
"Pak tolong pak, jangan dirusak pakkk...." pinta Widya sambil menangis.
"sudah diberitahu berapa kali, masih nggak ngerti juga. Belom pernah dibuat babak belur sekalian?" sang preman mengancam.
"Maaf, Pak. Saya sudah kasih tau anak saya, Pak."
"Ini terakhir kalinya saya bicara, lain kali saya akan berbuat lebih kasar lagi dari ini. Ngerti kamu!!!!" sang preman mengepalkan tangannya.
Widya menunduk, ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Apa yang telah dilakukan oleh Erika, pikirnya. Erika pun sudah berjanji tidak melakukan hal seperti itu.
Widya merasa hidupnya sudah tidak aman lagi untuk tinggal disana. Sudah beberapa kali preman itu selalu datang dan menghancurkan warung makannya. Jika seperti ini terus, keluarganya tidak akan mungkin bisa bangkit.
----------
Erika dan Reyhan semakin dekat setiap hari. Mereka selalu makan siang bersama. Para karyawan di kantor sudah mulai merasakan kedekatan antara Erika dengan Reyhan. Hal ini membuat mereka menjadi bahan gosip di kantor.
__ADS_1
"ka, kamu ada hubungan sama Pak Reyhan ya?" tanya Mila penuh curiga.
"Nggak kok kak, cuma lagi ngomongin masalah kerjaan yang di Batam." jawab Erika mengelak. Ia tak mau kalau semua orang tahu mengenai hubungannya dengan Reyhan.
Memang Reyhan tidak secara langsung memintanya menjadi pacarnya, tapi dengan kedekatan mereka saat ini, Erika bisa mengambil kesimpulan seperti itu.
"yang bener ka? soalnya banyak yang ngomongin kamu loh." ucap Mila
"Nggak kok Kak." Erika terus mengelak meski ia merasa ada sesuatu yang salah.
"Aku harap juga nggak ka. Soalnya Pak Reyhan kan bentar lagi mau nikah. Oya, kamu udah denger soal kenapa pernikahannya dipercepat?" tanya Mila sambil memandang Erika.
"kamu mau tahu nggak?" ucap Mila diikuti dengan anggukan kepala Erika.
Sebenarnya Erika tidak ingin mendengarkan gosip, cuma karena ini berhubungan denga Reyhan dan Mila yang akan memberitahunya, maka Erika jadi ingin tahu.
__ADS_1
Mila berbisik di telinga Erika, "Pak Reyhan katanya mabuk, trus bawa calon istrinya ke hotel trus.....ya gitu deh."
Tiba-tiba Erika merasa seperti dirinya sedang dipermainkan. Apakah Reyhan bisa berbuat seperti itu pada dirinya? semua kata-katanya terasa indah dan manis.
Ataukah ini hanya gosip belaka, karena memang seperti itulah kantor, pasti ada gosip-gosip yang kadang-kadang tidak bertanggung jawab.
Erika sebenarnya ingin bertanya langsung kepada Reyhan, tapi ia merasa takut. Apakah nanti Reyhan akan marah kalau ia bertanya seperti itu? atau ia justru akan mendapatkan jawaban yang menyakiti hatinya?
Erika seperti tidak konsentrasi dalam setiap pekerjaannya. Ia merasa gelisah, takut apa yang dikatakan Mila tadi adalah suatu kebenaran.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Saatnya mereka pulang. Erika sebenarnya ingin berbicara secara langsung dengan Reyhan.
Setelah ia berpikir dan menjadi gelisah dari tadi, ia memutuskan untuk langsung bertanya pada Reyhan. Jawaban apapun nantinya, ia harus siap menerimanya.
Erika menunggu di sofa lobby. Ia ingin menunggu Reyhan dan berbicara padanya, tapi niat itu ia urungkan saat ia melihat seorang pria sudah setengah tua berjalan bersama Reyhan, diikuti dengan 'calon istrinya' yang tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Erika merasa wajah pria tua itu tidak asing baginya, tapi siapa? Erika merekam setiap wajah yang ia lihat, lalu ia memalingkan wajahnya, takut jika Reyhan melihatnya.
Saat ini yang dipikirkannya adalah bagaimana caranya kabur dari situasi yang sangat tidak menguntungkan baginya. Akhirnya ia tetap memilih duduk di sofa, sambil menunggu orang-orang itu pulang.