Cantik Cantik Bos Mafia

Cantik Cantik Bos Mafia
+69


__ADS_3

Pagi Harinya...


"Dokter, Vani kapan bangun?" tanya Luchas.


"Lah saya kan udah bilang Vani masih koma." kata Dokter.


"Lah kapan lu bilang gitu anjriittt." kata Luchas.


"Lah tadi itu apaan anjriitt." kata dokter.


"Napa lu berdua ribut ribut di depan ruangan Vani?" kata Rakha tiba tiba datang.


"Nih katanya dokter si Vani masih koma." kata Luchas.


"Dok, boleh saya lihat gimana keadaan Vani?" kata Rakha.


"T-tidak! masih belum bisa ya..." kata Dokter itu.


"Oh gitu, ok." kata Rakha.


"I-iya, saya pergi dulu ya." kata Dokter.


Dokter pun pergi dari situ...


"Hei lu ga penasaran sama Vani?" tanya Rakha.


"Heh ya penasaran lah apalagi tuh dokter kek nyembunyiin sesuatu." kata Luchas.


"Heh teliti juga lu." kata Rakha.


"Ya iyalah." kata Luchas.


"Ayo masuk liat keadaan Vani." kata Rakha.


"Seriusan lu? ayo." kata Luchas dengan semangat.


Mereka pun masuk ke ruangan Vani.


"Hei, ayo cek. luka Vani dimana." kata Luchas.


"Gasopan lu!" kata Rakha sambil sentil jidat Luchas.


"Tapi Dhan! gue merasa dokter itu bohong soal luka Vani!" kata Luchas.


"Iya gue juga ngerasa gitu! tapi..." kata Rakha.


"Ahh gausah tapi tapian! ini juga demi Vani! kalo. misal luka tusukan Vani beneran di jantung berarti tuh dokter ga bohong tapi kalo lukanya di tempat lain kita bawa Vani pergi ke rumah sakit lain!" kata Luchas panjang lebar.

__ADS_1


"Iya iya." kata Rakha.


"Siapa yang buka kancing bajunya?" tanya Luchas.


"Ya gue lah! gue kan tunangannya." kata Rakha.


"Gak! gue pacarnya! harusnya gue!" kata Luchas.


"Berisik lu! mendingan buka sama sama!" kata Rakha.


"Gada akhlak lu!" kata Luchas.


"Buju bustraakk gausah ngajak war lu! mendingan cepetan cek keadaan Vani!" kata Rakha.


"Iye iyee." kata Luchas.


Mereka pun membuka kancing baju Vani dan....


"WTF!!!" teriak mereka berdua.


"Mata lu gausah jelalatan!!" kata Rakha sambil culek mata Luchas.


"Dihh mata lu juga kali!!" kata Luchas balik culek mata Rakha.


"Eh eh bentar!" kata Luchas.


"Luka tusukannya..." kata Rakha.


"Wahh Dokter gatau diri! udah dibayar mahal mahal malah bohong yee!!" kata Luchas.


"Luchas! kek kata lu tadi! Ayo bawa Vani pergi!" kata Rakha.


"Ayo!" kata Luchas.


Rakha pun menggendong Vani tapi...


"Hee?? tuan putri gue mau lu bawa kemana?" kata seseorang dari pintu.


"Tuan putri?? kamu siapaaa, kamu siapaaa." kata Luchas.


"Hallo, Luchas masih ingat gue??" kata orang itu sambil menunjukkan dirinya.


"Ha? Lu siapa dah?" kata Luchas.


"Gue Andra begoookk!!" kata Andra sambil melempar sepatu ke arah Luchas.


"Ya maap! Lu gausah emosian gitu!" kata Luchas sambil lempar balik sepatu itu.

__ADS_1


"Tengkar aje lu terus! Vani kudu dibawa kerumah sakit nih!" kata Rakha.


"Oh oke ayo ayo." kata Luchas.


"Gue ikut! lu semua kaga ada kendaraan kan? pake mobil gue!" kata Andra.


"Yee sok tau lu! kita juga punya mobil keless!!" kata Rakha dan Luchas.


"Gada akhlak lu!!" kata Andra.


"Dihh buang buang waktu!! Ayo Dhan kita pergi!" kata Luchas.


"Hei, nama gue Rakha bukan Dhante." kata Rakha.


"Sama aje, yok buruan!" kata Luchas.


"Ye iyee." kata Rakha.


Mereka pun sampai di parkiran mobil...


"Yang nyetir siapa?" kata Rakha.


"Elu aje! Biar gue yang urus Vani." kata Luchas.


"Ye! mana kuncinya?" kata Rakha.


"Udah kecantol disono kok!" kata Luchas.


"Oke ayok!" kata Rakha.


Mereka pun berangkat ke rumah sakit terdekat, dan pada saat diperjalanan Vani mulai sadar...


"Diihh buruan!! balap!! Vani ga nyaman nih!" kata Luchas.


"Santai aja napa!" kata Rakha.


"Lu ga kasian liat Vani?!" kata Luchas.


"Hhh iya iya tuh udah ada didepan toohh!!" kata Rakha.


"Iyee buruannn." kata Luchas.


"Ra.. kha?? Lu.. chass...???" kata Vani dengan lemas.


"Dhante!! buruan!! Vani kasiannn!!!" kata Luchas panik.


"Bentarrr!!! dikit lagiii!!" kata Rakha.

__ADS_1


•••


Maaf telat Up!!


__ADS_2