
"Diary 4, Gue mengurung diri, gue ga mau buat Vani tambah marah ke gue, gue harus sadar diri, gue bener bener depresi. Pada saat malam hari gue kembali melihat foto itu, fotong yang didalemnya ada Vani dan gue di rumah sakit sebelum pergi ke rumah paman Liu dan Lai, dalam foto itu Vani masih pingsan, dia pake baju rumah sakit, dia di infus, pada saat itu gue sedih tapi gue juga berpikir mungkin kalo pas ngejar paman Liu dan Lai gue bakalan mati dan pada saat itu gue memutuskan buat berfoto dengan Vani yang sedang pingsan, hehe **** ya kan? tapi gue ga nyangka ternyata foto itu yang bisa bikin gue ingat Vani beserta kejadian mengerikan itu, dan bukan hanya foto saja tapi surat itu juga buat gue inget beberapa kenangan manis antara gue dan Vani. Isi surat itu adalah: Buat Vani, Van gue cinta sama lu apa adanya gue sayang lu maupun lu miskin lu kaya lu cacat, gue tetep cinta sama elu, oh iya Van lu masih inget yang awal kita ketemu?? seru kan haha, terus juga yang gue lancang juga maaf ya. Ohh segini dulu ya, maaf sih kalo ga jelas hehe. Itulah akhir dari isi surat itu." kata Luchas yg sedang membaca diary 4 milik Dhante.
"Gini ya? ternyata gue orang ketiga." kata Luchas.
"Heiyoo ini bukannya Luchas ya?? Lagi baca apaan tuh?" kata Wave dari belakang Luchas.
"Wave?!! Lu ngapain?! Sejak kapan lu disini?!" kata Luchas.
"Udah lama, tadi gue cuma keliling keliling dan kebetulan gue ngeliat lu baca sesuatu." kata Wave.
"Tapi lu ga denger apa yang gue bilang kan?" kata Luchas.
"Denger tapi gue cuma denger 'Orang ketiga' itu doang." kata Wave.
"Oh, sebaiknya yang lu bilang itu bener." kata Luchas sambil menepuk pundak Wave lalu pergi meninggalkannya.
"Haha tenang aja kok." kata Wave.
Luchas pun pergi ke ruang Vani dirawat.
"Van, maafin gue ya." kata Luchas sambil menggenggam tangan Vani.
__ADS_1
"Maaf Van, gue ga tau kalo Dhante itu tunangan lu." kata Luchas.
Luchas merasa bersalah tapi dia tetap tidak. mau menyerahkan Vani ke Rakha atau Dhante.
Keesokan harinya•••
"Lu? Chas???" kata Vani yang baru saja bangun.
"Hmm?? Van? Udah bangun??" kata Luchas sambil kucek mata.
"Gue dimana?" tanya Vani.
"Di ruang kesehatan hehe, oh iya Van gue buatin bubur dulu yak." kata Luchas sambil pergi keluar.
Sebenarnya Vani ingin bertanya pada Luchas tapi Luchas keburu pergi.
"Haih, padahal mau tanya." kata Vani.
"Heehh?? Buku?" kata Vani yang melihat ada buku disampingnya.
"Buku Diary Dhante?" kata Vani yang sedang membaca sampul buku tersebut.
__ADS_1
Vani pun kepo dan membaca diary 1 sampai diary 2 tapi pada saat Vani mau membuka halaman diary 3 Luchas datang dan merebut buku itu dengan kasar.
"Vani!!!" bentak Luchas.
"Luchas?!" kata Vani.
"Siapa yang nyuruh lu buka buku ini??" kata Luchas dengan muka marah.
"Gue tanya lu siapa mau larang larang gue baca buku itu?" kata Vani dengan tatapan tajam.
"Van, buku ini bukan milik lu." kata Luchas.
"Emang bukan, tapi buku itu juga bukan milik lu kan? heh." kata Vani dengan senyum sinis.
DEG!!! Luchas kaget mendengar perkataan Vani.
"Luchas, itu buku diary milik Dhante tapi kenapa ada sama elu?" kata Vani.
Luchas terdiam karena kaget sampai akhirnya...
*Halloo para pembaca...
__ADS_1
emmm ini authorr... maaf ya up nya lama:( 👉👈 tapi terima kasih ya udah dukung terus!! author sukaa ❤❤❤