
"Ih ketahuan kak Luchas! Kakak tutup mata sama tutup mulut ya!" kata Claire.
"Claire!! Kau apakan Mama?!" kata Luchas.
"Kakak tenang, kasihan bunda dari kemarin batuk batuk teruss jadii Claire cuma mau menghilangkan rasa sakit itu buat bunda!!" kata Claire.
"Kau! Psikopat!!" kata Luchas hendak menyerang Claire tapi tiba tiba...
BRAAKKK...
"Luchass!!! Ada apa ini?! Kenapa kau berusaha membunuh adikmu?!" kata papa Luchas.
"Huwaaaaa papaaa, kakak Luchas mencekik bundaa!!!" kata Claire yang berlari pergi memeluk Paman Teodosio.
"Apa?! Kau!!!" kata papa Luchas berjalan tegas menuju Luchas.
PLAKKK...
Paman Teodosio menampar Luchas.
"Mungkin tamparan tidak. cukup untukmu!! Bagaimana bisa kau membunuh ibu yang melahirkan dan membesarkanmu?!" kata Paman Teodosio.
"Bukan aku pembunuhnya." kata Luchas.
"Ada saksi disini! dan kau juga mau membunuh saksi tersebut!" kata Papa Luchas.
"Heh Claire kau sudah puas? Kenapa kau membunuh mama??!!" kata Luchas.
"Tutup mulutmu!! Kau akan dihukum gantung dan dikuliti untuk ini!" kata papa Luchas.
"Bunuh saja sekalian!!" kata Luchas.
"Cepat gantung dia!!" kata papa Luchas memerintah penjaganya.
"Bunuh aku? Tidak semudah itu. Dan kau Claire tunggu aku membalaskan dendam!" kata Luchas.
"Tangkap dia!!" kata Papa Luchas.
"Papa!! Bagaimana dengan bundaa??" kata Claire.
"Sabar sayang, bunda pasti tenang disana." kata Papa Luchas sambil memeluk erat Claire.
__ADS_1
***
"Stop!!! Lu jangan cerita kelanjutannya lagi!!" kata Luchas sambil menutup mulut Lexa.
"Ishh bentar ah dikit lagi!!" kata Lexa sambil menggigit tangan Luchas.
"Ayo terus gimana nasib si Luchas??" tanya Nian penasaran.
"Luchas tinggal bersama Lexa sampai besar, sungguh merepotkan." kata Vani sambil mengalihkan kepalanya.
"Kok lu tau?" tanya mereka serentak.
"Masalah kalo gue tau?" kata Vani.
"Kagak." kata mereka serentak.
"Yaudah!" kata Vani.
"Iya iya nonn." kata Daniel.
"Kasihan banget Si Luchas, tapi gimana nasib mereka sekarang?" tanya Nian.
"Mereka? Aman aman aja! tapi kayaknya si Claire masih hidup dengan damai." kata Lexa.
"Gue juga gak tau Niel, padahal Mama gue sayang banget ke dia." kata Luchas.
"Stop, kita sudahi cerita tentang Luchas, dan sekarang Daniel yang cerita." kata Vani.
"Etdah Vani kita di pinggir jalan nih, dirumah aja ya!" kata Daniel.
"Kak kita mampir ke Cafe." kata Vani.
"Okee." kata Nian.
"Mau ngapain?" tanya Luchas.
"Nongkrong sekalian cerita cerita." kata Vani.
"Mampusss!!" kata Lexa.
"Eh? Si Dhante kok kaga ada suaranya?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Biasa, dia ngebo lagi." kata Luchas.
"Tuh anak kebiasaan." kata Daniel.
"Oke kita berangkat ke Cafe di sana ya!" kata Nian.
"Y." kata mereka serentak.
Sesampainya di Cafe...
"Pesen apa yang kalian mau." kata Vani.
"Di traktir nih?" kata Lexa.
"Ya." kata Dhante tiba tiba nyahut.
"Yang jawab Dhante berarti dia yang traktir!" kata Luchas.
"Ada masalah apa sih lu ke gue?" kata Dhante.
"Gausah masalahin yang bayar siapa, tenang aja kita kan Sultannn." kata Vani.
"Sok aje lu Vann." kata Luchas dan yang lainnya.
"Emang gue sultan kok!" kata Vani.
"Iyainn!!!" kata Mereka serentak.
Mereka pun memesan...
"Daniel cepetan cerita." kata Vani.
"Gue masih belom siap." kata Daniel.
"Belom siap? Berarti masa kecil lu..." kata Luchas ragu ragu.
"Stop, break bentar!" kata Vani.
"Oh iya asal usul Dhante darimana ya?" tanya Nian penasaran.
"Ga tau." kata Dhante.
__ADS_1
"Kok bisa ga tau sih?" kata Nian.
"Gue pernah kecelakaan dan akhirnya pas gue sada udah ada disini, terus ada surat yang isinya 'Tuan, nama anda adalah Dhante dan perlengkapan anda semuanya sudah disiapkan, anda tidak perlu khawatir' itu isinya dan penulis surat itu berinisial R." ucap Dhante panjang lebar.