
Matahari sudah terbit, Erika terbangun dan melihat bahwa dirinya masih telanjang tanpa sehelai benangpun. Ia melihat ke samping, disana masih terbaring Reyhan yang tertidur dengan lelap.
Erika berpikir, ia rela melepas keperawanannya untuk Reyhan, yaa hanya untuk laki-laki ini. Mengapa? sungguhkah dirinya sudah benar-benar mencintai laki-laki ini. Erika berharap mereka bisa bersama selamanya seperti dalam cerita dongeng.
Erika bangun dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju kamar mandi. Ia agak sulit berjalan karena bagian intimnya masih terasa sakit akibat semalam. Ia berjalan perlahan-lahan.
Erika membersihkan dirinya, kemudian ia mengambil pakaiannya dan langsung menuju kost nya. Erika meninggalkan Reyhan yang masih tertidur. Ia tidak ingin ada yang tahu mengenai kejadian ini, apalagi 'calon istri' Reyhan.
----------
Erika bergegas mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi ke kantor. Ia sudah nyaris terlambat.
Ia tidak bisa nebeng Linda hari ini ke kantor karena Linda sedang libur semester, dan pergi mengunjungi keluarganya.
Seperti biasa Erika memesan ojek online, dan segera berangkat.
Erika nyaris saja terlambat, 2 menit lagi dia bisa dianggap terlambat. Erika langsung menuju meja kerjanya dan merapikan laporan yang akan ia berikan ke Pak Adam untuk meeting hari ini.
Bagian intimnya masih terasa sakit, tapi ia memaksakan gerakannya, karena ia terburu-buru. Ia bisa merasakan ada sesuatu yg perih dan nyeri disana.
Setelah selesai memberikan laporannya, Erika terduduk diam dan meletakkan kepalanya di atas meja, dialasi dengan kedua tangannya. Ia memejamkan mata sesaat. Ntah mengapa ia merasa sangat lelah.
----------
__ADS_1
"Mil, gue mo ngomong. Sory masalah kemaren itu....gue..." ucap Riko saat bertemu Mila di pantry.
"Udah ko, gue udah bilang nggak usah dibahas lagi dan lo nggak usah deket-deketin gue lagi." Mila mengarah keluar pantry sambil membawa secangkir kopi yang masih panas.
"Mil, please dengerin gue dulu." Mila berhenti sejenak tapi masih dalam posisi membelakangi Riko.
"gue kasi waktu 5 menit, sory gue ga bisa lama-lama." kata Mila sambil menyeruput kopinya.
"Mil.....lo mungkin bisa ngomong jangan ngebahas masalah itu, atau lupain aja masalah itu. Tapi....gue keinget terus." Mila hanya terdiam.
"Boleh nggak kalau kita mulai semuanya dari awal? izinin gue untuk bisa deket sama lo. Setidaknya biarkan gue bertanggungjawab atas apa yang telah gue lakukan." ucap Riko sambil memegang kursi pantry.
Mila hanya diam, ia bingung harus menjawab apa. Namun akhirnya ia angkat bicara.
Riko menarik kursi pantry dan duduk. Yaaa memang ia menyukai Erika, tapi ntah sejak kapan pikirannya selalu dipenuhi dengan Mila. Apakah ini hanya keinginan bertanggungjawab atau justru timbul benih-benih rasa suka di hatinya?
----------
[WA notification received]
(halo sweet, lagi ngapain?)
Erika tersenyum mendapatkan chat dari Reyhan. Sekarang ini Erika sangat berharap ia bisa hidup bersama dengan Reyhan.
__ADS_1
Terlepas dari ancaman kepada keluarganya, ia berharap jika ia sudah bersama Reyhan, tentu gangguan seperti itu bisa diatasi dengan mudahnya.
*lagi kerja nih.....kenapa?
(makan siang bareng yuk...)
iya.
(aku tunggu di lobby ya ntar, cu sweet) ~ditambah ikon kiss disamping tulisan tersebut*~
Erika meletakkan handphone nya sambil tersenyum.
"ka, makan siang bareng di pecel sebelah yuk." ajak Mila
"Hari ini nggak bisa kak, aku ada janji." jawab Erika
"Makan sama gue aja Mil." Mila kaget mendengar suara Riko disampingnya.
"Tuh Kak, Kak Riko mau temenin." sambil Erika tersenyum.
Mila tidak mungkin menolak Riko di hadapan Erika. Ia juga tidak ingin sampai ada orang yang tahu masalah ini selain Erika. Apalagi di divisi tidak hanya mereka.
Jam makan siang akhirnya tiba. Erika merapikan semua berkas-berkas diatas meja kerjanya, meraih dompet dan handphone nya lalu pergi menuju lift.
__ADS_1
Di lobby sudah menunggu Reyhan. Erika tersenyum melihatnya, begitu juga sebaliknya. Mereka melangkahkan kaki keluar dari gedung. Sementara sepasang mata memperhatikan mereka dengan geram.