
kami sekeluarga akan pindah ke Kota Bandung. Papa sudah mendapatkan kontrakan. Bukan karena papa ingin lari dari masalah, tapi untuk memulai hidup yang baru. Selain itu, papa tidak mau merepotkan Om Herman terus menerus dengan kehadiran keluarga kami.
Aku tahu Om Herman tidak keberatan kami menumpang dirumahnya, tapi papa bukanlah tipikal orang yang betah berlama-lama berada di rumah orang lain, apalagi merepotkan dan mengganggu privasi keluarga mereka.
Aku sangat senang kami akan pindah ke Bandung. Jujur, justru kurasa akulah yang mungkin ingin lari dan melupakan semua masalah pelik ini. Selain itu, aku mulai risih dengan pandangan Riko terhadapku. Kadang ia tidak henti-hentinya melirik dan menatap wajahku saat keluarga kami berkumpul bersama.
Kulihat malah lisa yang sangat mengagumi Riko. Ia senang duduk di samping Riko dan bergelayut manja. Ah, kuharap kami segera pergi dari sini.
"ka, kuliah kamu gimana? masa mau ditinggal?" pertanyaan papa membuat aku terbangun dari lamunanku.
"ika sementara nggak kuliah dulu pa." Papa tersontak kaget.
"apa?! kenapa kamu nggak kuliah? papa nggak mau kamu berhenti tengah jalan seperti itu."
__ADS_1
Papa sepertinya sangat marah padaku karena mengambil keputusan sendiri untuk tidak kuliah dulu.
"ika cuma cuti kok pa." aku berusaha meredam. "Nanti kalau situasi udah kondusif, baru ika lanjutin lagi. Lagipula kita harus banyak berhemat pa sementara ini. Biaya kuliah ika besar, lebih baik untuk lisa saja. Minimal lisa harus lulus sma dulu."
Papa diam, dan kurasa papa menyimpanq kesedihan, karena ia merasa gagal, tidak mampu menyekolahkan anaknya sampai setinggi-tingginya. Aku melihat ada raut kekecewaan di wajahnya. Wajah yang sudah tidak muda lagi, dan aku melihat beberapa hari belakangan ini papaku terlihat semakin tua karena menghadapi semua masalah ini.
Rasanya aku ingin kembali ke masa lalu, mengingatkan papa bahwa investasi yang papa ambil itu tidak akan menghasilkan (tapi nggak mungkin juga balik kan.....)
"ika mau coba cari kerja dulu pa. Kerja apa aja, yang penting kita sekeluarga bisa hidup lebih baik."
"mau coba ngelamar di kantorku nggak? kebetulan lagi ada lowongan tuh, bagian administrasi. Cuma nggak tau syarat-syaratnya apa." ucap Riko memecah pembicaraan.
haduhhh, masa gue disuruh sekantor sama dia (itu juga kalo gue diterima ya), sekarang aja pengen ngejauh karena rasanya risih diliatin mulu. Tapi gue butuh kerjaan, apa aja lha.
__ADS_1
Apa kuharus menutup ego rapat-rapat demi keluarga? demi papa, demi mama. Ah, rasanya pengorbananku pun tidak akan seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan mereka selama ini.
"Pa, Ma, boleh ika coba?" tanyaku
kulihat Riko senyum-senyum....bleh ni orang, jangan-jangan dia cari kesempatan di masalah gue.
"terserah kamu aja sayang, mama tahu kamu pasti akan melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri. Papa dan mama tidak akan melarangmu. Kamu sudah dewasa, Papa dan Mama percaya sama kamu."
Betapa hati ini berbunga-bunga dan tenang rasanya mendengar mama berbicara seperti tadi. Tiba-tiba aku merasa sangat dipercaya dan aku berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan mereka.
"Kalau begitu, biarlah sementara Erika tinggal bersama kami disini. Setidaknya kalian tidak perlu kuatir." Om Herman yang sedari tadi hanya mendengarkan kami, akhirnya ikut bicara.
"Baiklah. Saya titipkan Erika sementara padamu man. Besok aku, Widya, dan lisa akan berangkat ke Bandung. Kami sudah mendapatkan rumah kontrakan dan Elisa pun sudah kami pindahkan ke cabang sekolah disana."
__ADS_1
"Besok pagi, kamu ikut ke kantor ya ka. Bawa dokumen-dokumen yang kamu punya. Butuhnya apa nanti gampang." Riko menatapku sembari tersenyum.
kenapa sih dia selalu senyum-senyum gitu, bikin jantung mulai berdebar-debar. (risih apa berdebar??)