
"ka, Erika, ini nggak seperti yang kamu lihat." ucap Riko seperti menyadari akan kesalahannya.
Erika memalingkan wajahnya karena ia tahu seharusnya ia tidak nelihat kejadian seperti ini. Kemudian ia pergi keluar, dan segera menutup pintu.
Riko tertunduk, lalu ia melihat Mila yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Mil, gue...." ucap Riko terhenti.
Mila memang tidak menyangka semalam itu Riko, karena ia langsung didorong secara tiba-tiba, keadaan kamar juga sedang gelap saat itu.
Mila memang pasrah apa yang terjadi padanya semalam, karena ia pun tidak kuat melawan laki-laki itu. Sebenarnya saat ini Mila berada antara senang dan sedih. Senang karena laki-laki itu adalah Riko, tapi dia sedih karena Riko sebenarnya ingin melakukan hal itu dengan Erika.
Mila bangun dari kasur, menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Ia ingin pergi ke kamar mandi, tapi tiba-tiba ia terjatuh. Rasa sakit di area intimnya masih sangat terasa.
"Mil, lo nggak apa-apa?" tanya Riko sambil memegang Mila.
"Nggak apa-apa, mendingan lo kejar Erika sana. Gue tahu kok lo suka sama dia. Gue nggak apa-apa." ucap Mila sambil menahan sakit.
Riko berada diantara dua pilihan, ia harus tetap bersama Mila dan membantunya atau ia harus pergi mengejar Erika.
Akhirnya ia segera mengenakan celana dan bajunya, dan berlari mengejar Erika.
__ADS_1
"Mil, sory, gue tinggal dulu ya. Gue kejar Erika dulu, gue mesti jelasin ini semua ke dia." ucap Riko.
Seketika itu juga Mila merasa hancur, hatinya remuk dan terasa rapuh. Apa yang terjadi pada dirinya, ia pun sudah tidak tahu lagi. Ia beranjak perlahan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
----------
"Mas Angga, Mas Angga" teriak Erika sambil mengetuk pintu kamar Angga
Angga yang tengah bersiap-siap, berkari ke arah pintu dan membukanya.
"Erika, kamu kenapa? kok buru-buru, mukanya tegang banget. Kamu dikejar orang jahat?" tanya Angga
"maksud kamu? Loh bukannya Riko lagi sarapan?" tanya Angga.
"Nggak Mas. Kak Riko ada di kamar aku sama Kak Mila. Mereka....." Erika menutup wajahnya.
"Semalam gue kira Riko udah tidur, soalnya lampunya mati, jadi gue nggak gangguin. Tadi pas bangun juga Riko nggak ada di tempat tidurnya, gue kira gue kesiangan, makanya langsung lompat masuk kamar mandi." ucap Angga menjelaskan.
"iya Mas, aku juga semalem nggak tidur di kamar karena aku ketemu temen. Jadi ngobrol sama dia." ucap Erika
Tiba-tiba pintu kamar terbuka ......
__ADS_1
"Bro, lo liat....(pandangannya mengarah ke Erika). ka, yang kamu liat itu nggak seperti apa yang kamu pikirkan." ucap Riko berusaha menjelaskan.
"Kak Riko nggak perlu ngejelasin apa-apa ke aku. Aku cuma bingung kenapa Kak Riko ngelakuin itu ke Kak Mila." ucap Erika
"Tapi ka, aku nggak...." ucapan Riko terputus. Angga mendorong Riko ke dinding menjauhi Erika.
"Lo apain Mila bro?" Angga menarik kerah baju Riko dan sedikit mengangkatnya.
"Gue...gue...nggak sadar bro, tapi gue rasa gue nggak ngapa-ngapain." Riko memang antara sadar dan tidak saat melakukan itu, karena ia agak setengah mabuk.
"Tapi Erika tadi cerita sama gue kalo dia liat lo sama Mila di...." Angga tidak ingin melanjutkan kalimatnya.
"ka, dengerin aku dulu. Aku nggak tau en nggak inget semalam gimana kejadiannya. Aku bisa jelasin semuanya." ucap Riko sambil melihat Erika
"Udah Kak Riko nggak usah ngejelasin apa-apa ke aku. Lagian aku nggak ada kepentingan kok. Yang penting Kak Riko harus tanggung jawab sama Kak Mila. Aku balik kamar dulu ya Mas Angga." ucap Erika sambil berjalan ke arah pintu dan meninggalkan mereka berdua.
Angga melepaskan tangannya dari kerah baju Riko.
"mandi sana bro, kita ada meeting en selanjutnya mesti ke project Hotel Harvest. Gue tunggu lo di lobby, gue mau sarapan dulu. Gue nggak mau ikut campur masalah lo, gue cuma minta lo berpikir baik-baik." ucap Angga sambil pergi dari kamar, membawa berkas-berkas yang sudah ia siapkan di map, lalu ke restoran hotel untuk mencari sarapan.
Riko hanya bisa terduduk lesu. Ia bingung dan pikirannya kacau. Bagaimana bisa meeting kalau keadaan seperti ini....
__ADS_1