Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 54


__ADS_3

Di dalam pesawat, Reyhan masih memikirkan Erika. Ia tersenyum mengingat betapa cantik dan dewasanya Erika sekarang, namun dalam hatinya terbersit luka yang mendalam, merasa Erika sudah melupakannya.


Reyhan memejamkan matanya, mengingat kenangan indahnya bersama Erika. Masih jelas semua dalam ingatannya. Tak terasa setitik air mata jatuh di pipinya. Langsung ia mengusapnya, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain.


Pesawat telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Mobil jemputan Reyhan sudah tiba.


"Pak, saya permisi pulang dulu." Riko dan Mila memberi salam dan berjalan pergi.


Reyhan masuk ke dalam mobil. Mobil pun langsung berjalan menuju rumah mewah di kawasan Pondok Indah.


Di tengah jalan, handphone Reyhan berbunyi. Setelah menerima telepon, wajah Reyhan langsung berubah.


"ke Rumah Sakit XY sekarang." ucap Reyhan


Sopir langsung membawa Reyhan menuju rumah sakit XY. Reyhan berlari mendapati ibunya sedang duduk di ruang tunggu VIP.


"Ma, papa kenapa?"


"Penyakit jantung papamu kambuh. Mama takut sayang." Anne menutup mulutnya sambul menangis.


"Tenang Ma, papa nggak akan apa-apa."


Tak lama, dokter Rudi keluar. Dokter Rudi merupakan dokter keluarga Suryadiningrat.


"Pak Surya sudah tidak apa-apa. Sepertinya karena beliau sedang kelelahan dan banyak pikiran. Biarkan beliau untuk sementara beristirahat disini, biar kami bisa terus mengontrol kesehatan beliau." ucap Dokter Rudi.


"lakukan yang terbaik Dok." ucap Reyhan sambil merangkul ibunya.


----------


Dikarenakan ayahnya, Pak Suryadiningrat, sedang dirawat, maka kepemimpinan seluruh perusahaan diberikan kepada Reyhan.


Reyhan yang selama ini hanya memimpin salah satu anak perusahaan ayahnya pun harus tampil sebagai anak dari Suryadiningrat.


Inilah yang tidak diinginkan Reyhan. Jika ia menjabat sebagai CEO, ia akan mendapatkan pengawalan ketat. Kehidupannya tidak akan bebas.


----------


Hari ini hari pertama Reyhan menjabat sebagai CEO di Mega Corp. Ia diperkenalkan oleh para direksi di depan seluruh karyawan.


Semua mata memandang Reyhan dengan tatapan yang kagum. Reyhan sudah berusia 31 tahun, pribadi yang dewasa dan berwibawa.


Hanya saja orang-orang bingung karena ia belum menikah. Pria seperti Reyhan seharusnya dengan mudah mendapatkan wanita manapun yang diinginkannya.


Setelah acara perkenalan selesai, Reyhan dibawa menuju ruangannya, yang dulu merupakan ruangan ayahnya.


Reyhan tetap menginginkan Helen sebagai sekretarisny, karena ia sudab terbiasa dengan cara kerja Helen. Namun kini Reyhan memiliki Kris sebagai asisten pribadinya sekaligus supirnya.


Reyhan pun akan mendapatkan pengawalan super ketat, dikarenakan ia sudah menjadi CEO dan anak satu-satunya keluarga Suryadiningrat.

__ADS_1


----------


Erika duduk termenung, ia memikirkan pertemuannya dengan Reyhan. Sudah lama sekali pikirnya. Reyhan sudah berubah, menjadi pria dewasa.


Mungkin Reyhan juga sudah tak terlalu mempedulikannya karena tadi saat bertemu pun ia hanya diam.


apa yang kau harapkan Erika? apa kau mau Reyhan memelukmu san menciummu, melepas kerinduan denganmu? tidak, tidak...


Erika menepis semua yang ada dalam pikirannya. Ia kembali memandangi semua kertas-kertas di atas mejanya.


"ka....." Erika kaget melihat Steven ada disamping mejanya


"lha Pak, ngagetin aja, kirain siapa?"


"lagi ngelamunin apa? mikirin saya ya?"


