Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 40 - BERITA PERNIKAHAN


__ADS_3

"Papa sudah memajukan tanggal pernikahan kamu dengan Fiona. Pernikahan akan dilangsungkan satu bulan lagi. Jangan membantah." Ucap Surya tegas


"Pa, tapi Rey nggak mencintai Fiona."


"Kamu udah berbuat seperti itu, kamu harus tanggung jawab. Mau taruh dimana muka papa atas perbuatan kamu itu." Surya menyilangkan tangannya.


"Tapi Rey bener-bener nggak ingat sama sekali kejadian itu, Pa. Rey pasti dijebak Pa."


"Jangan ngomong sembarangan kamu. Wanita seperti Fiona tidak akan melakukan itu. Bukan dia yang mau sama kamu, Papa justru yang menjodohkan dia sama kamu."


Reyhan sudah mulai putus asa bertengkar dengan ayahnya, karena ia tidak pernah menang.


----------


Berita mengenai pernikahan Reyhan yang dipercepat langsung tersebar ke seluruh penjuru kantor.


Hampir seluruh karyawan membicarakan masalah ini. Mereka belum tahu penyebab dari dipercepatnya pernikahan tersebut.


Berita tersebut juga mampir ke divisi teknik, dan menjadi perbincangan.


"ka, kamu tahu kabar pernikahan Pak Reyhan?" tanya Mila.


Sejak kepulangan dari Batam, Mila memang lebih dekat dengan Erika. Mungkin karena Erika tahu permasalahan yang dihadapi Mila dan Mila merasa lebih mudah untuk bercerita dan berbagi dengan Erika.


"Ohh udah. Pak Reyhan mau menikah 3 bulan lagi kan." jawab Erika polos. Erika memang jarang berkumpul untuk bergosip, ia lebih fokus pada segala pekerjaan yang dimilikinya.


"ishhh, kata siapa? Nikahnya sebulan lagi tau." ucap Mila


"Dipercepat ya? kenapa?" Erika mulai bertanya-tanya. Sebenarnya ia tak ingin ikut campur, ia hanya ingin Mila tidak merasa dia tidak mendengarkan.

__ADS_1


"Nah itu yang kurang tahu. Makanya nih, karyawan sini pada lagi cari tahu. Kamu nggak cari tahu juga ka?" tanya Mila


"Nggak lha, nggak ada hubungannya sama aku soalnya." jawab Erika sambil terus mengerjakan laporan-laporannya.


----------


[WA notification received]


(*ka, ntar pulang bareng ya. Ada yang mau aku omongin.)


Maaf, Pak. Hari ini kerjaan saya lahi banyak. Pak Reyhan bisa pulang duluan.


(kamu kenapa ka? kita udah lama nggak pulang bareng)


Nggak apa-apa kok. Soalnya besok ada laporan yang harus diserahin ke Pak Adam pagi-pagi*.


Erika menyelesaikan semua laporan yang harus diserahkan ke Pak Adam besok pagi karena mau dipakai untuk meeting.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ia membereskan mejanya, mengambil tasnya dan berjalan menuju lift.


Ketika sampai di lobby, ia tidak sadar kalau Reyhan menunggunya di sofa lobby.


"ka, udah selesai?" tanya Reyhan tiba-tiba


Erika yang kaget, tanpa sadar membalikkan tubuhnya ke arah suara tersebut, sehingga wajah Erika dan Reyhan bertemu. Dengan cepat Reyhan langsung memberi kecupan kilat di bibirnya.


"Maaf, Pak. Sebaiknya anda tidak melakukan hal seperti itu. Permisi saya mau pulang." ucap Erika sembari melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


"kaaa, aku mau ngomong sesuatu. Tolong dengarkan aku dulu." ucap Reyhan memegang tangan Erika.

__ADS_1


Sambil berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Reyhan, Erika berkata, "Maaf, Pak. Sebaiknya Pak Reyhan juga tidak menjelaskan apa-apa, karena saya rasa tidak ada hubungan dengan saya. Jika memang ingin membicarakan masalah kantor, besok saya akan siap, tapi sekarang sudah lewat jam kantor."


"Erika!" dengan setengah berteriak Reyhan berusaha menghentika perkataan Erika. Lalu langsung menarik tangan Erika dan membawanya ke arah parkiran mobil.


Erika cukup kaget. Ia tidak pernah melihat Reyhan semarah itu belakangan ini. Dengan terpaksa Erika mengikuti tangan yang membawanya.


Mereka masuk ke dalam mobil. Reyhan menyalakan mobil dan sempat terdiam beberapa saat, sementara Erika berusaha mengalihkan pandangan ke arah jendela.


"ka, aku ingin ngomong sama kamu. Tolong sebentar dengarkan aku. Ini masalah pernikahan aku." ucap Reyhan


"Maaf, Pak. Itu tidak ada hubungannya dengan saya, sebaiknya Pak Reyhan tidak membicarakannya dengan saya."


Reyhan langsung menarik tangan Erika dan mendaratkan bibirnya di bibir Erika, melumatnya perlahan. Sementara Erika tidak membalasnya.


"Itu hukuman karena kamu memanggil saya lagi dengan sebutan pak."


Wajah Erika memerah, hanya saja dia berusaha menyembunyikan hal itu.


"Aku tidak ingin menikah, ka. Apalagi dengan paksaan seperti ini." Ntah mengapa setitik air mata Reyhan terjatuh di pipinya.


Reyhan berbicara sambil menyetir. Ia tidak mengarahkan mobil ke arah kost Erika. Dia menyetir ntah kemana, seperti membiarkan mobil itu membawanya.


"Kita makan dulu ya." Reyhan meminggirkan mobilnya ke sebuah cafe di pinggir jalan.


Mereka makan dengan keheningan. Erika tidak ingin banyak bicara, ia takut salah bicara.


"ka, kamu temani aku malam ini ya. Aku perlu teman bicara. Aku bisa gila kalau mikirin pernikahan ini." ucap Reyhan memohon.


Erika memandang laki-laki di hadapannya. Apakah ia mampu menolaknya, meskipun ia ingin menghindarinya? Laki-laki ini butuh teman bicara. Akhirnya Erika pun mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


__ADS_2