
"Maa, gimana kabar lisa." tanya Erika
"lagi di ruang operasi. Tadi mau lahiran normal kata dokter tidak bisa, ketuban sudab pecah dan harus segera dikeluarkan bayinya." jawab Widya
"Aku bawa Nicho keluar sebentar ya ma." ucap Erika
Papa, Mama dan Andri menunggu proses operasi, sedangkan Erika membawa Nicho untuk ke minimarket di bawah sebentar. Erika tidak ingin Nicho melihat ketegangan mereka semua.
Erika mengajak Nicho masuk ke sebuah minimarket. Mereka mengambil beberapa makanan dan minuman. Kemudian membayar di kasir dan segera kembali ke ruang operasi.
"Gimana ma?" tanya Erika
"sudah selesai operasinya. Keduanya selamat. Mereka akan dibawa ke kamar setelah ini. Bayinya perempuan dan sangat cantik." ucap Widya
Wajah kelegaan juga terlihat pada Andri. Ia tegang sekali saat istrinya mau dioperasi. Begitu juga Papa Edo, ini kedua kali ia menunggu anaknya melahirkan. Hanya saja dulu Erika melahirkan dengan proses normal.
"Selamat ya ndri, kamu sekarang sudah jadi papa." Erika tersenyum sambil memegang tangan Andri mengucapkan selamat
"Makasih kak, aku masih nggak nyangka kalau aku udah jadi papa sekarang." ucap Andri dengan mata berkaca-kaca
'yeayyy aku punya adik sekarang." teriak Nicho kesenangan.
Mereka pun tertawa gembira bersama-sama, sambil menunggu Elisa dibawa ke ruang perawatan.
----------
Reyhan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia baru saja selesai mandi. Ia masih terbayang wajah Erika. Gadisnya kini sudah menjadi wanita cantik dan dewasa.
Hanya saja, Reyhan merasa hancur, karena ia melihat Erika bersama laki-laki lain dan seorang anak.
ia sudah menikah dan memiliki anak. Begitu cepatkah Erika melupakannya? Apakah selama ini hanya dirinya saja yang menderita karena kehilangan?
Apakah dirinya tidak begitu berarti bagi Erika? hingga dengan begitu cepatnya ia menikah. Mungkin Erika ingin membalas dendam padanya karena ia yang akan menikah, tapi itu karena dijodohkan.
Reyhan pun sudah membatalkan semua rencana pernikahan tersebut dan membongkar semua akal busuk Fiona. Kalau saja dulu Erika tidak pergi, mungkin saat ini mereka sudah hidup bersama dan memiliki sebuah keluarga yang utuh.
Reyhan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Apakah penantiannya sia-sia?
Aku harus bicara dengannya, pikir Reyhan. Setelah selama ini aku mencarinya dan menunggunya, aku harus bicara dengannya. Apakah ia tidak mencintaiku sama sekali, hingga rasa marahnya pada ayahnya bisa membuatnya meninggalkan dirinya.
Reyhan harus mencari tahu, apakah benar Erika bekerja disini, atau hanya bertemu dengan seseorang.
Reyhan masih sangat gusar, hingga ia tidak mampu berpikir. Ia lapar tapi sudah tidak sanggup makan, ia lelah tapi tak mampu memejamkan mata.
----------
"sayang..." ucap Mila
"iya." ucap Riko sambil memakai pakaian tidurnya
"aku ketemu Erika."
__ADS_1
"siapa?" Riko agak kaget mendengarnya
"Erika. Semalam waktu aku keluar, aku ketemu Erika di lobby."
"kamu sempat manggil atau ngobrol?" tanya Riko
"sempat, cuma nggak lama, soalnya dia kayak mau pergi gitu." jawab Mila
"kamu kok nggak kasih tahu aku kemarin?" tanya Riko
"Lha, aku mau kasih tahu, kamu malah ngajak tempur. Ya gagal deh aku kasih tahunya." Mila tersenyum
"Aku perlu kasih tahu Pak Reyhan nggak ya?" tanya Riko
"kenapa emangnya?"
"soalnya Pak Reyhan pernah tanya tentang Erika sebelum kita berangkat kesini."
