
BRAKK!!! Dhante datang ke ruangan Vani...
"Vani! Maaf!" kata Dhante sambil memeluk erat tubuh Vani.
"Siapa? Lu?" kata Vani.
"Vani?! Lu ga inget gue??" kata Dhante.
"Vani dia mirip ya sama Dhante." kata Luchas tiba tiba.
"Apa apaan lu?!" kata Luchas.
"Hah?" kata Vani.
"Vani! Dengerin gue baik baik! Gue Rakha! Gue Rakha yang asli!! Gue mohon lu percaya sama gue!!" kata Dhante sambil menangis.
"Ssttt Van dia lagi sakit, katanya bu guru dia sering berhalusinasi." kata Luchas.
"Rakha???" kata Vani sambil mengelus kepala Dhante dan tak terasa air mata Vani mengalir.
"Rakha? Rakha?!!" kata Vani tiba tiba memeluk Dhante dengan erat.
"Vani!!!" kata Luchas mencoba memisahkan mereka tapi...
"Luchas!! Diam disitu!!" kata Vani dengan tatapan marah bercampur benci.
"Van... gue cuma ga mau kehangan lu." kata Luchas.
"Gue udah pernah bilang lu jangan pernah bohongin gue!!" kata Vani.
DEG!!! kata kata Vani membuat Luchas begitu sakit hati.
"Maaf Van..." kata Luchas.
"Rakha?? Ini lu kann??? Lu ga mati kann??" kata Vani.
"Van, gue belum mati." kata Dhante.
"Maaf gara gara gue lu celaka." kata Vani sambil mengelus muka Rakha.
"Kenapa? Kenapa baru ingat sekarang? hemm??" kata Vani.
__ADS_1
"M-maaf Van." kata Rakha.
"Tapi Kha...Maaf." kata Vani.
"A-apa Van??" kata Rakha.
"Maaf hehe." kata Vani sambil mengambil pisau yang ada di meja lalu menusuk dirinya.
"Vani!!!!!" teriak panik Luchas dan Rakha.
"Vani!!! Kenapa!!! Napaa??!!! Kita baru ketemuu!!!" kata Rakha.
"Vani!! Maaf! gue ga bakal bohingin lu!! gue mohon! lu tetep bangun!!!" kata Luchas.
"M-maaf, g-gue harus lakuin ini." kata Vani sebum tak sadarkan diri.
"Vanii!!!!!!!" teriak Luchas dan Dhante.
"Panggil dokter!! Panggil dokter!! Cepet!!!" kata Luchas.
Rakha pun pergi memanggil dokter.
1 Jam kemudian...
"Lu bisa tenang?? tengkar ga ada gunanya, sekarang yang kita bisa cuma doain Vani supaya selamat." kata Rakha.
"Huuhh." kata Luchas.
stengah jam pun lewat... dan dokterpun keluar dari ruangan Vani.
"Dokter! Bagaimana?!" kata Luchas dan Rakha.
"Parah." kata Dokter.
"A-apa!" kata Luchas.
"Maksud?" kata Rakha tak percaya.
"Dia menusuk jantungnya! dan dia membutuhkan pendonor jantung." kata dokter.
"Saya saja." kata Rakha.
__ADS_1
"Maaf tapi pendonor jantung bukan..." kata dokter terputus.
"Bodo! mana boleh pendonor jantunya orang hidup! lu gila ya?" kata Luchas.
"Asalkan Vani bangun gue mau kok." kata Rakha.
"Gue ga ngerti lagi sama otak lu! beg* dipelihara." kata Luchas.
"Berhenti, sekarang kita butuh pendonor jantung." kata Dokter.
"Gue bakalan carikan." kata Luchas dengan tatapan membunuh.
"Apa maksud lu? apa maksud dari tatapan lu?" kata Rakha.
"Gausah ikut campur." kata Luchas sambil pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Hei, boleh gue ikut?" kata Rakha dengan tatapan membunuh.
"Serah." kata Luchas.
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu.
"Maaf harus bohong, tapi ini demi kebaikan nona." kata dokter.
"Haihh berbohong kalau nona menusuk jantungnya bener bener ngeri, jangan sampai itu terjadi betulan, ya kan nona?" kata dokter itu sambil melihat ke arah Vani yang sedang tidak sadarkan diri.
"Hei dokter, kenapa dengan nonaku?" tanya seseorang dari balik pintu.
"T-tuan... maaf nona menusuk dirinya sendiri." kata dokter itu dengan gemetaran.
"bagian mana yang ditusuk?" tanya seseorang itu.
"Di perutnya, tuan." kata dokter.
"Dia baik baik saja?" katanya.
"I-iya." kata dokter.
"Gue harap itu jawaban yang sebenarnya, kalau sampai lu bohong lu tau kan? akibat dari menyembunyika penyakit tuan putri??" kata orang itu.
"I-iya!" kata Dokter.
__ADS_1
"Baiklah, goodbye dokter." kata orang itu sambil pergi ditemani bodyguardnya.
Siapakah orang itu??? dan apa yang dilakukan Rakha dan Luchas untuk mencari pendonor jantung untuk Vani??