Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 59


__ADS_3

Pesawat telah sampai di Bandara Ngurah Rai. Reyhan ditemani Kris, asisten pribadinya, berjalan menuju mobil jemput mereka.


"Malam Tuan Reyhan." Ucap Rudi, sopir mobil tersebut sambil membukakan pintu


Mobil tersebut langsung membawa Reyhan dan Kris ke RB hotel Kuta.


----------


tookkk...tokkk...


"permisi Bu, Tuan saya ingin bertemu."


Reyhan menghampiri Widya dan memberi salam padanya.


"Silakan duduk." Widya mempersilahkan Reyhan untuk duduk sementara Kris tetap berdiri di sebelahnya.


"Omaaa...." suara anak kecil memecah keheningan.


Nicho berlari menghampiri neneknya sambil membawa sebuah pesawat terbang.


"Om, om yang di hotel mama kan?" tanya Nicho polos.


Reyhan memandang anak kecil itu dan mengusap kepalanya.


"perkenalkan tante, nama saya Reyhan." seketika itu Widya kaget. Nama yang sama yang pernah diceritakan oleh Erika. Dia adalah ayah Nicho.


"Iiyaaa....ada keperluan apa?" Widya agak sedikit terbata.


"Boleh saya bertemu Pak Edo, ada yang ingin saya bicarakan."


Widya pergi memanggil suaminya.


"Om, mau main pesawat?" tanya Nicho.


"iya, nanti om temani main ya."


Nicho tersenyum, kemudian minta dipangku oleh Reyhan.


Ntah apa yang merasukinya, ia tidak bisa menolak permintaan anak kecil itu.


Edo keluar dari kamar. Ia memperhatikan Reyhan, kemudian duduk berhadapan dengan Reyhan.


"Apa yang mau kamu bicarakan?"


Widya datang membawakan minuman untuk mereka.


"Saya akan mengembalikan semua perusahaan om yang telah diambil oleh papa."


Edo yang mendengarnya tersenyum.


"Sudahlah nak, om sudah tua. Lagipula om rasa itu juga karena kesalahan om yang tidak hati-hati dalam berbisnis."


"Tapi om, saya akan tetap mengembalikannya."


"kenapa kamu memaksa? om sudah senang hidup seperti ini. Berkumpul bersama keluarga dan bersama cucu-cucu."


"saya....saya perlu permintaan maaf dari Erika om." Reyhan menatap ke arah Edo


Edo tertawa kecil.


"Kalau mau minta maaf, pergilah cari Erika. Dia di Jakarta sekarang."


"saya sudah bertemu dengannya dan meminta maaf padanya, tapi sepertinya dia masih marah karena Papa saya sudah menghancurkan kehidupan keluarga Om. Jadi biarkan saya mengembalikan semua apa yang memang menjadi milik om."


nih si bos tumben ngomongnya panjang bener. Biasa ngomong seprintil doank, malah lebih banyak diemnya. -Kris-


Edo tidak mampu berkata apa-apa lagi. Laki-laki di hadapannya ini sangat keras kepala, sama seperti Erika.


Edo juga tahu kalau Reyhan adalah ayah dari Nicholas, cucu pertamanya. Ia melihat begitu dekatnya Nicho bermain dengan Reyhan. Ia tidak ingin memisahkan ayah dari anaknya. Ia melihat istrinya dan berjalan kembali ke kamar.


"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Reyhan

__ADS_1


"Ommm, katanya mau main sama Nicho."


"oiya om lupa. Yuk kita main sebentar." Reyhan menemani Nicho bermain.


yaelah bos, punya anak aja belom, udah nemenin anak orang maen.


"Tante permisi ke belakang sebentar ya."


Reyhan menganggukan kepala.


"Nicho mau main sama mama. Mama lama pulangnya."


"kan Nicho bisa main sama papa Nicho."


"papa Nicho pergi. Kata mama, papa Nicho lagi kerja, harus pergi jauh."


"ya sudah, main sama om ya. Besok mau main sama om lagi?" tanya Reyhan


"mau om. Nanti Nicho bilang oma."


"Kalau begitu sekarang Om pulang dulu ya. Besok om kesini lagi."


Nicho sangat senang, ia tertawa kemudian memeluk Reyhan.


Widya yang melihatnya terharu, setitik air mata keluar.


"permisi tante, saya pulang dulu. Titip salam buat om dan saya minta izin besok bawa Nicho jalan-jalan. Saya sudah janji."


Widya mengangguk.


----------


Keesokan harinya, Reyhan datang untuk menjemput Nicho.


"Ommm, Nicho sudah siappp."


"Saya pinjam Nicho sebentar ya Tan." Widya mengangguk


"iya oma. Ayo om." Nicho menggandeng tangan Reyhan.


Mereka berangkat menuju Bali Bird Park, melihat berbagai macam burung. Nicho sangat senang sekali.


"Mama belum pernah ajak Nicho kesini."


