Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 4 - PERTEMUAN DENGAN KELUARGA HERMAN


__ADS_3

Keluarga Edo Kun akhirnya tinggal sementara bersama Keluarga Herman Djaya. Keluarga Herman Djaya merupakan seorang pedagang, yaa.... mereka mempunyai toko material (bahan bangunan). Mereka memiliki seorang anak lelaki bernama Riko, berumur 22 tahun, yang baru saja menyelesaikan kuliahnya.


"kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Herman ke Edo.


"Saya salah langkah, karena keadaan sedang kurang baik, saya mencoba investasi yang ditawarkan oleh seseorang waktu itu. Apa yang ditawarkannya sangat menarik dan tidak ada terbersit sedikit pun kalau dia akan menipu." jawab Edo dengan wajah lemas.


"Sabarlah, mungkin ini ujian. Lalu bagaimana perusahaan sekarang? apa kamu jadi menjualnya?" Herman mengorek pertanyaan semakin dalam.


"Sudah dibeli oleh Pak Surya, seorang pengusaha properti. Setidaknya, karyawanku tidak perlu kehilangan pekerjaan." jawab Edo


"Surya? Suryadiningrat? pemilik perusahaan Mega Jaya Properti yang besar itu?" tanya Herman kaget.


"iya, memang ada pa?" Edo penasaran.


"Dia itu bukan orang baik. Perusahaan saudaraku pernah dihancurkan olehnya. Ia melakukan segala cara. Ntah karena apa, rasanya hatinya penuh dendam." HErman menjawab dengan nada kesal.


"sudahlah, saya tidak ingin berprasangka buruk lagi. Sekarang saya hanya ingin memikirkan bagaimana nasib keluarga saya ke depan. Mungkin saya akan pindah ke luar kota, jauh dari hiruk pikuk Jakarta."


Herman melihat sahabatnya dengan pandangan sedih. Dia pernah melihat pemandangan seperti ini, yaaa saudaranya yang waktu itu dihancurkan kehidupannya oleh Suryadiningrat, dan sekarang ia harus melihat temannya juga mengalami hal yang sama.


----------


"ah maaf" tanpa sadar Erika menabrak Riko yang sedang berjalan ke arah ruang dalam.

__ADS_1


Laki-laki berbadan tegap dengan dada bidang, berdiri di depannya.


"kamu tidak apa-apa?" tanya Riko


"ya, maaf. Nggak sengaja, saya sedang mencari mama saya."


"Tante Widya? jadi kamu anak Tante Widya? Erika?" tanya Riko


"heh...iya." Erika bingung. Dia tidak merasa kenal tapi kok ini orang main sembarangan sebut-sebut namanya.


"Wahhh udah lama banget ga ketemu, masa lupa?"


ini orang siapa si? sok kenal bener.


ehhh buset, ngaku-ngaku ganteng, dasar narsis.


"maaf Kak Riko, saya lupa." sambil tersenyum tipis


Ahh, Riko nggak tahan ngeliat senyumnya. Hatinya serasa langsung meleleh. Apalagi sekarang Erika tumbuh jadi seorang gadis yang cantik, dengan kulitnya yang putih, bibir yang tipis dan senyumnya yang menentramkan hati.


"Kak Riko lihat mama?" Riko yang masih menatap Erika, tidak menjawab.


"Kak, Kak Riko." Riko kaget dipanggil beberapa kali, sehingga ia tersandung dan terjatuh. Erika pun jadi terjatuh diatasnya.

__ADS_1


Saat itu Erika langsung mengangkat wajahnya dan melihat wajah Riko yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya. Mukanya langsung memerah. Riko memandang mata dan wajah Erika, ia merasa tak ingin bangun. Darahnya langsung berdesir, merasakan tubuh Erika ada diatasnya.


Erika yang sadar ada kesalahan dengan posisi mereka, langsung buru-buru bangun dan pergi karena malu.


Riko duduk, memandang kepergian Erika sambil tersenyum dan berharap ia bisa berduaan lagi seperti tadi.


----------


"Bro, kenapa lo? senyum-senyum sendiri aja dari tadi pagi. Baru dapet undian ya bro." tanya Angga, teman sekantor Riko


"Ah ganggu aje. Mo tahu amat lo bro." Jawab Riko masih dengan senyuman di wajahnya.


"Jangan-jangan lo lagi jatuh cintrong ya bro...." jawab Angga sambil ketawa lebar.


Riko langsung melempar gumpalan kertas ke Angga. Sementara itu, Mila memperhatikan perbincangan mereka dengan tatapan penuh tanya.


iya, Riko ga pernah senyum-senyum seperti itu, mukanya rasanya bahagia banget. Aduh, jangan-jangan....


Mila memang suka sama Riko, sejak pertama kali Riko masuk kantor konstruksi ini.


"Mila, ke ruangan saya."


wah, dipanggil bos lagi deh. Kerjaan lagi ni.

__ADS_1


__ADS_2