
Linda sudah menunggunya, dengan sangat kuatir.
"ka, lo kemana kemaren, kok nggak ngabarin gue?" tanya Linda.
"Sory Lin, kemaren gue kecopetan, jadi semuanya hilang. Gue nggak bisa ngabarin siapa-siapa." ucap Erika berbohong.
Erika tidak mau menceritakan permasalahnnya dengan Linda. Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin membuat Linda masuk dalam permasalahannya, apalagi ini sudah menjurus ke arah pengancaman.
"ya ampun, barang lo hilang semua donk. Trus ktp atm segala gimana? dibawa juga?" tanya Linda penuh selidik.
"Iya, besok gue mesti ngurus ke bank ni, sekalian ke kantor polisi ngurua surat kehilangan. Besok paling gue izin dulu dari kantor." jawab Erika.
"Gue ampe nelpon Aldo semalem saking kuatirnya, tapi ampe sekarang lo nongol, die kaga ngabarin gue." Linda melipat tangan sambil terkesan kesal.
"Uhhh, kesel apa kangen?" Erika meledek.
"Ah payah ni. Jangan ngeledek donk." ucap Linda malu-malu.
__ADS_1
Linda menemani Erika menemui ibu kost karena Erika juga kehilangan kunci kamar kost nya saat ia diculik.
----------
Hari ini Erika sudah kembali bekerja. Kemarin dengan terpaksa ia ambil cuti, padahal baru sebulan kerja belum dapat jatah cuti, untuk memberrskan masalah KTP dan ATM nya yang hilang.
Sementara ini pun ia tidak menggunakan handphone. Kemarin ia sudah menelepon keluarganya, menggunakan handphone Linda, bahwa untuk sementara ia tidak menggunakan handphone, karena mahal kalau harus beli. Jadi, untuk sementara orang tuanya bisa menelepon ke handphone Linda dulu kalau ada sesuatu yang penting.
Erika berangkat ke kantor naik angkutan umum. Ia sudah berangkat lebih pagi, karena takut jalanan macet. Sesampai di kantor, seperti biasa ia menyapa setiap orang yang ditemuinya. Erika memang sangat ramah dan disukai banyak orang, kecuali Laura dan Mila.
"Hi!"
Erika membalikkan tubuhnya dan memberikan senyuman, "Selamat pagi, Pak."
Pintu lift pun terbuka, disana terlihat Riko. Dengan tatapan mata yang tajam serasa ingin menerkam Erika. Riko kesal dan cemburu melihat Erika berduaan dengan Reyhan.
Erika tidak terlalu banyak berbicara pada Reyhan, karena ia pun tidak ingin memberi harapan kepada Reyhan mengenai hubungan ini. Biarlah seperti ini, antara atasan dengan bawahan, tidak lebih.
__ADS_1
Reyhan juga tahu ia tidak bisa terlalu memaksa Erika, meski ia ingin menghampirinya dan memeluknya. Reyhan juga tidak mau membuat Erika tidak nyaman di kantor, apalagi di dalam lift ada cctv.
----------
Riko merasa kesal seharian, pekerjaannya semua terasa berantakan. Pikirannya hanya tertuju kepada Erika, Erika, dan Erika.
Pak Adam menghampiri divisi teknik. Riko kaget karena Erika ada di sebelah Pak Adam.
"Perkenalkan, mulai hari ini, Erika akan bertugas di bagian administrasi teknik, lebih tepatnya untuk mengerjakan sinkronisasi antara teknik dan penjualan. Saya harap kalian dapat membantunya." ucap Pak Adam
Riko tersenyum, sementara Mila melihat dengan tatapan sinis namun pasrah. Mila tahu Riko menyukai Erika, kecil harapannya untuk bisa bersama Riko, apalagi ada Laura yang jauh lebih cantik darinya. Kalau Erika nggak mau sama Riko, Laura lha pasti yang akan digandeng Riko. Jadi ia hanya mampu menatap dan berharap Riko dari jauh saja, berharap Riko bisa sekali saja melihat ke arahnya.
"Riko, Angga, Mila dan Erika, nanti setelah jam makan siang, ke ruangan saya. Ada yang ingin saya bicarakan." ucap Pak Adam.
"Baik Pak" jawab mereka serentak
-----------
__ADS_1