Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 24 - ANCAMAN SURYADININGRAT


__ADS_3

Erika pulang diantar oleh Reyhan. Reyhan hampir mengantarnya ke rumah Riko, sebelum akhirnya Erika memberitahu kalau ia sudah tidak tinggal di rumah Riko.


Erika juga berterima kasih karena sebelumnya Reyhan sudah menyelamatkannya saat berada di jalan. Darimana Reyhan tahu ia di jalan saat itu, dia sudah tidak ingin memikirkannya. Yang penting saat ini ia sudah selamat.


Erika sesekali melihat ke arah Reyhan yang sedang menyetir, mungkin ia akan bahagia bersama Reyhan. Namun, kebahagiaannya akan ditukar dengan keluarganya.


Erika melihat ke arah lain, memikirkan keluarganya, perasaannya, permasalahan hidupnya. Rasanya dada ini sesak karena begitu banyak yang datang.


Reyhan tiba-tiba memegang tangannya. Tangan itu seperti berkata tenanglah, aku ada disini.


ya Tuhan, betapa tangan ini hangat, lembut, dan sekaligus menguatkan aku. Laki-laki yang dulu kubenci karena sering menggangguku, sekarang berada disampingku menyelamatkan hidupku dan menguatkan aku. Apakah ini takdir? apakah ini cinta yang akan kau berikan?


Erika sampai di depan rumah kostnya. Ia melepas seatbelt dan membuka pintu. Saat hendak keluar, Reyhan menarik tangannya, dan mengecup keningnya, hmm....lagi-lagi membuat hatinya terasa hangat.


"istirahatlah. I love you." ucap Reyhan


Erika hanya memberikan seulas senyuman, karena ia tidak tahu apakah ia bisa membalas cinta Reyhan dalam keadaan seperti ini.


----------


"Fi, Om sudah persiapkan acara lamaran kamu dengan Reyhan." ucap Surya.

__ADS_1


"Iya Om, Mommy and Daddy juga udah perjalanan pulang dari Jepang." ucap Fiona.


"Nanti Om akan bicara lagi dengan Reyhan. Om pastikan ia akan menikah sama kamu." ucap Surya tegas.


"Fiona percaya sama Om. Reyhan kemana Om? kok nggak keliatan." tanya Fiona


"Dari kemarin belum pulang dia, habis bertengkar sama Om karena masalah ini. Trus dia pergi. Tapi kamu tenang saja, dia tidak akan membantah Om." Surya mengepalkan tangannya.


Fiona tersenyum karena keinginannya untuk menikah dengan Reyhan akan segera tercapai.


Tiba-tiba pintu terbuka. Reyhan muncul dari balik pintu. Ia melihat Ayahnya dan Fiona ada disana, ia berjalan meninggalkan mereka.


"Rey!!" teriak Surya.


"Darimana kamu? Fiona ada disini, kamu temani dia." ucap Surya.


"Ah Rey cape Pa, mau tidur. Suruh pulang aja sana." ucap Reyhan sambil melangkah pergi.


"Rey, kamuuu!!" Surya mulai marah.


"sudah, Om. Nggak apa-apa kok. Nanti lama-lama Rey pasti bisa ngerti. Yang penting Om jaga kesehatan." ucap Fiona

__ADS_1


Mudah-mudahan gue bisa cepet nikah sama Rey, trus si tua bangka ini mati. Jadi semua hartanya bisa jadi milik gue.


"Terima kasih Fiona. Om memang nggak salah milih kamu jadi menantu Om." Surya tersenyum.


----------


Reyhan merebahkan diri di kasurnya. Dia masih merasa sangat bahagia bisa bersama-sama dengan Erika, meski hanya satu malam saja.


Dia terus terbayang-bayang Erika, sampai ia senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


"Rey!!! Papa sudah mempersiapkan acara lamaran kamu dengan Fiona minggu depan. Sebaiknya kamu mempersiapkan diri." ucap Surya.


"Rey nggak mau, Pa. Rey punya pilihan sendiri, lagian udah nggak zamannya lagi perjodohan macam begini." jawab Reyhan.


"Papa nggak mau tahu. Pilihan Papa jatuh pada Fiona. Dia gadis yang baik. Orang tuanya jelas bibit bebet bobotnya. Papa nggak mau punya menantu orang sembarangan." Surya menatap Reyhan dengan tajam.


"Tapi Rey tetap tidak mau, Pa. Rey nggak mencintai Fiona."


"Cinta bisa datang dengan sendirinya nanti. Yang penting kamu harus secepatnya menikah dengan Fiona. Kalau kamu menolak, kamu tidak akan mendapatkan sepeserpun harta Papa dan kamu harus pergi dari sini, jangan harap kamu bisa bertemu lagi dengan mamamu." ucap Surya mengancam.


Oohh tidakkk!!! Reyhan tidak bisa dipisahkan dari ibunya. Hanya ibunya yang mengerti perasaannya. Lagipula Reyhan belum merasa membahagiakan ibunya.

__ADS_1


Reyhan diam dan membalikkan tubuhnya, menghadap ke jendela kamarnya. Ayahnya meninggalkannya sendiri.


__ADS_2