"nggak lha pak, lagi mikirin bikin laporan bulanan nih." ucap Erika


"Nicho mana? nggak ikut lagi?" tanya Steven


"nggak. Hari ini lisa pulang dari RS jadi cuma Andri aja yang jemput. Mama ada dirumah, jadi bisa jagain Nicho." jawab Erika


"kalo gitu, ntar bisa makan siang bareng kan?" Steven membungkuk


Erika menatap Steven


apakah ini saatnya aku membuka lembaran baru dalam hidup. Melupakan semuanya, semua di masa lalu. Aku juga berhak bahagia. tapi.....


"Ya sudah, nanti saya tunggu di lobby ya." Steven meninggalkan ruangan Erika sambil melambaikan tangan.


----------


Jam makan siang sudah tiba, Steven menunggu Erika di lobby hotel.


"Pak, saya sudah siap." ucap Erika disebelahnya.


"kamu mau makan apa ka?" tanya Steven


"saya apa aja pak. Semua saya suka." sambil tertawa kecil.


Akhirnya Steven membawa Erika ke sebuah cafe tak jauh dari hotel. Mereka memesan makanan dan mengobrol sampai makanan yang mereka pesan datang.


"kapan-kapan aku ke rumah ya ka, mau jenguk lisa sama Mina. Enak banget udah punya ponakan sekarang."


"iya Pak, Nicho juga seneng banget. Mina ditoel-toel terus." ucap Erika tersenyum kecil.


"Pengen lha punya ponakan begitu, apalagi punya anak. Ada yang nyambut kalau kita pulang."


"Pak Steven punya saudara Pak?" tanya Erika

__ADS_1


"ada, tapi dia di Jakarta. Kami tinggal berdua aja. Orangnya asik ka, cuma sekarang dia kerja di perusahaan besar, jadi saya jarang ketemu."


Erika melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja.


"ka, aku mau ngomong serius sama kamu."


"kenapa ya Pak?" tanya Erika


Steven mengambil tangan Erika, sementara Erika masih agak berusaha untuk menghindar.


"ka, aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu. Aku mau kenal kamu lebih jauh. Aku serius."


Erika melihat tatapan Steven. Ia melihat mata Steven, hanya ia tak mampu berlama-lama menatapnya.


"Maaf Pak. Saya nggak bisa. Saya tahu Pak Steven sangat baik sama saya, tapi saya ...." Erika memalingkan wajahnya


"Saya tidak tahu apa masa lalu kamu ka, tapi aku yakin aku bisa bantu kamu melupakan itu semua. Beri aku kesempatan."


"Saya sudah mengubur masa lalu saya Pak dan masa depan saya adalah anak saya. Maaf pak, saya Permisi." Erika keluar dari kursi dan beranjak pergi.


Steven hanya menatap punggung Erika. Ia merasa sangat sulit menggapai Erika. Steven jadi penasaran, seperti apa laki-laki yang sepertinya masih terus berada di dalam hati Erika.


----------


Erika sudah sampai kembali di hotel. Ia langsung menuju meja kerjanya. Diatas mejanya sudah tergeletak sebuah amplop.


Erika membuka amplop tersebut dan melihat surat penugasan dalam rangka pelatihan di kantor pusat di Jakarta selama seminggu.


Telepon di mejanya berdering, Erika langsung dengan sigap mengangkatnya.


"Ya Bu, saya segera kesana."


Erika mengetuk pintu ruangan Bu Ella.


"Masuk Erika."


"Permisi Bu."


"Kamu sudah baca amplop yang saya minta Gia letakkan di meja kamu?"


"sudah bu. Saya siap berangkat bu."


"Baiklah. Pelatihan ini juga untuk mempersiapkan kamu untuk menjadi asisten pribadi saya. Saya merasa kamu sudah cukup layak untuk itu." ucap Bu Ella sambil tersenyum


"Terima kasih banyak Bu." Erika tersenyum


"Kamu akan berangkat besok. Gia sudah mempersiapkan tiket. Sedangkan hotel kamu akan tinggal langsung di hotel kita di Jakarta. Kamu boleh pulang cepat hari ini untuk mempersiapkan diri kamu."


"Baik Bu, sekali lagi terima kasih."

__ADS_1


Erika permisi dan meninggalkan ruangan Bu Ella. Ia langsung membereskan pekerjaannya.


----------


__ADS_2