Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 12 - PAKSAAN RIKO


__ADS_3

ya Tuhan, apa aku harus bertahan dengan keadaan ini. Aku memang butuh pekerjaan, tapi apa harus menghadapi hal seperti ini. Brama yang seenaknya, dan Riko yang egois. Berikan saya pekerjaan yang lain ya Tuhan, agar saya bisa bekerja dengan tenang. Saya hanya ingin membahagiakan orang tua saya.


Erika kembali bekerja, begitu seriusnya karena ia tidak ingin memikirkan laki-laki yang sering mengganggunya, sampai waktu sudah menunjukkan pukul enam. Di bagian administrasi sudah tidak ada siapa-siapa, hanya ada OB yang sedang membersihkan ruangan.


Erika segera membereskan barang-barang dan bergegas menuju lift. Begitu pintu lift terbuka, ia melihat Brama ada di dalam, ia tidak jadi masuk. Brama melihat, tapi ia membiarkan pintu lift tertutup kembali.


Kelegaan timbul dalam hati Erika, karena ia tidak perlu menghadapi Brama saat ini. Ia naik lift berikutnya. Sesampai di lobby, Riko sudah menunggunya.


"ayo ka, kita pulang." ajak Riko.


"nggak, aku pulang sendiri." jawab Erika.


"udah malam, aku ga akan biarin kamu pulang sendiri." ucap Riko.


"nggakk, pokoknya aku mau pulang sendiri!" jawab Erika ketus karena ia sudah tidak mau berdekatan dengan Riko.


Riko menarik lengan Erika dan memaksanya keluar menuju parkiran.


"sakit kak, lepas....sakittt." Erika berusaha untuk melepaskan tangan Riko dari lengannya.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka. Kaca terbuka.


"Erika, naik. Saya antar." Riko melihat Reyhan ada di dalam. Ia masih memegang lengan Erika.


"maaf pak, Erika pulang sama saya. Kami serumah." jawab Riko.


"Erikaaa!!! naik." suara Reyhan tegas.


Erika melepaskan tangan Riko, dan berlari ke arah mobil Brama dan menaikinya. Riko melihatnya dengan tatapan kesal. Saat ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Reyhan adalah bos nya.


Brama, nama asli Reyhan Bramaputra Suryadiningrat. Anak pengusaha properti terkenal di Jakarta. Sayangnya, Riko hanya mengenalnya sebagai bos perusahaan konstruksi dan Erika mengenalnya sebagau pribadi yang suka mengancam dan tidak perlu didekati.


Erika duduk diam di dalam mobil, di sebelah Reyhan (kita panggil Reyhan aja ya mulai sekarang). Ia tidak banyak bicara. Tangannya masih sakit akibat cengkeraman Riko tadi.


"gpp, Pak. Terima kasih." jawab Erika


"Riko pacar kamu ya?" tanya Reyhan menyelidik.


"ohh bukan Pak. Sementara ini saya tinggal dirumahnya, karena orang tua Riko teman orang tua saya." Reyhan lega mendengarnya.

__ADS_1


"saya berhenti di depan saja, Pak. Nanti tinggal saya lanjut naik angkutan." ucap Erika.


"tidak, saya antar kamu sampai depan rumah." ujar Reyhan tidak ingin dibantah.


Sepanjang perjalanan, Erika diam karena ia tidak ingin Reyhan tahu segala permasalahan dan kehidupannya. Ia hanya sesekali menunjukkan jalan. Reyhan senang sekali bisa berada bersama Erika.


Sampai di depan rumah, Erika melepas seatbelt nya, melihat ke arah Reyhan.


"terima kasih banyak, Pak. Maaf merepotkan." ucap Erika.


Reyhan membalas dengan tersenyum sambil berkata, "you're welcome. Saya bisa mengantarmu setiap hari, no problem." Reyhan pun pulang.


Ia memang sering menggangguku dulu, tapi tadi ia yang menolongku saat diganggu Riko. Ya Tuhan, lepaskan aku dari gangguan Riko.


----------


Erika sudah mengunci pintu kamar dan sudah berada di atas tempat tidurnya. Ia tidak ingin tiba-tiba Riko masuk dan melakukan hal-hal yang tidak ia harapkan.


Sudah dua kali Riko melakukannya, secara egois mencium bibirnya. Erika bertekad untuk segera mencari kost saat ia sudah mendapatkan gaji nanti.

__ADS_1


Setelah banyak berpikir, ia pun terlelap. Erika tidak mendengar sama sekali Riko pulang, karena ia pun tidak berharap bertemu. Riko pulang dengan perasaan marah, kesal, dan sedih.


Riko berdiri sebentar di depan pintu kamar Erika. "maaf." Lalu air matanya turun membasahi pipi. Ia terduduk di depan pintu beberapa saat lamanya. Kemudian ia masuk ke kamarnya sendiri.


__ADS_2