
[handphone berrbunyi]
halo
(Erika)
maaf, ini siapa ya?
(Reyhan)
Ohh, maaf pak.
(kamu sakit?)
iya pak, agak kurang enak badan.
(udah makan?)
belum pak.
(kamu makan, minum obat, lalu istirahat. Kalau sempat, nanti sore saya kesana)
nggak usah pak. Sudah enakan kok pak.
(hmmm, ya sudah. Simpan nomor saya. Hubungi saya kalau perlu apa-apa)
baik pak, terima kasih.
(dan satu lagi, panggil saya Reyhan, nggak usah pakai pak)
tapi...
(Erika!)
baik, terima kasih sekali lagi atas perhatiannya.
(hmm..)
[Telepon terputus]
__ADS_1
Ntah mengapa, hati Erika terasa tenang setelah mendengar suara Reyhan. Tidak seperti Riko yang membuat Erika ketakutan. Kini lelaki yang dulu ia takuti dan sebal setengah mati, malah lelaki yang perhatian kepadanya.
ah rasa apa ini? tidakkk!! aku tidak boleh punya rasa padanya. Dia adalah atasan, dan kamu bukan siapa-siapa. Kamu tidak cocok dengannya.
Erika terduduk diam di atas kasurnya. Kemudian ia keluar dari kamar untuk membantu Tante Hana. Ia tidak ingin merepotkan Tante Hana dengan sakitnya.
----------
Riko sampai di kantor, langsung melesat ke bagian administrasi. Ia melihat kursi Erika kosong.
"cil, Erika mana?" tanya Riko.
"nggak masuk, sakit." jawab Cecil.
sakit? haduhhh... bodoh bener sih lo ko. Mestinya kan lo bisa jagain dia. Sakit aja kaga tau. (Riko memukul dahinya)
"Rikooo...." Laura menghampiri.
"apa? gue lagi buru-buru."
"ihh Riko, sini dulu lha, temenin aku." ucap Laura genit.
----------
Riko sampai dirumah, langsung menuju kamar Erika. Ia langsung membukanya, tapi pintunya dikunci. Lalu ia mengetuknya.
"kaa, buka ka." ucap Riko sambil mengetuk pintu
tidak terdengar suara dari dalam.
Tiba-tiba Hana, ibu Riko, menghampiri.
"jangan diganggu ko, tadi mama suruh Erika istirahat dulu. Agak demam dia."
"oiya ma. Riko cuma mau ngecek aja tadinya. Riko juga baru dikasih tau sama orang kabtor kalau ika nggak masuk."
"ya sudah, kamu mandi dulu sana." ucap Hana
"iya ma." jawab Riko
__ADS_1
Riko tahu alasan Erika mengunci pintu bukan karena ia sakit dan ingin istirahat, tapi lebih karena Erika takut Riko akan masuk ke kamarnya lagi.
-----------
[WA notification received]
(ka, kamu sakit? kok nggak masuk?)
(udah minum obat?)
(aku kuatir banget sama kamu, tolong bales wa aku)
Erika sebenarnya tidak tidur, tepatnya ia tidak bisa tidur karena sudah terlalu banyak tidur. Ia sedang duduk di atas kasurnya, berpikir.
Banyak yang harus ia pikirkan, terutama kedu orang tuanya. Hampir setiap hari Erika berkomunikasi dengan keluarganya, baik melalui telepon, ataupun chat via wa.
Erika senang keluarganya baik-baik saja. Elisa sudah melanjutkan sekolahnya disana, sebentar lagi akan menghadapi ujian. Sekarang ibunya membuka warung makan kecil-kecilan, kebetulan ibu Erika senang dan jago memasak.
Untuk masalah keuangan keluarga, Erika sebenarnya tidak perlu kuatir, hanya saja ia ingin tetap mengirimkan uang untuk keluarganya agar kedua orang tuanya tidak terlalu lelah dalam bekerja.
Erika mulai berpikir untuk mencari kost mulai besok. Ia tidak bisa numpang terus di rumah Riko. Ia akan cari kost yang murah saja, setidaknya ia memiliki tempat berteduh dan tidak diganggu oleh Riko.
[WA notification received]
(besok berangkat bareng aku ya ka. Aku janji ga macem-macem. Kemaren itu aku khilaf. Aku cemburu karena ngeliat kamu jalan sama Pak Reyhan)
(Aku ga pengen kamu deket-deket sama Pak Reyhan, meskipun Pak Reyhan itu bos kita. Atau jangan-jangan kamu suka sama Pak Reyhan ya?)
(jawab ka!!! kamu suka ya sama Pak Reyhan)
Riko tiba-tiba terbawa emosi mengingat Erika dengan Reyhan.
(maaf ka, sory sory....aku terbawa emosi. Maaf ya ka....tapi tolong jangan buat aku cemburu, aku ga bisa. Aku sayang sama kamu)
dengan memberanikan diri ....
(Kita nikah aja yuk. Aku janji aku akan jadi suami yang baik. Aku bisa jagain kamu. Keluarga kita akan bener-bener jadi keluarga)
Riko sepertinya sudah tidak mampu membendung perasaannya. Ia berusaha menjadikan Erika miliknya. Ia tidak ingin orang lain mendahuluinya.
__ADS_1
Namun, Erika sama sekali tidak membalas, membaca chat nya pun tidak. Apakah ia benar-benar tidur? Riko bertanya-tanya dalam hati.