
Hampir satu tahun aku beradaptasi di rumah rehabilitasi itu. Keadaan ku yang semula dinilai parah oleh suster di sana, lambat laun mulai membaik. Aku sudah mulai tenang dan berani menghadapi orang luar.
Aku yang dahulu tak menyentuh anakku, kini sudah mulai aku tatap dengan rasa bersalah dan iba. Anakku tumbuh dengan sehat dan gemuk di bawah asuhan kedua orang tuaku.
Satu kesedihan lagi yang harus aku alami, anak ku tak mau melihat dan tak mau aku sentuh. Dia selalu meraung dan menangis kala tak sengaja melihat ku. Aku sadar bahwa ini juga karena kesalahan ku. Aku tak turut andil dalam pertumbuhannya selama setahun ini. Dia sudah sangat lincah dan aktif berlarian ke sana kemari.
Setelah beberapa hari di nyatakan sembuh dari depresi, aku diperbolehkan pulang dan beraktivitas seperti biasa. Aku senang bisa kembali ke keadaan semula. Entah bagaimana caranya, aku juga melupakan Arkan. Sejak di pulangkan ke rumah orang tuaku, aku tak pernah bertanya mengenai dirinya. Orang tua ku pun tak pernah menyebutkan namanya di hadapan ku. Namanya lenyap begitu saja dalam kehidupan kami.
Butuh usaha yang keras dan sabar untuk aku bisa beradaptasi kembali dengan keadaan sekitar, terlebih dengan anakku. Dia hanya menempel pada ibu dan juga kakak laki-laki ku satu-satunya. Aku baru tahu bahwa ayah sudah tiada dan sejak aku di rawat di rumah itu. Aku yang begitu terpukul hanya mengunci diri di kamar selama beberapa hari.
Hingga suatu ketika, ayah datang ke mimpi ku. Beliau mengatakan untuk tidak larut dalam kesedihan dan juga penyesalan karena tak ada di saat detik-detik terakhirnya. Beliau juga minta maaf atas perjodohan ku dengannya Arkan. Sejujurnya aku tak pernah mempermasalahkan itu, aku ikhlas menerima garis takdir yahh ditentukan oleh Tuhan. Mulai saat itu lah, aku berusaha untuk ikhlas dan fokus pada anakku satu-satunya yang butuh diriku sebagai ibunya.
Beberapa bulan kemudian, anakku sudah mulai mengenal diriku. Dia mau dan senang ketika aku ajak kemana-mana. Saat itu usianya satu tahun lebih tiga bulan. Wajahnya memang lebih mirip ke ayahnya dibandingkan aku. Tak masalah buatku, mau mirip dengan siapapun, dia adalah anak yang lahir dari rahimku. Akan aku pastikan dia tak kekurangan apapun dalam hidupnya, baik dalam hal materi dan kasih sayang. Aku bertekad akan bekerja untuknya. Aku harus berani melawan dunia luar seperti dulu lagi.
__ADS_1
Usahaku tak sia-sia. Dengan kegigihan dan bulatnya tekad, aku berhasil menjadi seorang dokter kandungan di salah satu rumah sakit ternama. Alhamdulillah, pernah masuk rumah rehabilitasi tak membuat ku kesulitan mencari rezeki.
Hidup yang sudah mulai ku tata ulang dengan sangat susah payah hampir saja di runtuhkan oleh seorang pria bejat. Karena aku menolak lamarannya, aku dijadikannya sasaran empuk untuk menuntaskan nafsu birahinya yang sedang di ubun-ubun. Beruntung ada kakakku yang saat itu datang menyelamatkan hidupku, mungkin jika mas Alvin tidak datang tepat waktu, aku sudah masuk rumah sakit jiwa.
