Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 22 - DIMANA AKU?


__ADS_3

Erika tersadar dari tidurnya. Tidur? tidak!! dia pingsan tadi. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelah ia dimasukkan ke dalam mobil. Siapa yang melakukannya? apa maunya?


Dimana sekarang aku berada? ruangan begitu gelap, hanya ada bau kayu, sunyi sekali. Erika merasa perutnya lapar, betul iya belum makan sejak siang. Tangannya terikat di kursi, ia tidak dapat melakukan apa-apa.


Siapa sebenarnya yang melakukan ini dan apa maunya. Jika ingin menculikku dan meminta uang tebusan, itupun tidak ada gunanya, karena orang tuaku sudah bangkrut.


Erika merasa sendirian saat ini. Ia mau menangis pun tidak akan ada yang mendengar, dan tidak akan ada yang peduli. Ia tidak dapat meminta bantuan.


Bagaimana janjiku dengan Linda. Oh tidak, Linda pasti akan bingung dan kuatir karena dirinya tidak memberikan kabar. Tapi aku dimana??


Erika bingung dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Ia pasrah, duduk terdiam dengan tangan terikat dan mulut disumpal kain.


----------


[WA notification received]


Pekerjaan gue udah selesai. Udah gue sekap di gudang seperti yang lo suruh. Setelah ini, gue nggak ikut campur. Gue cuma pengen lo nepatin janji, sesuai kesepakatan kita.


(OK, tenang aja, sesuai kesepakatan. Gue harap lo juga harus jaga kelakuan lo, terutama mulut ya.)

__ADS_1


----------


Erika terbangun, matanya terasa gelap. Apa yang terjadi? dia hanya mampu melihat cahaya samar-samar. Matanya ditutup dengan kain. Tiba-tiba terdengar suara.


"Ouu, ini Erika. Cewek yang suka nempel-nempel sama Reyhan."


siapa ini? (pikir Erika) kenapa sebut-sebut nama Reyhan. Aku tidak pernah dekat-dekat dengan Reyhan. (Erika tidak mampu menyangkal semua pernyataan itu, karena mulutnya disumpal, sakit sekali rasanya)


"Penasaran ya siapa? lo ga perlu tahu, yang pasti gue ga suka lo deket-deket sama Reyhan. Sebentar lagi Reyhan bakalan jadi suami gue, jadi gue harap lo jangan ganggu dia lagi "


whatt?? ini jangan-jangan cewek yang mau dijodohin sama Reyhan. Kasian amat Reyhan dapet cewek psycho kayak begini.


"gue minta lo jauh-jauh ya, kalo perlu lo resign dari kantor."


"oohhh mau ngomong ya?" lalu kain sumpalan dibuka dan Erika bisa bernapas dengan lega.


"maaf, saya mungkin nggak bisa lihat siapa kamu. Tapi jika memang kamu calon istri Pak Reyhan, kenapa kamu lakukan ini. Saya nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Reyhan." ucap Erika


"jangan sok suci lo. Gue tau siapa Reyhan. Di depan papanya mungkin dia nurut mau nikah sama gue, tapi di belakang dia selalu berusaha menghindari gue. Itu semua pasti gara-gara lo!"

__ADS_1


"saya nggak pernah deket-deket Pak Reyhan. Silakan anda menikah dengan Pak Reyhan, saya pun tidak akan mengganggu."


"TIDAKKK!!! gue nggak pengen acara nikahan gue ampe gagal gara-gara cewek macem lo. Emang gue nikah sama dia bukan karena gue suka, apalagi cinta. Gue cuma mau ambil semua harta miliknya. Dan gue nggak mau gagal gara-gara lo."


"tapi...tapi...itu jahat." ucap Erika setengah berteriak


"eits..eits, mau jahat mau nggak, itu urusan gue ya. Gue cuma minta lo jauh-jauh, atau lo mau keluarga lo gue hancurin lebih dalam lagi, sehancur-hancurnya."


"jangan....jangannn....please jangan ganggu orang tuaku." ucap Erika memohon.


"ok, gue ga akan panjang lebar lagi. Gue mau lo tandatangan disini (sambil memberi pulpen dan mengarahkan tangan Erika). Surat ini menyatakan lo nggak akan pernah ganggu Reyhan lagi dan lo nggak akan ngasi tahu kejadian ini kepada siapapun. Kalau sampai ada yang tahu, keluarga lo yang akan jadi taruhannya."


Erika segera menandatangani surat tersebut, meskipun ia tidak dapat membacanya karena matanya ditutup. Ia hanya berharap keluarganya selalu aman. Dia yakin siapapun di hadapannya ini, mampu melakukan apapun.


Setelah Erika menandatangani surat tersebut, ia dibawa menggunakan sebuah mobil. Ia tidak tahu kemana ia akan dibawa. Selang beberapa lama, mobil berhenti, ia diturunkan di jalan, dengan tangan yang masih terlilit tali namun sudah dibuka ikatannya, tapi mata dan kaki masih terikat.


Erika diletakkan begitu saja seperti benda rongsokan. Mobil itupun melaju meninggalkannya, tanpa ia bisa melihat dan mengenalinya. Ia merasa dirinya terlalu lemah. Apa salahnya....


Erika langsung membuka lilitan tali di tangannya, membuka penutup mata dan ikatan pada kakinya. Tangan dan kakinya sakit, berwarna merah bekas lilitan tali. Ia duduk sebentar, ini masih subuh.

__ADS_1


Erika tidak tahu ia dimana. Handphonenya sudah tidak ada, ia tidak dapat menghubungu siapa-siapa. Ia akhirnya berdiri sambil menahan rasa sakit di kakinya, berusaha berjalan.


Tak lama, ada sebuah mobil menghampirinya......


__ADS_2