
Setelah melepas rasa kangennya ketemu Bi Inah, Erika tersadar bahwa sekarang ia berada di rumah Reyhan.
gue nggak boleh lama-lama disini, ntar ketauan istrinya bisa habis gue. Lagian gue nggak mau dicap pelakor. Udah cukup orang-orang mencibir karena ia hamil diluar nikah, jangan ampe dicibir pelakor.
Erika juga takut, kalau Reyhan sampai tahu Nicho itu anaknya, ia akan mengambil Nicho secara paksa. Jadi lebih baik dia kabur.
Erika mengambil tas nya, keluar dari kamar dengan berjalan perlahan-lahan. Ia menuruni tangga, tapi sebuah suara mengagetkannya.
"mau kemana ka? malam ini kamu disini aja. Diluar masih hujan." Reyhan berdiri di ujung tangga
"nggak, aku akan pesan taksi online saja." jawab Erika tanpa menoleh
"Disini saja, aku ingin bicara."
Erika terus menuruni tangga, dan mengeluarkan handphonenya untuk memesan taksi online.
"Aku bilang kamu disini malam ini!" tiba-tiba suara Reyhan meninggi.
Erika yang kaget, tersentak dan menghentikan langkahnya. Reyhan tidak pernah berteriak ataupun meninggikan suaranya, ia selalu lembut pada Erika.
apakah wanita itu sudah mengubahnya menjadi pribadi yang keras seperti itu?
"Masuklah ke kamar, besok aku akan mengantarmu ke hotel. Istirahatlah, aku tak akan mengganggumu, kita akan bicara besok."
Erika berbalik dan melihat pandangan mata Reyhan. Sorot mata itu sudah kembali lembut seperti dulu, hanya saja ada sesuatu yang berbeda.
Erika berjalan kembali ke kamar yang telah disiapkan untuknnya, berjalan melewati Reyhan. Memasuki kamar dan menutupnya.
Reyhan melihatnya dan terus melihatnya hingga Erika menutup pintu, lalu ia menarik nafasnya.
maaf, bukan aku ingin kasar padamu. Aku hanya ingin kau ada disini bersamaku.
----------
Reyhan masuk ke dalam ruang kerjanya, ia duduk menatap meja yang penuh dengan kertas-kertas.
Ia membuka kembali notenya, melihat data-data yang sudah diberikan oleh Kris. Reyhan masih penasaran siapa suami Erika.
Reyhan mengambil teleponnya dan menghubungi seseorang.
----------
Matahari sudah bersinar meski masih malu-malu. Erika sudah terbangun dari tidurnya. Ia bergegas membersihkan diri. Ia bingung mau memakai pakaian apa, semalam saja Bi Inah yang membawakan pakaian untuknya.
Tak lama Bi Inah masuk ke kamarnya dan memberikannya pakaian ganti.
"Ini non, Tuan Rey minta saya bawakan ke kesini."
"makasih ya Bi."
"Baru kali ini Tuan Rey bawa pulang wanita non. Tiap hari hampir pulang malam, apalagi setelah Tuan Surya masuk rumah sakit."
"loh, bukannya Pak Rey sudah menikah Bi?" Erika bertanya karena penasaran, karena yang ia tahu Reyhan sudah menikah 5 tahun lalu.
__ADS_1
Erika memakai pakaian yang dibawakan oleh Bi Inah sembari mendengarkan Bi Inah bercerita.
"Nggak Non. Nggak jadi nikahnya waktu itu. Bibi nggak tahu pasti gara-gara apa, Bibi cuma dengar Tuan Rey sama Tuan Surya bertengkar."
apakah dia menepati janjinya untuk meyakinkan ayahnya supaya membatalkan pernikahan itu. Apa aku yang salah meninggalkannya? tidak, tidak, Ayahnya sudah menghancurkan kehidupan keluargaku.
Setelah siap, Erika turun bersama Bi Inah. Ia melihat Reyhan sedang duduk di Ruang Makan dan menikmati sarapan nya.
Reyhan melihat Erika. Sudah lama ia tidak berada sedekat ini dengan Erika.
"Duduklah dan makanlah. Setelah itu aku akan mengantarmu ke hotel."
