
besok aku akan ke kantor Riko, mudah-mudahan aku bisa segera mendapatkan pekerjaan. Memang baru lulus sma, tapi aku yakin aku bisa.
Erika duduk termenung di depan jendela kamar yang ditempatinya bersama adiknya Elisa. Elisa sudah tidur dari tadi setelah pembicaraan selesai.
Lingerie cantik membalut tubuh putih Erika, membuatnya semakin cantik dan sexy. Erika memang suka memakai lingerie ketika tidur, membuatnya merasa nyaman dan serasa menyatu dengan kasur saat tidur.
----------
"ika, papa, mama, dan lisa berangkat dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik. Kalau misalkan tidak diterima di kantor Riko, segeralah menyusul kami ke Bandung." ucap mama
"iya ika, langsung pulang ke Bandung ya. Jangan merepotkan Om Herman terlalu lama, papa nggak enak." ujar papa seraya memegang pundakku.
"tenang aja Om, Riko jamin pasti Erika diterima. Riko bantu kasih referensi nanti." Riko menimpali
ini orang pede bener, serasa yang punya kantor. Ahh, tapi mudah-mudahan aku keterima. Pelan-pelan nanti aku akan cari kost kalau sudah punya penghasilan tetap, jadi nggak ngerepotin Om Herman lagi, dan gue bisa nggak deket sama makhluk satu ini (sambil melirik Riko, yang ternyata sedang memperhatikannya).
----------
wuihhh kantor Riko besar juga.....mudah-mudahan keterima....
"ayo, aku antar ke bagian HRD." Tiba-tiba Riko menarik tanganku. Sentuhannya lembut, tapi tidak mengurangi rasa risih itu, jadi langsung kutarik tanganku dan berjalan mengikutinya.
Kami berjalan memasuki lobby kantor yang besar. Menaiki lift menuju lantai 12, ruangan HRD. Riko masuk ke salah satu ruangan, kemudian keluar memanggilku.
__ADS_1
"siniii, tuh masuk gih. Lancar ya!" sambil mengusap rambut di kepalaku.
kalau saja Riko kakakku, mungkin lebih baik. Jadi, ga perlu perasaan risih begini kalau diliatin atau disentuh.
Erika masuk ke ruangan HRD dengan perasaan cemas, grogi, ampe gemeteran kayaknya. Maklum, ini kan pertama kali dia interview. Cukup lama Erika di ruangan HRD, sekitar 2 jam, karena ia harus menjalani beberapa test.
Riko yang sedari tadi duduk menghadap meja kerjanya, merasa harap-harap cemas, maklum dia sangat amat berharap Erika bisa kerja bersamanya, jadi kan dia bisa terus sama-sama.....
"woi bro, bengong aja lo dari tadi. Itu kabel mouse jangan digigitin, ntar lo saingan sama tikus beneran." Angga tertawa mengejek.
Riko sendiri baru sadar kalau dari tadi dia memuntir-muntir kabel mouse sambil meletakkannya di giginya yang putih, rapi berderet.
[WA notification received]
(kak Riko, aku diterima!!)
nggak pake lama, Riko langsung membalas
Wahhh, congrats! kamu dimana sekarang?
(*aku lagi turun lift, mau langsung pulang)
Eh tunggu dulu di sofa lobby ya, kita makan siang bareng.
__ADS_1
(aku langsung pulang aja kak.)
Jangan dulu, kamu tunggu ya di lobby, 15 menit lagi aku kesana.
(iya kak*)
Riko pun tersenyum lebar sambil membereskan mejanya dan melihat jam di tangannya.
"Bro, g cabut duluan ya."
"kemana lo bro, nggak makan bareng?"
"nggak bro, gue ada janji. Lo bareng Siska aja tuh" Riko berlari menuju lift. Ninggalin Angga yang penasaran, sambil ngelirik Siska yang dari tadi senyum-senyum dengar namanya disebut.
----------
aku pengen pulang sebenernya, tapi nggak enak sama Kak Riko. Ya setidaknya ini ungkapan terima kasihku padanya udah bantuin cari kerja. Aku juga nggak mau Kak Riko mikir macam-macam.
aku melihat Kak Riko keluar dari lift, berlari menuju ke arahku. Dengan badannya yang tinggi dan tegap itu, ditambah senyumnya, pasti banyak wanita yang akan suka padanya, tapi aku....
"yuk ka...." Riko menyambar tanganku dan menggenggamnya erat.
ada rasa yang timbul dalam hatiku, tapi langsung kutepis. Lalu berjalan mengikutinya
__ADS_1
Riko sendiri sangat senang ia bisa memegang tangan Erika dan mengajaknya makan siang. Ia berharap ini awal yang baik.