Cantik Cantik Bos Mafia

Cantik Cantik Bos Mafia
+65


__ADS_3

Sudah 5 hari berlalu, Dhante tidak pernah ikut kelas dan juga asramanya selalu gelap. Para murid bingung karena ketua kelas tidak hari dalam 5 hari ini, bukan hanya ketua kelas tapi wakit dan sekertaris kelas juga tidak hadir. Keadaan kelas rusuh dan tidak teratur, padahal 7 hari lagi mereka akan ujian kenaikan kelas.


"Vanii, ujian akhir semesternya tujuh hari lagi loh lu ga belajar?" kata Luchas sambil mendekat ke Vani yang sedang membaca novel.


"Gausah urusin masalah sepele gitu." kata Vani.


"Etdaahh, iya tau lu pinterr." kata Luchas.


"Bukannya lu juga? kan lu peringkat kedua." kata Vani.


"Tapi masa gue kalah ama cewek kek elu." kata Luchas.


"Belajar yang rajin." kata Vani sambil mengelus kepala Luchas.


"Haha iya nonaa." kata Luchas.


"He em." sahut Vani.


"O iya Van, si Dhante, Reva sama pengurus kelas pada kemana? 5 hari udah ga masuk loh." kata Luchas.


"Bukan urusan kita." kata Vani.


"Empati lu minus banget sih Van." kata Luchas.


"Buat apa empati sama orang yang bahkan ga pernah deket sama kita."kata Vani.


"Si Dhante apa ga deket sama kita?" kata Luchas.


"Dia siapa? Aku pernah kenal?" kata Vani.


"Sadist melupakan teman sendiri." kata Luchas.


"Lu gatau apa yang dia lakuin pas lima hari lalu?!" kata Vani.


"Gue inget kok." kata Luchas.


"Lah terus napa lu peduliin orang yang udah nyakitin elu?" kata Vani.

__ADS_1


"Vani... kejahatan ga harus dibalas dengan kejahatan." kata Luchas.


"Lu terlalu baik Chas." kata Vani.


"Haha, oh iya Van gue mau tanya boleh?" kata Luchas.


"Tanya aja." kata Vani.


"Ingatan lu udah kembali kan? hehe." kata Luchas.


DDEEGG!!!


"Hah, apaan? g-gue masih b-belgaom inget kok." kata Vani dengan gemetaran.


"Vani gapapa ngomong aja." kata Luchas.


"G-gue ga ingett!!! gu-gue gue ga inget ga ingettt!!! gu-gue ga tau siapa yang bunuh diaa!!" kaga Vani sambil memegangi kepalanya.


"Vanii tenangg!! gapapa gue disini!!" kata Luchas sambil memeluk Vani.


"Apa? Belum inget ya? tapi malem itu kok..." kata Luchas dalam hati.


"Vani tenang!! lu ga pernah kek gini sebelumnya! tenang!!" kata Luchas.


"Luchas! d-dia dia... ditembak! ditembak!!" kata Vani.


"Vani! tenang!!! gue ga bakal tanyain pertanyaan itu lagi!! tenang!!! ada gue disini." kata Luchas.


"Ma-ka-sih." kata Vani sebelum pingsan.


Setelah Vani pingsan Luchas pun buru buru pergi ke ruang kesehatan sekolah.


Di ruang kesehatan sekolah...


"Bu!! tolongin Vani!!" kata Luchas.


"Hah?? Dia kenapa?!" kata guru di ruang kesehatan.

__ADS_1


"Baringkan dia di kasur terus kamu ke kamar sebelah cari obat sakit kepala." kata guru itu.


"Baik bu!" kata Luchas.


Luchas pun menuju ke kamar sebelah, sesampainya di kamar sebelah...


"Dhante?!!" kata Luchas.


"Siapa?" kata Dhante sambil membuka matanya.


"Lu napa disini?!" kata Luchas.


"Ingatan." kata Dhante tak jelas.


"Apa??" tanya Luchas kepada Dhante, tapi sayangnya Dhante keburu tidur kembali.


"Aihhh, apa maksudnya ingatan??" kata Luchas sambil menuju ke meja tempat obat itu berada.


"Huh?? buku?? buku harian?" kata Luchas sambil mengambil buku harian itu.


"Luchass??? Sudah dalat obatnya??" teriak guru itu dari kamar sebelah.


"Iya bu! Saya segera ke sana." kata Luchas sambil membawa obat dan buku itu.


Pada saat sudah dikamar tempat Vani diurus Luchas pun meberikan obat itu.


"Ini bu, bener kan?" kata Luchas.


"Iya bener, tapi... itu yang di tangan kananmu apa?" tanya guru itu.


"Ohh buku yang dipegang Vani tadi bu hehe." kata Luchas.


"Ohh yaudah kamu keluar dulu biar Vani istirahat." kata Guru itu.


"Iya bu, saya ke taman ya." kata Luchas sambil pergi ke taman.


Di Taman...

__ADS_1


"Mari kita baca buku harian milik ketua kelas haha." kata Luchas.


__ADS_2