
Reyhan membuka sebuah kotak, disana masih tergeletak sebuah handphone dan sebuah surat. Ia membiarkannya disana, tak tersentuh.
Ia ingin bertemu dengan Erika, apa kabar dirinya? Selama 5 tahun ini, ia tak pernah mendekati wanita lain. Bukan karena ia tidak suka, tapi karena ia tidak mampu untuk memindahkan cintanya.
Ia membuka surat itu lagi, membacanya lagi. Kemana kira-kira kesayangannya ini pergi. Kalau saja handphone ini dibawa bersamanya, mungkin Reyhan masih bisa mencari tahu keberadaannya.
Apakah Erika bahagia? Apakah Erika sudah menikah? Sementara ia sendiri tak mampu melupakan. Ia tak tahu apa yang membuat dirinya mencintai Erika, ia hanya tahu itu cinta.
Ia memasukkan surat itu kembali ke dalam kotak, menutupnya dan memasukkannya kembali ke dalam lemari.
----------
"Kak, aku minta izin pulang lebih awal ya, mau antar anakku ke dokter. Udah 2 hari ini demam." ucap Lia
"iya Lia, silakan. Nanti saya akan minta bantuan Mega untuk selesaikan pekerjaan disini. Kamu tenang aja ya." ucap Erika sambil tersenyum
Erika kini menjadi supervisor di bagian housekeeping sebuah hotel di Bali. Tapi, kadangkala ia turun tangan dalam menyelesaikan segala pekerjaan anak buahnya, apalagi jika ada yang punya kepentingan seperti saat ini.
Ia tak pernah hitung-hitungan dengan team-nya. Karena ia tahu bagaimana ada di posisi mereka. Ia pernah mengalami saat Nicholas demam dan ia harus buru-buru pulang, dan teman-temannya membantunya.
"ika, kamu masih banyak pekerjaan?" tanya Steven
"Nggak Pak, sebentar lagi selesai. Ada apa Pak?" tanya Erika
"Kamu temenin saya makan siang ya, lagi butuh temen ni." ucap Steven meledek
__ADS_1
"Siapp, Pak." ucap Erika
Erika memang terbilang dekat dengan Steven, Manager Marketing. Sejak awal Erika bekerja, mereka cepat menjadi akrab. Diam-diam Steven menaruh hati kepada Erika, hanya saja Steven tahu, hati Erika sulit sekali untuk ditembus.
----------
"Helen, siapkan tiket untuk ke Bali Jumat ini. Saya ada pertemuan dengan Mr. Mark untuk project hotel disana." ucap Reyhan
"Baik, Pak." jawab Helen
Reyhan selalu membuat dirinya sibuk, sampai kadangkala orang-orang berpikir bahwa ia tidak pernah tidur.
Ayahnya, Suryadiningrat, sudah pasrah dengan tingkah laku anaknya. Sejak kejadian dengan Fiona waktu itu, ayahnya tak pernah memaksanya lagi untuk menikah.
Suryadiningrat sendiri sekarang lebih banyak dirumah, menikmati masa tuanya. Ia membiarkan Reyhan yang mengerjakan semua pekerjaan, baik itu urusan properti maupun urusan konstruksi.
Tak lama, pintu ruangannya diketuk.
"Permisi, Pak." ucap Riko
"Riko, nanti kamu temani saya ke Bali untuk membicarakan project hotel dengan Mr.Mark. Nanti kamu bilang sama Helen untuk masalah tiketnya ya" ucap Reyhan
"Baik, Pak. Saya permisi siapkan semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan." Riko berbalik dan melangkahkan kakinya.
Namun sebelum ia sempat membuka pintu,
__ADS_1
"ko, kamu tahu kabar tentang Erika?" tanya Reyhan
"saayaaa Pak?"
"iya, bukankah dulu kamu cukup dekat dengan Erika?" tanya Reyhan lagi
"iya Pak, memang dulu kami sempat tinggal satu rumah karena orangtua kami berteman. Tapi sejak Erika resign, saya benar-benar tidak mendengar kabarnya lagi. Bahkan orangtua saya pun tidak mengetahui keberadaan mereka." jawab Riko
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih." ucap Reyhan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Reyhan merasa dirinya sudah mulai tidak sehat dengan keadaan ini. Ia merasa tidak sanggup lagi menahan perasaannya ini.
----------
"kamu mau kemana sayang?" tanya Mila
"ke Bali. Mau ngurusin project hotel baru." ucap Riko
Mila dan Riko sudah menikah 2 tahun yang lalu. Sejak kepergian Erika, Riko mulai mendekati Mila dengan segala cara dan akhirnya ia bisa meluluhkan hati wanita itu.
"kamu mau ikut sayang?" tanya Riko sambil memeluk istrinya itu.
"memangnya boleh?" tanya Mila manja
"boleh donk, lagian aku pergi cuma berdua dengan Pak Reyhan. Nggak mungkin kan aku sekamar." ucap Riko sambil tertawa
__ADS_1
"berapa lama di Bali nya sayang?" tanya Mila sambil duduk disamping suaminya.
"tadi sih aku tanya Helen katanya sekitar 3 sampai 4 hari. Makanya ikut aku ya, mana sanggup aku 4 hari tanpa belaian istri." ucap Riko sambil mencium bibir istrinya.