Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 37


__ADS_3

"Fir, cari tahu soal mantan suami Arumi," ucap Bari sambil berjalan menuju ruangannya. "Dan ya cari tahu juga bagaimana sikap mantan suaminya saat jadi suami Arumi. Apa sih nabrak-nabrak."


"Tuan berhenti nggak bilang, saya kan sedang cek email di hape saya tuan."


"Jadi lo nggak denger tadi gue ngomong apa?" tanya Bari membalik badannya ke belakang dan berkacak pinggang.


"Denger tuan. Saya harus mencari tahu tentang mantan suami Arumi dan sikapnya saat menjadi suaminya."


"Bagus," tukas Bari lalu kembali berjalan cepat.


"Apa saya harus meninggalkan kantor untuk menjalankan tugas ini tuan?"


Pertanyaan Firdaus sontak saja sukses membuat langkah Bari terhenti dan kembali menatap sekretarisnya dengan tajam.


"Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Firdaus tanpa dosa.


"Iya. Fatal malah, gue minta lo cari tahu maksudnya ya nyari tahu lewat anak buah gue. Lo hubungi mereka. Masih nanya lagi lo. Jangan kepedean buat bisa ninggalin kantor," omel Bari lalu melangkahkan kakinya lagi.


Harga diri Firdaus sudah lama hilang di tangan Bari. Kadang karyawan lain sampai menatap iba ke arah sekretaris tuan mereka. Padahal, mereka tak tahu saja jika Firdaus tak ambil pusing dengan omelan dan amarah Bari.


"Apa lihat-lihat, kerja sana yang bener. Gue pecat lo ntar," ancam Firdaus pada karyawan baru yang baru pertama kali melihat Bari ngomel pada sekretarisnya.


"Bapak siapa bisa pecat saya?"


"Calon adik ipar tuan Bari," jawab Firdaus jumawa.


Seketika dua karyawan yang adu pandang dengannya tertawa kecil dan berusaha menahannya.


"Apa ketawa? Nggak.."


"Firdaaaaa." Belum selesai Firdaus menyelesaikan ucapannya, Bari sudah berteiak memanggilnya.


"Urusan kita belum selesai."

__ADS_1


Kedua karyawan yang sempat merasa iba tadi jadi tertawa melihat kekonyolan tingkah kedua atasannya itu.


*


Di tempat lain, Arkan dan Dinda sedang berkabung. Buah hati yang mereka nantikan selama kurang lebih lima tahun kini harus pergi untuk selamanya karena lahir belum waktunya.


Arkan merasa ini adalah karma untuk dirinya. Dahulu, saat masih bersama dengan Arumi, ia menyia-nyiakan anak yang di kandungan istrinya. Bahkan ada niatan untuk melenyapkan darah dagingnya.


Arkan beserta istrinya kini hanya bisa menangisi kenyataan. Hanya itu yang bisa mereka lakukan, berharap mempunyai anak lagi pun mustahil karena rahim Dinda yang bermasalah mengharuskan rahimnya diangkat. Pupus sudah harapan mereka untuk memiliki keturunan.


"Makan dulu ya Din. Dari semalam kamu belum makan. Kamu harus makan biar cepat pulih," bujuk Arkan pada istrinya yang sejak semalam hanya diam membisu.


"Nggak mau."


Arkan sebenarnya juga rapuh dengan keadaan yang menimpa keluarga kecilnya. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk kuat agar Dinda tak semakin terpuruk. Arkan sudah berusaha membujuk Dinda untuk tidak larut dalam kesedihan ini meskipun dirinya sendiri hancur dan sakit karena kehilangan anaknya.


"Kembalikan anakku mas. Aku mau anakku," ucap Dinda lirih.


"Anak kita udah di surga Dinda. Jangan di tangisi, kasihan dia. Aku juga sedih, tapi yang dia perlukan hanya doa dari kita. Ikhlaskan Din, nggak apa-apa kalau kita hidup hanya berdua sampai akhir hayat. Kamu harus sehat buat aku," kata Arkan menggenggam erat tangan istrinya.


Dengan gerakan terpaksa, Dinda menganggukkan kepala.


