
"Diiihh makan duluan tuh gabaik loh Pan." kata Luchas.
"Lu sewot amat ama urusan orang!" kata Dhante.
"Dih elu tuh!" kata Luchas.
"Tengkar aja terosss, nih makanan gue aja yang makan!" kata Daniel.
"Buatan Vani semuanya milik gue!" kata Dhante sambil merebut makanan yanga akan dimakan oleh Daniel.
"Setannn, itu punya gue!!" kata Luchas.
"Woiii ntu tuh punya gue astaga nagaa." kata Daniel.
PEPERANGAN DUNIA PEREBUTAN MAKANAN DIMULAI•••
"Punya gue!!" kata Dhante.
Mereka terus terusan berebutan makanan itu.
"Heh lu pikir Vani masak buat lu?? kagak!! dia masak buat gue! jadi sini!" kata Luchas.
"Kagak!! ini makanan gue!!" kata Daniel.
CEKLEK.... Bunyi pintu terbuka...
Vani keluar dengan muka segaris.
"Ribut?" kata Vani.
"G-g-gak kok!" kata mereka bertiga.
"Ah masa? Vani punya rekamannya loh... gak boleh bohong." kata Vani sambil pergi mendekati mereka.
"Aiahh gue ngalah, noh ambil makanannya! Gue mau pulang." kata Dhante.
"GAK BOLEH ADA YANG KELUAR." Kata Vani, Luchas, dan Daniel secara bersamaan dengan tatapan membunuh.
"Aigooo, salah apalagi gua!" kata Dhante.
SUASANA MENCEKAM...
__ADS_1
"V-v-vani..." kata Luchas gagap.
"Eits bentar bentar hp gue berdering, gue angkat telpon dulu ya." kata Vani.
"😤😤Huffttt puji syukuurrr!!!! Makasih Ya Lordd!! Gua terbebaskannn." kata Luchas.
"Dih alay." kata Daniel dan Dhante secara bersamaan.
"Ah udahlah, ayok makan." kata Luchas.
Sementara Vani•••
"Vaniiii!!!!" kata orang yang ada di telpon itu.
"Siapa? gausah basa basi." kata Vani.
"Etdah Van, ini gue Nian! Sodara elu." kata Nian.
"Terus?" kata Vani.
"Gue ada di bandara sekarang, lu bisa jemput gak? gue cuma 3 hari kok di Prancis." Kata Nian.
"Oh, gue suruh anak buah gue aja ya." kata Vani.
"Oke, tunggu aja." kata Vani sambil bersiap siap.
Vani pun keluar kamar•••
"Anjaeee Van, cantik cantik gitu mau kemana??" tanya Luchas.
"Pergi." kata Vani.
"Gabaik cewek pergi sendirian! Sini gue anterin." kata Luchas.
"Gue ikut." kata Dhante sambil menatap tajam Si Luchas.
"Mbak Van Vann, Daniel. juga ikut dongg." kata Daniel sambil memegang kaki Vani.
"Arghh iy iya! Siap siap sono!" kata Vani.
__ADS_1
"Yeayyyy!!" teriak senang mereka.
Di mobil•••
"Dah, ayok berangkat!" kata Daniel setelah memasang sabuk pengamannya.
"Pegangan, gausah tegang, rileks, tenang, gausah teriak. Paham?!" kata Vani.
"Ya nona!" kata mereka bertiga.
"Berangkat!" kata Vani.
BRRUMM BRUMMMM!!!!
Mereka pun berangkat menuju bandara, kira kira perjalanannya sekitar 2 jam...
Di Perjalanan....
"Aaaaa mama!!! jantung gue!!! mamaaa!!!!" teriak Daniel.
"Hushh diem! gue juga takut!" kata Luchas sambil ngempet ketakutannya.
"Van, bisa gak elu pelan pelan aja? di belakang ada banyak. polisi ngejar ngejar loh." kata Dhante dengan muka takut tapi bercampur muka dingin.
"Pilih diem atau mati." kata Vani sambil nyetir dengan santuy.
"Ya Tuhan Van lu santai amatt." kata Luchas.
"Van elu santai tapi jantung gue bisa copot!" kata Daniel.
"Udah gue bilang pilih mati atau diem." kata Vani.
"Oke oke kita semua diem ok." kata Luchas.
"Pegangan!" kata Vani.
"Van lu serius mau nerobos jalan itu??" kata Luchas.
"Iya loh Van, tuh jalan licin bangatt." kata Daniel.
"Gak ada yang boleh melarang Vania." kata Vani nekat.
__ADS_1
Salam hangat Devianna ❤❤❤