"Mendingan kita diam aja sayang. Kita nggak tahu Erika mau orang lain tahu atau nggak. Soalnya dia juga pergi kan nggak bilang-bilang mau kemana." ucap Mila
"iya juga sih." sambil menghampiri Mila dan mulai mengajak bertempur lagi.
"istirahat dulu sayang. Besok kamu ada meeting lagi kan pagi-pagi?" Mila berusaha menghindar
"ahh sayang....aku kan pengennn..." Riko mulai bersikap manja. Sikap yang paling tidak bisa ditolak oleh Mila.
Mila pun akhirnya tersenyum mengangguk.
----------
Ia menunggu Erika disana. Ia ingin membuktikan apakah Erika benar bekerja disini. Ia tidak ingin bertanya pada pegawai hotel karena ia tak mau menimbulkan kecurigaan.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, tapi belum ada tanda-tanda Erika.
Reyhan memandangi jam di tangan kirinya. Ia ada janji dengan Mr. Mark jam 11, ia akan menunggu sebentar lagi.
Pintu lobby hotel terbuka, suara riang seorang anak memecah keheningan.
"Maaa, Om Stipen dimana ma?" tanya Nicho
"Om Steven belum datang sayang, agak siangan biasanya." jawab Erika
Reyhan mengamati mereka diam-diam, ia tidak ingin Erika mengetahui bahwa ia sedang mengamatinya.
Erika berjalan menuju area backoffice.
"Ayo Nic..." ajak Erika
"Nicho disini aja ma mainnya, Nicho mau nunggu Om Stipen."
"Ya udah, mama ke belakang sebentar ya sayang. Jangan nakal ya, jangan keluar-keluar."
__ADS_1
"bli, saya titip Nicho bentar ya. Saya mau absen ke belakang dulu." Erika meminta tolong kepada salah satu pegawai hotel.
"siap Bu Erika."
Sementara itu Reyhan mengamati Nicho yang berlarian kesana kesini sambil memainkan mobil-mobilannya.
Kemudian ia mengambil tempat duduk di dekat Reyhan karena lobby sudah mulai ramai. Ia mengeluarkan buku gambarnya dan mulai menggambar.
Reyhan melihatnya dan kagum bahwa anak seumur Nicho sudah pintar dalam menarik garis-garis.
"Wah gambarnya bagus sekali." ucap Reyhan
"iya donk, kan mama aku yang ajarin." Nicho terus menggambar
"Nama kamu siapa?" tanya Reyhan
"Nicho Om, Nicholas." Nicho berdiri dan mengangkat tangannya, mengajak Reyhan bersalaman.
"Klo Om, namanya siapa?" tanya Nicho
"Om Re...Brama. Nama Om Brama." jawab Reyhan
Nicho melanjutkan gambarnya, tapi tiba-tiba ia menghentikan goresannya, karena ada yang memanggilnya.
"Nic...Nicho..."
"Om Stipen." Nicho langsung berlari dan memeluk Steven.
"Mama mana?" tanya Steven
"Mama ke belakang katanya sebentar, tapi nggak balik-balik."
"Oya om, Nicho punya dede baru, namanya Mina." Nicho memberitahu Steven sambil melompat-lompat
"wahhh, Nicho sekarang sudah besar ya, harus bisa jaga dede Mina." Steven mengusap-usap kepala Nicho
"Yuk kita cari mama." ajak Steven
"Yuk." Nicho membereskan barang-barangnya yang berserakan diatas meja lalu memasukkannya ke dalam tas ranselnya.
"Daaaa Om Brama." Nicho tak lupa mengucapkan salam kepada Reyhan
Nicho dan Steven menghilang ke arah belakang resepsionis. Reyhan memperhatikan mereka sampai tidak terlihat, setelah itu ia bergegas pergi ke kamar dan mempersiapkan diri untuk bertemu Mr. Mark.
----------
*terima kasih buat para readers setia meskipun saya nggak sempat upload setiap hari. Mudah-mudahan ceritanya berkenan berhubung ini adalah karya pertama saya.
Saya juga belum nemu gambaran buat nampilin Reyhan dan Erika, belum ada yang sesuai, masih ada di awang-awang....hehehe
Selamat membaca ya, dan terima kasih banyak*
__ADS_1