"Mungkin mama tunggu Nicho lebih besar." ucap Reyhan


"Tapi Nicho sudah besar, Nicho sudah tidak ompol lagi."


"Memang Nicho umur berapa sekarang?" tanya Reyhan


"empat." sambil menunjukkan jari-jarinya.


Seketika Reyhan terdiam,


apa mungkin? aku harus menanyakan ini pada Tante Widya.


Nicho kelihatan sudah sangat lelah. Mereka sudah makan siang dan sudah bermain. Reyhan akhirnya menggendongnya, sementara Nicho tidur di dalam pelukannya.


Reyhan memandangi Nicho, semakin lama ia semakin yakin. Mobil akhirnya berhenti di depan kediaman Widya.


"Kris, kamu disini saja."


"Baik, Pak."


Reyhan menggendong Nicho yang tertidur pulas. Widya datang menyambut mereka dan mengambil Nicho dari Reyhan.


"Boleh saya menanyakan sesuatu?" ucap Reyhan


Widya merasa ada Reyhan sudah mengetahuinya, tak mungkin ia menutupinya dan ia juga tidak mau berbohong.


"ya, ada apa nak Rey?"

__ADS_1


"Siapa suami Erika tan?"


"duduklah. Seharusnya kamu menanyakan itu pada Erika, bukan tante."


"Apa Nicho....anak Rey?" Reyhan berkata sedikit ragu.


Widya melihat Reyhan, melihat matanya. Widya melihat ada ketulusan disana. Ia pun menganggukan kepala.


"kenapa Erika nggak pernah kasih tau Rey?" Reyhan menundukkan kepalanya sambil kedua tangannya menutup wajahnya.


"maafkan tante Rey. Tante sudah pernah membujuk Erika.....


[FLASHBACK ON]


"Erika mau cerita ma. Sebaiknya mama tahu dari mulut Erika, bukan dari orang lain."


Erika saat itu sudah memasuki usia kehamilan 3 bulan.


"Maafin ika ya ma. Ika cuma mau kasih tahu mama, siapa ayah dari anak yang ika kandung."


"katakanlah sayang, mama mendengarkan." sambil mengusap rambut Erika


"Reyhan, anak dari pengusaha Suryadiningrat yang telah menghancurkan papa, keluarga kita." Erika menahan amarahnya.


"tenang sayang. Kamu tidak mau memberitahunya tentang kehamilanmu?"


"nggak, dia pasti sudah menikah saat ini. Papanya menjodohkannya dengan wanita yang sederajat dengan mereka. Lagipula Erika takut, jika mereka tahu, mereka akan mengambil anak ini dari tangan Erika. Tidak ma, itu tidak boleh terjadi." Erika menangis.


"jadi..."


"jadi sebaiknya ika diam saja. Lagipula lebih baik begini. Hidup kita jauh lebih tenang, tak akan ada yang mengganggu."


Widya memeluk anaknya yang menangis, mengusap punggungnya, memberinya kekuatan.


[FLASHBACK OFF]


"sekarang Erika lebih ceria, jauh berbeda dibanding dulu saat baru pindah kesini. Ia sering melamun dan menangis."


Reyhan yang mendengarnya merasa bersalah. Mengapa dulu ia tidak mencari sampai kesini, malah pergi ke Australia, melarikan diri dari kehampaan yang mendera hatinya.


"Rey masih boleh ketemu Nicho kan tan?" tanya Reyhan


"tentu saja. Tante lihat Nicho mudah sekali akrab denganmu, berbeda saat dia bertemu orang lain yang baru dikenalnya."


"Baiklah tante. Terima kasih. Salam buat om." Reyhan menganggukan kepala


Tiba-tiba terdengar suara dari kamar, Nicho terbangun


"Omm, om mau kemana?"


"Om Rey pulang dulu sayang. Om Rey mau istirahat, pasti Om Rey cape temenin Nicho tadi." ucap Widya


"Nicho mau sama Om. Om disini aja."


Reyhan merendahkan tubuhnya, memeluk Nicho, " Nanti om kesini lagi ya, Nicho temani oma dan opa dulu." ucap Reyhan membujuk


Reyhan terus memeluk Nicho, seperti tak ingin melepaskannya. Lalu Reyhan mencium kedua pipi Nicho.


"Om pulang dulu ya. Ayo toss dulu sini. Kalau pintar, nanti om belikan mainan."


Nicho membalas toss Reyhan sambil.melompat-lompat kegirangan.


Sekali lagi Reyhan berpamitan dengan Widya.


----------


**halo readers, makasih ya udah setia ngebaca karya perdanaku ini.


Mohon maaf kalau ada kalimat-kalimat yang sukar dimengerti, maklum ini baru karya pertama.


Author boleh minta like, comment sama vote juga ya. Biar lebih semangat nulis tiap hari.

__ADS_1


Luv u all 😘**


__ADS_2