Erika diam, ia tidak mau melihat Reyhan berteriak seperti semalam.
Mereka sarapan dalam keheningan.
Reyhan berdiri, sementara Kris sudah menunggu di pintu.
"ayo kita berangkat."
Erika yang mendengarnya, segera meraih tas kecilnya dan mengikuti Reyhan.
"Bi, ika pergi dulu ya. Permisi."
"iya non. Sampaikan salam bibi buat Tuan dan Nyonya ya." Erika tersenyum sambil menganggukan kepala.
----------
Reyhan melihat Erika yang sedari tadi hanya menatap ke arah jendela.
"ka, nanti siang aku jemput. Kita makan siang. Aku perlu bicara."
"maaf Pak, tapi saya biasa dapat makan siang dari hotel selama training." Erika menghindari untuk bertemu lagi dengan Reyhan
"Kris, kamu minta izin untuknya hari ini tidak menghadiri training."
Erika yang kaget dengan ucapan Reyhan langsung menatapnya tajam.
"apa maksudmu?"
"aku tidak mau kau menghindariku. Aku mau bicara."
Erika menyilangkan tangannya, menandakan ia sangat kesal.
"kita langsung ke kantor saja, Kris." ucap Reyhan
----------
Sampai di gedung kantor Mega Corp. mereka turun. Erika mengikuti Reyhan masuk ke dalam.
Lobby yang sangat besar, dan Erika merasa banyak yang melihat ke arahnya.
tuh orang pada ngapain sih ngeliatin, bikin risih aja. Gue juga males kesini.
__ADS_1
Erika menaiki lift khusus. Langsung menuju lantai 15. Di dalam lift saja Erika merasa risih, ia merasa Reyhan terus melihat ke arahnya.
Pintu lift terbuka, mereka langsung menuju ruangan Reyhan.
"len, tolong jangan ada yang ganggu saya dulu." Reyhan masuk ke ruangannya bersama Erika, sementara Helen hanya memperhatikan.
Bos ngapain? cewe darimana?
Helen seperti berbicara bahasa isyarat dengan Kris. Sementara Kris menggodanya dengan hanya memainkan matanya ke kiri dan ke kanan.
dasar aneh
Helen memanyunkan bibirnya dan melanjutkan pekerjaannya, sementara Kris tertawa dalam hati.
----------
"duduklah." Reyhan menyuruh Erika duduk di sebuah sofa panjang.
"apa yang mau anda bicarakan? cepatlah."
Reyhan duduk di sofa memberikan jarak antara dirinya dengan Erika, meskipun ia ingin duduk di sampingnya. Ia tak ingin membuat Erika merasa canggung.
"bagaimana kabarmu?"
"baik, sangat baik." dengan nada agak sedikit tinggi
"kamu masih marah?"
"apa anda perlu tahu Pak? sebaiknya saya pergi, tak ada yang perlu kita bicarakan. Anda hanya membuang-buang waktu saya." Erika berdiri ingin melangkahkan kakinya pergi.
Namun Reyhan segera meraih tangan Erika dan menariknya, sehingga Erika jatuh ke dalam pelukannya.
Reyhan menatap mata Erika dan begitu juga sebaliknya. Reyhan yang sedari semalam sudah menahan diri, tak mampu lagi menahan perasaannya.
Ia menempelkan bibirnya ke bibir Erika.
Erika sontak kaget, tapi ia merasakan kelembutan dan kehangatan seperti dulu.
tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi lagi. Keluargamu menghancurkan keluargaku. Ayahmu menyakiti ayahku, dan .....
Erika melepaskan bibirnya dari bibir Reyhan. Berdiri dan beranjak pergi.
"maafkan aku." Kata-kata itu keluar dari mulut Reyhan.
Erika yang berdiri menghadap pintu, mematung. Ia menatap laki-laki yang sedang menatapnya dengan ketulusan yang terpancar di matanya.
Erika membuka pintu dan meninggalkan Reyhan di ruangan itu. Pergi menuju hotel tempat ia mengikuti training.
---------
"len, tunda semua jadwal saya minggu ini dan tolong siapkan tiket ke Bali untuk nanti malam."
"baik Pak."
__ADS_1