Setelah kejadian itu, aku trauma kembali. Aku takut jika kemana-mana tak ada yang menemani. Karana sangat tertekan dan tak nyaman dengan ketakutan ku ini, aku memutuskan untuk memakai cadar agar wajahku tak terekspos oleh siapapun kecuali keluarga ku sendiri. Dengan begitu, tak ada lagi kaum adam yang bisa bernafsu ketika melihat ku. Bukannya aku terlalu percaya diri dengan kecantikan yang aku punya, bukan. Aku hanya menjaga pandangan kaum adam agar tak ada lagi yang menyunting ku sebagai istrinya dalam waktu entah sampai kapan. Karwna jujur saja, aku masih trauma dan takut dengan pernikahan dan juga laki-laki. Arkan membuatku sadar, bahwa manusia bisa berubah secepat kilat.
Hidup membawaku ke segala arah dan segala macam warna. Tuhan kembali mempertemukan aku dengan manusia-manusia yang unik dan aneh sekali. Aku bertemu dengan pria bernama Bari, melalui saudara perempuan ku. Sungguh lucu sekali jika mengingat hal ini. Beberapa kali aku tak sengaja memergoki dirinya yang bermesraan dengan berbagai macam bentuk wanita dan salah satunya sepupuku sendiri.
Aku tahu Bari bahkan sebelum aku bertemu dengannya di rumah Diana. Aku seringkali melihat dia di pusat perbelanjaan, restoran, salon dan juga tempat elit lainnya. Dan dia mendatangi semua tempat itu dengan wanita yang berbeda.
Dan akhirnya yang aku tunggu terjadi. Malam itu Diana memergoki kekasihnya yang sedang membelanjakan wanita lain. Di satu sisi aku bersyukur akhirnya kebusukan Bari terbongkar, namun di sisi lain aku merasakan kasian dengan Diana yang menangis tersedu sedu sepanjang malam dan di tambah keesokan harinya semakin terpuruk. Untungnya itu hanya berlangsung selama dua hari saja, setelah itu dia kembali seperti semula dan bahkan ingin berhijrah seperti ku. Alhamdulillah.
Satu lagi yang membuat aku geli sendiri, aku tak tahu apa yang ada di pikiran Bari. Tak berselang lama setelah putus dengan Diana, pria itu malah berusaha mendekati ku dengan berbagai cara. Aku tak suka dengan caranya, sering datang ke masjid hanya untuk mengincar sesuatu. Bagaimana tidak aku berpikir begitu? Dia datang setiap sore dengan membawa gombalan dan juga hadiah untuk anak didikku. Aku sangat jengkel dan merasa terganggu dengan kehadiran dirinya.
__ADS_1
Karena tindakannya itulah yang membuat anakku menjadi sedikit tergantung padanya. Dia jadi mengharap hadiah-hadiah lainnya. Mungkin semua anak didikku sama seperti anakku, Caca. Mereka datang mengaji dengan harapan dan Bari yang memberikan meraka hadiah.
"Bun, om Bari itu teman bunda ya? Kenapa om Bari selalu ngajak ngomong bunda?" tanya caca di suatu sore seraya berjalan menuju masjid.
"Bukan. Om Bari itu teman tante Diana. Udah ya, jangan bahasa om Bari. Nanti om Bari keselek, kasian." Aku menjawab sekenanya saja dan berusaha untuk memberi pengertian pada Caca untuk tak menanyakannya lagi dengan bahasa yang mudah dia pahami.
Di jalan, kami bertemu dengan mas Alvin. Caca biasa memanggil kakakku itu dengan sebutan abi, biar sama seperti kakak sepupunya katanya.
Kami bercanda ria seperti biasa, seperti saat kami berkumpul di rumah. Kebetulan mas Alvin sudah menikah dan membangun rumah yang hanya berjarak dua rumah dari rumah ibu. Jadi mas Alvin bisa ke rumah setiap saat.
Begitu sampai masjid aku melihat mobil yang familiar di netraku. Aku tahu itu mobil Bari, namun tak ku lihat batang hidungnya. Ah apa peduli ku.
Namun, setelah hari itu, aku tak pernah lagi melihat Bari ke masjid. Jujur saja, aku sedikit terganggu dengan anak-anak yang jika mengaji terkadang menengok ke arah halaman. Aku tahu siapa yang mereka tunggu, dan aku kesal karena Bari berhasil mengambil hati anak-anak didikku dengan cara menyogoknya dengan hadiah.
__ADS_1
Bersambung