
Pekerjaan di Batam sudah selesai, hari ini mereka akan kembali ke Jakarta. Jam sudah menunjukkan pukul 10, sedangkan pesawat mereka berangkat pukul 1 siang.
Reyhan sudah siap di lobby sambil ngopi di coffee shop hotel seperti biasanya. Kemudian turunlah Riko, Angga, dan Erika. Mereka pun segera berangkat menuju bandara.
Sesampainya di bandara, Reyhan mengajak mereka makan siang dulu, tentu saja bos yang bayar. Itulah kenapa Angga senang dan suka sekali sama Pak Reyhan, makan gratis terus, hehe...
Reyhan sangat senang berada di sebelah Erika, sampai-sampai ia tidak ingat kalau besok adalah hari pertunangannya dengan Fiona.
Sementara Riko bingung, bagaimana nanti sikapnya saat bertemu Mila. Haruskah dia menyapanya seperti biasa, menganggap tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka, ataukah harus menghindarinya sejauh mungkin?
----------
Sudah beberapa hari Mila tidak masuk kantor. Sejak ia pulang lebih dulu dari Batam, ia belum masuk kerja lagi. Ia sudah minta izin pada Pak Adam, ia bilang ia kurang enak badan.
Mila hanya diam di dalam kamar kostnya. Mila adalah seorang perantauan. Ia pergi meninggalkan kota kelahirannya sejak kedua orang tuanya meninggal.
[WA notification received]
(mil, i'm sorry)
Mila hanya membaca pesan tersebut, tapi tidak membalasnya. Hal itu dikarenakan ia tidak tahu harus membalas apa.
Ia membiarkan handphone nya tergeletak di nakas samping tempat tidurnya, lalu ia keluar untuk mencari makan.
__ADS_1
----------
"ka, lo udah balik?" tanya Linda
"udah, barusan aja nyampe. Baru mau duduk nih." ucap Erika
"Gimana jalan-jalannya?" tanya Linda seraya bercanda.
"Jalan-jalan....kerja bu." diikuti dengan tawa Linda
"Lin, gue minta no handphone nyokap gue donk. Sejak hilang handphone itu, gue lupa nomornya, nggak gue catet pula." ucap Erika sambil mengeluarkan handphone dari tasnya.
"Wuihhh, udah beli handphone baru ni, belu di Batam?" tanya Linda.
"bos apa bos? bosnya bae bangetttt. Jangan-jangan bosnya naksir lagi." Linda menggoda Erika
"hahahaha....nggak lha, gue nggak mau mikirin itu dulu deh, masih banyak yang perlu gue pikirin." ucap Erika, walau sebenarnya ia sangat berharap pada Reyhan. Hanya saja ia tahu itu tak mungkin.
----------
"Halo, ma." ucap Erika
"iya sayang, gimana kabar kamu?" tanya Widya
__ADS_1
"baik, Ma. Papa sama Mama gimana?Elisa apa kabar ma? ika kangen."
"Mama Papa Elisa baik semua. Kamu tenang aja sayang, yang penting kamu disana sehat-sehat." Ucap Widya berbohong
Widya tidak ingin membuat anaknya kuatir. Apalagi saat ini, mereka masih dalam proses memperbaiki warung makan waktu itu.
"iya, Ma." Erika menahan tangisnya. Ia tahu ibunya sedang menyembunyikan permasalahannya.
Saat ini yang bisa dilakukan Erika hanya bekerja dengan baik, agar ia bisa mengirim uang setiap bulan. Setidaknya ia bisa meringankan beban kedua orang tuanya, meski hanya sedikit.
----------
"Rey, kamu sudah kembali?" Surya melihat Reyhan duduk di sofa ruang tamu, masih dengan koper di sebelahnya.
"iya, Pa. Baru sampai." jawab Reyhan
"Besok acara pertunangan kamu dengan Fiona. Kamu jangan kemana-mana." kata Surya tegas
"Apa sih Pa, Rey udah bilang nggak mau. Lagian Aku nggak cinta sama Fiona." Reyhan berdiri dari duduknya.
"Kamu jangan buat Papa malu Rey. Papa sudah pilihkan Fiona buat kamu. Fiona itu gadis yang baik, dia sering kesini ngeliat keadaan papa dan mama." ucap Surya
"Tapi Rey ga suka pa. Aku udah punya seseorang yang aku suka dan aku cinta sama dia." Rey pergi meninggalkan Surya dan membawa koper menuju kamarnya.
__ADS_1
Surya penasaran siapakah wanita yang disukau anaknya. Ia harus segera mencari tahu. Tapi acara pertunangan besok harus tetap terlaksana.