Tidak ada yang seorang ibu yang tak hancur ketika kehilangan anak. Begitu pula dengan Dinda. Di tengah-tengah masa terpuruknya, terbesit bayangan masa lalunya yang bersedia menjadi kekasih Arkan ketika pria itu berstatus sebagai suami orang. Apalagi kala itu istrinya sedang hamil, dan inikah balasannya? Dirinya jadi sulit hamil, dan sekali hamil langsung diambil oleh yang maha pemberi kehidupan, beserta rahimnya pula.


"Kita sedang berada dalam masa pembalasan mas," ucap Dinda tiba-tiba yang membuat Arkan mengerutkan dahi.


"Gimana maksudnya?"


"Kita dulu berbuat kesalahan dengan Arumi. Terlepas dia hamil anak siapa, anak kamu ataupun selingkuhannya. Perbuatan kita tuh salah, dengan terang-terangan kita menjalin hubungan di depan Arumi itu menyakiti hatinya."


"Iya, aku juga berpikir begitu. Kemarin waktu kamu masih mengikuti kelas renang. Aku ketemu lagi sama Arumi. Kamu ingat, wanita yang nggak sengaja tabrakan sama aku? Yang pakai cadar, itu ternyata Arumi. Aku tahu dari anaknya, anak Arumi ternyata perempuan, dan dia mirip banget sama aku. Begitu aku tanya, ternyata memang anak itu adalah anak yang dia kandung waktu masih jadi istri aku."


"Jadi ada kemungkinan anak itu anakmu mas?" tanya Dinda terkejut.

__ADS_1


"Bisa jadi. Kan kalaupun Arumi sudah menikah lagi nggak mungkin punya anak sebesar itu kan?"


"Sikap Arumi pas ketemu kamu gimana?"


"Apalagi yang di rasakan selain kebencian sama aku Din. Aku sentuh anaknya aja nggak boleh."


"Anak siapa maksudnya?" sahut ibu Arkan.


Entah sejak kapan wanita itu mendengar obrolan sepasang suami-istri itu. Mendengar keseluruhan atau setengah tak ada yang tahu. Ibu Arkan adalah orang yang paling mengharapkan anak dari Arkan. Wanita ini bahkan sering kali menyindir Dinda sebagai wanita mandul dan kata kasar lainnya.


Memang tidak ada orang tua yang menginginkan cucu dari anaknya. Semua orang tua pun pati mengharapkan seorang cucu. Tapi bukan berarti menghina atau mengatai wanita lainnya dengan kata-kata kasar yang justru akan membuat wanita itu semakin down. Kita tak tahu seberapa kuat metal seseorang, itulah sebabnya kenapa menjaga ucapan itu penting.


"Ibu sejak kapan di sini?" tanya Arkan sedikit terkejut.


"Barusan. Anak siapa maksudnya Ar? Ngomong-ngomong ini nasib kamu ke depannya gimana? Kamu nggak akan punya anak kalau tidak punya istri lagi. Cari istri mbok ya yang sehat," gerutu ibu Arkan.


"Ibu, ibu bisa nggak jaga perasaan Dinda? Kami baru saja berkabung bu, tidak ada satupun manusia di dunia ini yang ingin di posisi kita. Ibu sama Dinda kan sama-sama wanita, kenapa ibu tidak bisa jaga perasaan wanita lainnya? Bagaimana jika anak perempuan ibu diperlakukan seperti ini sama ibu mertuanya? Ibu nggak mikir itu kah?"


"Sejak menikah sama Dinda kamu jadi sering lawan ibu ya?"


"Bukan melawan ibu, tapi aku hanya ingin ibu tahu dan paham situasi. Dan ibu nggak usah nambah beban buat Dinda. Dengan keadaannya yang sekarang saja dia sudah terpuruk bu, nggak perlu ibu tambah-tambah lagi derita Dinda."


"Bukan nambah beban Ar. Tapi ibu hanya bicara kenyataan."


"Ibu nggak perlu bicara kenyataan, tanpa bicara pun kita tahu kenyataan bu. Ibu bukannya hibur kita tapi malah nambah beban buat kita bu. Kita perlu penguat bukan perusak mental bu."


Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya ibu Arkan geram dan marah. Beliau pergi meninggalkan anak menantunya berada di ruangan yang bau obat itu.


"Maafin ibu ya. Jangan diambil pusing, yang terpenting adalah aku yang selalu ada di posisi kamu."


"Sudah biasa mas, aku sudah terbiasa dengan hinaan."


Arkan lalu memberikan pelukan hangatnya pada istrinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2