
"Aigooo apa kamu juga tidak apa apa? maaf aku gak liat jalan." kata Lexa.
"T-tidak apa apa!" kata Luchas sambil bergegas pergi mencari Vani.
"Eihh mau kemana? kita belu kenalan loh!" kata Lexa.
"Halo namaku Luchas De Lars! salam kenal." kata Luchas terburu buru.
"Santai jangan terburu buru! Namaku Alexana Violla! Salam kenal!" kata Lexa.
"Ahh iya iya tapi aku buru buru dadah." kata Luchas.
"Siapa yang kamu cari?" kata Lexa.
"Vani." ucap Luchas dengan muka serius.
"Kenapa?" kata Lexa.
"Karena dia anak perempuan itu." kata Luchas dengan nada dingin.
"Aiaahh dia memang anak perempuan!" kata Lexa.
"Oh iya kamu umur berapa?" tanya Lexa.
"Sembilan Tahun." kata Luchas.
"Wah wah kita beda dua tahun hehe! dan aku lebih tua darimu." kata Lexa.
"Benarkah? Kamu berasal dari mana?" tanya Luchas.
"Yuweiyan." kata Lexa.
"Negara Yuweiyan penuh dengan gadis cantik, apa mungkin Vani dari negara Yuweiyan?" tanya Luchas.
"Mungkin, tapi Raja kami tidak pernah membawa seorang putri." kata Lexa.
"Benarkah? Ada apa?" tanya Luchas.
"Karena dulu... Tuan putri kami diculik oleh orang dari Negara Lu, dan gara gara itu Raja kami dan pemimpin dari negara Lu tidak akan pernah bekerja sama." kata Lexa.
"Ohh begitu, oh iya katanya Negara kita berdampingan, bagaimana kalau aku undang kamu untuk datang ke negaraku?" tanya Luchas.
__ADS_1
"Boleh!" kata Lexa.
"Oh iya, umur berapa putri kalian diculik?" tanya Luchas.
"Umur 2 atau 3 tahun. Bahkan aku jarang sekali melihat rupanya." kata Lexa.
"Apa?! Masih kecil sekali!" kata Luchas.
"Iya, aku pernah melihat mukanya... Imut sekali! Aku yakin pasti saat dia besar nanti dia pasti sangat cantik!" kata Lexa.
"Tapi apakah putri selamat?" kata Luchas.
"Ti... Dak." kata Lexa dengan muka murung.
"Tapi semoga saja dia masih hidup! hehe!" kata Lexa.
"Baik, mulai sekarang kita teman ya..." kata Luchas.
"Oke! Kita teman!" kata Lexa.
Selesai pertemuan antar negara...
"Luchas ayo pulang." kata Papa Luchas.
Sesampainya di rumah Luchas.
"Kakak..." kata Claire sambil membungkukkan badannya.
"Tumben sopan sekali, ada apa?" kata Luchas.
"Tidak apa apa! Ayo main!" kata Claire.
"Tidak Aire kakak ada urusan." kata Luchas.
*Aire nama panggilan Claire.
"Baik kak..." kata Claire pergi meninggalkan kakaknya.
Luchas pun pergi lagi ke taman...
"Putri kerajaan Yuweiyan? Hilang saat umur 2 atau 3 tahun, sepertinya ada yang aneh." ucap Luchas pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Terus anak kecil yang berlumuran darah itu... Siapa?" kata Luchas.
"Ada apa sebenarnya dengan putri Yuweiyan?" pikir Luchas.
"Kakak Luchas!!! Temani bunda memetik Lavender yuk!!" kata Claire yang mengagetkan Luchas.
"Claire!!! Tidak boleh mengagetkan orang!!" bentak Luchas.
"Maaf kak tapi ayoo." kata Claire sambil menarik narik baju Luchas.
"Baik, ayo." kata Luchas.
Mereka pun memetik bunga bersama bunda.
"Claire, kalau sudah besar nanti mau jadi apa?" kata Alessia.
"Claire mau jadi manusia bunda!" kata Claire.
"Bodo, kamu kan udah jadi manusia." kata Luchas.
"Luchas jaga cara bicaramu!" kata Alessia.
"Baik Mama..." kata Luchas.
"Bunda! Nanti kita minum teh bersama ya! tapi yang buat teh itu Claire dengan Kakak Luchas ya!" kata Claire.
"Iyaa ayoo." kata Alessia.
Saat minum teh...
"Hmmm teh buatan kalian enak ya uhuk uhuk." kata Alessia.
"Mama, kenapa anda batuk?" tanya Luchas khawatir.
"Tidak apa apa mungkin batuk ringan Uhuk uhuk." kata Alessia.
Setelah acara minum teh tersebut semakin hari keadaan Alessia semakin memburuk.
"Bunda! Kenapa bunda batuk darah? Ada apa?!" tanya Claire dengan nada khawatir.
"Tidak apa apa, oh iya Claire nanti kalau bunda pergi Claire dengan kakak Luchas tidak boleh bertengkar ya!" kata Alessia.
__ADS_1
"Bunda mau kemana?" tanya Claire dengan senyum mengerikan.
"Claire?!" kata Luchas dari belakang.