
hadehhh...kenapa mesti ketemu dia lagi sih. Mana dia atasan aku. Tahann...tahannn....Erika, sabarrr....sabar....
"maaf Pak. Ini laporan penjualan yang Bapak minta. Saya permisi." Erika berbalik badan untuk meninggalkan ruangan Reyhan, tubuhnya sudah mulai gemetar.
"kenapa Erika? mau cepat-cepat keluar dari sini?" ucap Reyhan datar
Erika hanya terdiam, tidak berani banyak bicara. Takut? ya ia takut, tapi mengapa?
[FLASHBACK ON]
Hari itu hari pertama Erika kuliah. Ia berjalan dengan senyumnya. Ia memang harus melewati masa perkenalan kampus a.k.a. ospek. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya, karena ia yakin, masa perkenalan kampus adalah masa paling oke karena ia bisa kenalan sama banyak teman-teman baru.
Tiba-tiba....BUKKK!!! Erika menabrak seseorang. Ya dialah Brama, ketua geng mahasiswa tingkat atas yang belum lulus-lulus.
"woii, jalan liat-liat donk, nabrak orang sembarangan."
"maaf kak." ucap Erika sambil menunduk
"gue ga pernah liat lo disini. Anak mane lo?" tanya Brama sambil memegang dagu Erika dan mendongakkannya ke atas.
"saaa....yaaa....kuliah fakultas teknik kak, di jurusan arsitektur." jawab Erika
"gue anak teknik juga disini, tapi gue ga pernah liat lo."
"saya baru masuk kak." jawab Erika perlahan
__ADS_1
"Oooo anak baruuuu ya...." seraya mengejek
Erika masih tertunduk, ia tidak berani melihat ataupun menatap Brama.
"tunggu tanggal mainnya." Brama meninggalkan Erika sambil tersenyum sinis.
----------
Acara masa perkenalan kampus diadakan selama 1 minggu. Mahasiswa-mahasiswi baru diberikan berbagai macam tugas yang kadang-kadang nyeleneh, sampai pusing dibuatnya.
Erika pun lelah dengan segala tugas yang diberikan, apalagi ia sering dikerjain sama geng mahasiswa abadi, begitu teman-teman seangkatan menyebutnya. Tentu saja, itu atas permintaan Brama.
Suatu kali, mahasiswa baru mendapat tugas untuk membuat denah kampus fakultas teknik. Merupakan tugas kelompok, Erika dan dua orang anggota kelompok yang lain kebagian mengerjakan tugas tersebut, sedangkan anggota kelompok yang lain mengerjakan tugas yang lain lagi.
Mereka bertiga pergi ke kampus malam-malam, berharap bisa segera menyelesaikan tugas tersebut jika mereka melihat real lokasi.
"udah beres nih draft nya, tinggal dirapihin aja nanti." jawab teman Erika
"ka, lo yang ngerapihin ya, soalnya g belom selesai ngerjain hukuman yang hari ini." ucap teman Erika yang satu lagi.
"ya udah, gue rapihin." jawab Erika, meski sebenarnya tubuhnya sudah sangat letih sejak pagi.
Akhirnya Erika merapikan gambar tersebut sampai-sampai ia tidak tidur. Tubuhnya semakin letih dan rasanya ia tidak sanggup berangkat ke kampus. Orang tuanya sudah melarangnya untuk pergi, biarlah nanti mereka yang akan berbicara dengan pihak universitas.
Erika tidak mau mengecewakan teman sekelompoknya. Apalagi mereka bisa kena hukuman karena tugas kelompok ada di tangan Erika. Akhirnya Erika berangkat diantar supir karena tidak mungkin ia berangkat naik angkutan umum.
__ADS_1
----------
"oiii anak baru, baru dateng lo." ucap Brama sesaat Erika melewatinya.
Erika yang tidak sadar Brama dan teman-temannya ada disana, kepalanya pusing karena belum tidur semalaman, menoleh sambil menunduk.
"iya kak." ucap Erika pelan.
Sambil menarik kertas gambar yang dibawa Erika, "wuihh, udah jadi nih!" Brama saling lempar kertas bersama teman-temannya.
Erika yang ketakutan kalau tugasnya rusak karena diambil oleh Brama, berusaha untuk merebut kertas tersebut. Erika tahu Brama bisa melakukan apapun, tanpa merasa bersalah.
Brama sengaja mempermainkan Erika, ntah apa yang diinginkannya. Tiba-tiba SRETTT!! kertas gambar tersebut dirobek oleh Brama, diikuti dengan tawa teman-temannya. Kertas tersebut dirobek-robek oleh Brama dan dilemparkan ke arah Erika yang sudah terduduk lesu.
tugas kelompokku, udah semalaman dikerjakan, belum tidur pula. Apa maunya mereka ini? apa salahku.
Erika mengumpulkan robekan-robekan kertas itu lalu segera pergi dari sana, tanpa berkata apapun. Ia hanya menangis karena ia tahu, ini akan menimbulkan masalah bagi teman sekelompoknya.
Brama melihat punggung Erika saat gadis itu pergi. Ia sebenarnya tidak tega juga melihat gadis itu menangis, tapi bagaimana nanti image dirinya di hadapan teman-temannya.
Sejak saat itu Erika tidak pernah mau bertemu dengan Brama, dan jika berpapasan di jalan, ia akan berusaha menghindarinya. Brama pun tidak berusaha mengganggunya lagi karena ia tidak mau teman-temannya mengganggu gadis itu. Brama menganggap masa perkenalan (ospek) sudah selesai.
Namun, diam-diam Brama selalu memperhatikan Erika. Brama pun fokus menyelesaikan kuliahnya, karena ayahnya ingin ia segera membantunya di perusahaan.
Mereka pun tidak pernah bertemu lagi sejak hari wisuda Brama.
__ADS_1
[FLASHBACK OFF]