Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 15 - DIANTARA DUA PILIHAN


__ADS_3

Pagi ini Erika bangun dengan tubuh yang lebih segar. Memang masih banyak hal yang dia pikirkan dan dia tau sebenarnya justru permasalahan dalam pikirannya lah yang membuat dirinya sakit.


Erika segera mandi dan berpakaian. Hari ini ia tidak ingin terlambat ke kantor, karena ia yakin pekerjaannya akan menumpuk.


Selesai mandi, Erika baru membaca chat dari Riko. Ia sempat terdiam, tidak menyangka kalau Riko akan secepat itu mengajaknya menikah. Apalagi mereka masih muda.


Tidak pernah terpikir oleh Erika untuk menikah secepat itu, apalagi dengan keadaan saat ini. Masalah keluarga masih banyak, pendidikannya belum selesai, dan ia masih ingin membahagiakan orang tuanya.


Hal ini semakin membuat Erika ingin segera keluar dari rumah Om Herman dan Tante Hana. Ia tak ingin menambah masalah baru. Secepat kilat tangannya membalas chat tersebut.


maaf kak, aku belum siap. Masih banyak yang harus kulakukan, lagipula aku tidak mencintai kak Riko. Sekali lagi maaf.


Erika tidak bisa memaksakan hatinya, apalagi Riko sudah beberapa kali memaksa menciumnya.


----------


Seperti biasa, Erika berangkat pagi. Selain karena ia yakin banyak pekerjaan yang menunggunya di kantor, ia juga tidak mau berangkat bersama Riko.


Erika sampai di kantor, belum ada siapa-siapa, hanya ada security dan OB. Erika masuk setelah menyapa Pak security di mejanya.


Erika sampai di bagian arministrasi. Ia duduk di mejanya, dan melihat tumpukan file yang harus dia selesaikan. Tiba-tiba.....


[Telepon berbunyi]

__ADS_1


*halo, selamat pagi.


(Erika)


Erika kenal suara itu, yaaa suara Pak Reyhan


iya Pak.


(Sudah sembuh?)


sudah Pak, terima kasih atas perhatiannya.


(nanti siang, temani saya makan seperti biasa ya.)


(kalau begitu, kamu makan di ruangan saya. Temani saya makan disini)


ehmmm...tapi Pak*.....


[telepon terputus]


----------


Erika merasa hidupnya terintimidasi. Baru semalam ia merasa Pak Reyhan perhatian dan begitu baik padanya, sampai-sampai ia senang mendengar suaranya. Sekarang....

__ADS_1


Riko dan Reyhan sama saja, teriak Erika dalam hati. Apa yang harus dia lakukan.....


Ah kepala Erika mendadak menjadi pusing memikirkan hal ini. Akhirnya ia kembali bekerja.


Erika terus bekerja dan bekerja, sampai ia lupa waktu. Saat waktu menunjukkan pukul 12 siang, saatnya makan, Riko menghampiri meja Erika.


"ka, makan yuk." ajak Riko


"nggak kak, aku bawa makanan." jawab Erika


"kalau gitu, aku temenin ya disini?"


"jangan kak, aku banyak kerjaan. Kak Riko makan aja dulu sama Mas Angga." ucap Erika sembari terus menatap berkas-berkas dan mengetik.


Riko tidak mau mengajak lagi. Ia tau Erika pasti masih marah, atau memang Erika tidak mau bersamanya.


----------


Reyhan memandangi berkas-berkas penjualan di atas mejanya. Pikirannya tidak fokus, ia terus saja memikirkan Erika. Memang ia berusaha untuk tidak terlihat menyukai Erika, tapi hatinya seakan ingin memberontak.


Sudah sejak ia pertama kali bertemu dengan Erika, ia sudah jatuh hati. Umur mereka terpaut 7 tahun, yaa maklum lah, mahasiswa abadi sama mahasiswa baru....hehe


Reyhan memandangi jam di tangannya, sudah hampir jam 12, apa sebaiknya ia menelepon Erika lagi? ahhh, ia bingung. Ia memutar-mutar kursi yang ia duduki, sambil berpikir, apakah sebaiknya ia tetap jaim atau langsung to the point aja?

__ADS_1


----------


__ADS_2