikkan alisnya.
----------
Sudah 3 bulan ini Erika tidak terlalu mempedulikan Reyhan. Reyhan terus memberikan pesan singkat meski hanya bertanya sudah makan belum, lagi apa, dan lain-lain.
Reyhan tidak berhenti mencoba menghubunginya, meski Erika berusaha menghindarinya.
Sampai akhirnya Reyhan menghubungi Pak Adam, manager divisi teknik untuk meminta Erika ke ruangannya untuk mengantarkan laporan, yang memang itu hanya modus.
Erika mengetuk pintu ruangan Reyhan.
"Permisi, Pak. Saya membawa laporan proses pembangunan seluruh project yang sedang kita lakukan." ucap Erika sambil meletakkan map diatas meja, lalu bergegas melangkah untuk keluar dari ruangan.
__ADS_1
"ka, mau sampai kapan kamu begini?" Reyhan berdiri dari kursinya.
Erika yang kaget menghentikan langkahnya. Ia bukan menghindar, saat ini ia ingin bersikap profesional saja, antara bos dengan karyawannya.
Reyhan berjalan mendekati Erika. Erika yang masi terdiam mematung tiba-tiba merasakan tangan yang hangat memeluk tubuhnya, melingkar di lengannya.
"ka, kamu tunggu aku ya, aku pasti bisa meyakinkan papa untuk membatalkan pernikahan ini." Reyhan meletakkan kepalanya di lekuk leher Erika.
Tiba-tiba pintu kantor terbuka....
"sayangg!!, kita ma...." Fiona kaget melihat Reyhan sedang memeluk Erika dari belakang. Erika pun langsung melepaskan pelukan itu dan bergegas keluar dari ruangan.
"Jadi kamu masih berhubungan sama cewe itu ya? kamu kan tahu gimana perasaanku. Kita akan menikah." ucap Fiona
"Aku mencintainya dan aku tidak bisa mencintai kamu." ucap Reyhan
"Kamu lihat saja, kita akan segera menikah. Aku akan meminta Om Surya mempercepat tanggal pernikahan kita." Fiona pergi dan membanting pintu ruang kerja Reyhan.
-----------
"Makanya bayar dong uang keamanan." Sang Preman terus melemparkan barang-barang di warung makan Ibu Widya.
Orang-orang yang tengah makan pun berhamburan keluar, mereka ketakutan akan menjadi sasaran pelemparan barang-barang tersebut.
Ayah Erika, Edo, tiba-tiba terjatuh sambil memegangi dada kirinya, jantungnya kumat. Si preman menghampiri.
"Bilang sama anak lo juga, jangan suka mengganggu calon suami orang." ucap preman itu tegas
Widya kaget, sementara Edo masih memegangi dadanya. Siapa yang mengganggu calon suami orang? Elisa? atau jangan-jangan Erika?
Elisa menghampiri ayahnya untuk memberikan obat untuk ayahnya.
"Ingat, anak kamu macam-macam lagi, saya akan hancurkan tempat ini lebih parah lagi." si preman bicara dengan nada mengancam, kemudian mereka pergi sambil tertawa.
__ADS_1
Widya melihat ke arah Elisa. Anaknya yang satu ini jarang keluar rumah, sejak ia lulus sma, ia lebih sering membantu di kedai makan. Berarti....
----------
Riko datang ke tempat kost Erika, disana ia melihat Linda dan Erika sedang berbincang-bincang.
Erika melihat Riko setengah terkejut. Apa yang Riko inginkan dengan datang kesini?
"ka, gue mau ngomong berdua boleh?" ucap Riko sambil memandang Erika.
Erika sebenarnya takut jika ia harus ditinggal berduaan dengan Riko, tapi Linda menepuk pundaknya seraya berkata tenang, gue akan mengawasi.
Akhirnya Linda meninggalkan Riko dan Erika berduaan. Erika mempersilahkan Riko duduk.
"kenapa Kak malam-malam kesini?" tanya Erika.
"Kamu tahu kan ka gimana perasaan aku ke kamu. Apa tidak ada kemungkinan kita bersama?" tanya Riko.
"Maaf, kak. Sedari awal ika pernah bilang sama Kak Riko, kalau ika nggak bisa mencintai Kak Riko."
"Tapi ka, aku....aku bener-bener sayang sama kamu." ucap Riko
"ika sayang sama Kak Riko, tapi hanya sebatas seorang kakak, nggak bisa lebih dari itu." jawab Erika
"Aku tahu. Aku mau minta maaf juga soal apa yang udah aku lakuin ke kamu. Itu karena aku bener-bener suka sama kamu. Aku pengen kamu jadi milik aku. Malah yang terjadi......" Riko menundukkan kepalanya.
Erika menghampiri Riko dan memegang tangannya, "Kak, ika ngerti perasaan kakak, tapi ada baiknya sekarang Kak Riko lebih memperhatikan Kak Mila saja."
"Mila?" Sejak Mila menghindarinya dan berkata anggap semua itu tidak pernah terjadi, Riko tak pernah mencoba mendekatinya lagi. Riko benar-benar melakukan sesuai yang Mila katakan, karena Riko memang berniat mendekati Erika lagi.
"iya, Kak. ika memang tidak boleh mencampuri urusan Kak Riko dengan Kak Mila. Tapi maaf, sejak kejadian waktu itu, sebaiknya Kak Riko bertanggung jawab atas apa yang telah Kak Riko lakukan. Kak Riko sudah mengambil apa yang berharga bagi seorang wanita, sebaiknya Kak Riko mengerti dan memikirkan jalan yang terbaik." ucap Erika dengan pemikirannya yang semakin dewasa.
Riko menatap Erika. Seulas senyum tipis terukir di wajahnya.
__ADS_1
"Terima kasih" ucap Riko sambil tiba-tiba memeluk Erika.
Rasa pelukan yang berbeda yang dilakukan Riko, membuat Erika merasa hubungannya dengan Riko ke depannya akan jauh lebih baik.