
"Eh iya Lex yang cowok namanya Luchas kenalan lu tuh siapa?" tanya Nian.
"Temen gue dari kecil." kata Lexa.
"Tapi kok gue kek pernah liat dia ya?" kata Nian.
"Mungkin lu pernah liat dia waktu masih kecil." kata Lexa.
"Bisa lu ceritain tentang dia ga? Ini buat adek gue!" kata Nian.
"Hmm tapi dikit aja ya, ntar dia marah lagi." kata Lexa.
"Iya gapapa." kata Nian.
"Hemmm, Luchas De Lars nama panjangnya, dia anak dari paman Teodosio De Lars. Lu tau kan dia siapa?" kata Lexa.
"Napa lu bocorin nama bapak gue ah!" kata Luchas sambil garuk garuk kepala.
"Eih dianya bangun. Gimana kalo dia sendiri yang ceritain." kata Lexa.
"Apaansih kepo amat!" kata Luchas.
"Woi beneran lu anaknya Teodosio?!" tanya Nian.
"Lu kaga liat nama marga gue ya?! Oke gue perjelas nama gue Luchas DE LARS!!" kata Luchas ngegas.
"Gamungkin!" kata Nian sambil tutup mulut.
"Kalo kenyataanya kek. gitu lu mau ngapain kak." kata Vani.
"Sejak kapan lu bangun?!" kata Nian, Lexa, dan. Luchas secara bersamaan.
__ADS_1
"Udah sejak tadi." kata Vani, Daniel, dan Dhante secara bersamaan juga.
"Kok gak bilang!!" kata Nian sambil sentil pala Vani.
"Luchas lanjutin cerita tentang elu." kata Vani.
"Adehhh yaodah, gue anaknya Teodosio sang Pemimpin Negara Lare. Udah puas?" kata Luchas.
"Lu pangeran? Jyahahahhaa gue ga percaya." kata Daniel.
"Sampe situ aja? Lebih detail!" kata Vani.
"Haduh gue diserang. Okelah." kata Luchas.
"cepetan!" kata Vani.
"Mending Lexa aja, gue ga kuat kalo cerita tentang diri sendiri." kata Luchas sambil memakai headset.
"Hmm okelah, Luchas anak tunggal tapi suatu hari Paman bawa anak cewek untuk dijadikan teman Luchas sekaligus adek buat Luchas, Luchas lumayan sayang pada adeknya sampai akhirnya saat mereka berumur 9 tahun si adek bernama Claire itu meracuni bibi yaitu mama Luchas tapi yang anehnya Claire menuduh Luchas yang membunuh mamanya sendiri, mulai saat itu Luchas dihukum keras oleh papanya..." Kata Lexa.
"Luchas, ulang tahunmu yang ke 2 tahun ini papa akan berikan kamu hadiah yang sangat spesial!" kata Paman Teodosio.
"Apa itu?" tanya Luchas dengan nada tegas dan dingin.
"Luchas ubah sikap dinginmu itu!" kata Paman Teodosio.
"Tidak bisa." kata Luchas.
"Baiklah... Luchas... Mulai sekarang Claire jadi adekmu." kata paman Teodosio.
"Aku tidak mau punya adek, sekian terima kasih." kata Luchas sambil pergi ke taman
__ADS_1
Saat di taman Luchas melihat seorang anak perempuan berlari begitu cepat tapi tubuh anak itu penuh dengan darah. Luchas hendak menghampirinya tetapi pada saat itu Claire menariknya.
"Kakak." ucap Claire dengan tampang menggemaskan.
"Siapa yang kau panggil kakak?" tanya Luchas dengan muka dingin.
"Kata papa kamu kakakku." kata Claire.
"Dia bukan papamu dan kau bukan adikku, kau hanya anak terlantar yang dipungut oleh papa." kata Luchas.
"Tapi aku sayang kakak hehe." kata Claire dengan senyum manis.
Dengan perkataan Claire yang tulus itu Luchas mulai sedikit menyayangi Claire.
"Apa maumu?" tanya Luchas.
"Bermain dengan kakak!" kata Claire dengan semangat.
"Huuuhh baiklah." kata Luchas.
"Kakak! ayo main ayunan!" kata Claire sambil menarik tangan Luchas.
"Pelan pelan, kau harus belajar tentang etika habis ini!" kata Luchas.
"Apa saja yang penting bersama kakak!" kata Claire.
Mulai dari sini mereka dekat tapi mungkin kedekatan itu menjadi malapetaka untuk Luchas.
***
Haloo ini author! Yang penasaran sama mukanya Lexa ini ya!
__ADS_1
ditunggu kelanjutan cerita tentang si Luchas ya!