
Bari merasakannya hawa panas di saat ac yang ada dalam mobilnya menyala. Entahlah, ia terlalu bahagia dan gugup dalam satu waktu. Rasa tak percaya masih saja berdatangan di kepala dan hatinya.
"Rum, kamu lagi nggak ngeprank aku kan? Kamu mau nikah sama aku karena memang itu dari hati kamu kan?" tanya Bari lagi memastikan.
"Harus berapa kali aku katakan Bari. Apa aku harus mengumumkan apa yang aku katakan tadi di masjid? Apa kamu ragu menikah denganku? Kamu bisa mundur sekarang kalau kamu merasakan itu."
"Tidak tidak. Aku hanya masih nggak percaya aja. Kalau begitu, lusa akan aku bawa ibu ke rumahmu untuk melamar mu sekaligus membicarakan pernikahan kita. Bagaimana?"
"Terserah kamu saja, Bari."
Tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan Bari saat ini. Tidak ada ada hari yang lebih indah dari hari ini.
"Terima kasih Arumi. Mungkin aku nggak bisa menjanjikan apa-apa. Aku hanya akan belajar menjadi yang terbaik saja, terbaik dari yang terbaik."
"Terima kasih juga untuk kasih sayang mu pada anakku."
"Anak kita," ralat Bari cepat.
Arumi mengatupkan mulutnya di balik cadar. Arumi hanya manusia biasa, ia juga akan merasakan bahagia jika di perlakuan dengan begitu baik. Ia berharap pernikahan nya yang bahkan belum ia jalani adalah pernikahan yang terakhir. Ia tak mau lagi mengalami masa-masa sulit yang sudah pernah ia lewati.
Begitu sampai rumah, seperti biasa, Bari akan mengambil alih Caca dari pangkuan Arumi. Anak kecil itu sudah tertidur dengan lelap. Setelah itu Bari berbincang dengan ibu Arumi sejenak. Ia mengutarakan niatnya untuk melamar Arumi lusa.
Hal yang mengejutkan bagi ibu Arumi, namun beliau dengan senang hati menerima pinangan Bari. Tidak ada alasan bagi ibu Arumi untuk menolak niat mantan Casanova itu.
Bari pulang dengan hati riang gembira. Bak anak TK yang akan pergi liburan nab jauh di sana. Dengan ditemani senandung dari siulan dari mulutnya, ia berjalan menuju dalam rumah. Seperti biasa, sudah ada ibunya dan sang adik yang sedang melihat acara TV. Apa lagi jika bukan drama Korea yang para aktornya sebenarnya sama tampannya dengan Bari.
__ADS_1
"Selamat malam wanita-wanita ku," sapa Bari seraya mencium pipi keduanya.
"Apa sih kak, ih jijik tahu," protes Farah mengusap kasa pipi bekas ciuman sang kakak.
"Iya, bolehnya cuman di sentuh bibir Firdaus."
Terjadilah perang mulut diantara kakak adik itu. Walaupun sudah sama-sama dewasa entah kenapa sikap mereka tak juga berubah. Masih saja seperti puluhan tahun lalu yang sering adu mulut lalu berakhir dengan Farah yang menangis dan mengadu pada ibunya.
"Kesambet apa kamu Bar?" tanya sang ibu melihat ada yang berbeda dari anak sulungnya.
"Lusa aku mau lamar Arumi bu. Dia usah bersedia jadi istri aku."
Entah terkejut atau bagaimana, kedua wanita yang duduk bersama Bari itu sama-sama batuk lantaran tersedak salivanya sendiri.
"Kok mendadak banget Bar."
"Ya kan kita belum ada persiapan apapun Bari. Kamu pikir lamar anak orang cuman bawa orang sama omongan?"
"Kan masih ada besok bu. Kita bisa siapin semuanya besok. Ok ibuku sayang." Bari melangkah pergi ke kamar setelah itu. Seperti tanpa dosa pria itu membiarkan ibunya yang sebenarnya masih terkejut dengan berita yang ia sampaikan.
Begitu sampai kamar, ia teringat dengan gamis cantik yang beberapa waktu lalu ia beli. Pria itu kembali menjereng gamis tersebut, ia lihat lagi dengan seksama dan ia teliti lagi setiap lekuk kain berwarna pink itu.
Bari berpikir ingin memberikan gamis ini untuk acara lamaran nanti. Dengan senyuman yang masih mengembang indah, ia melipat gamis tersebut dengan rapi dan meletakkannya ke dalam paper bag. Akan ia berikan besok pagi sebelum berangkat ke kantor.
Malam ini Bari bisa tidur dengan nyenyak. Harapan-harapan yang ia sampaikan setiap sepertiga malam sudah sedikit lagi bisa ia rengkuh.
__ADS_1
*
"Susah bu. Kalau untuk membebaskan Arkan sepenuhnya susah. Karena apapun alasannya, Arkan sudah salah, penculikan adalah tindakan kriminal. Arkan kenapa nggak pikir panjang sih bu?"
"Bukannya nggak pikir panjang. Ya kamu coba di posisi Arkan. Nggak boleh ketemu sama anak, bisa jadi kamu akan melakukan hal yang sama."
"Nggak lah bu, bodoh itu namanya. Memang Arkan akan jawab apa kalian polisi tanya alasan dia culik manta istrinya? Karena nggak diizinkan ketemu anaknya? Memang kenapa nggak boleh ketemu anaknya? Mau jawab apa coba si Arkan. Arumi dan calon suaminya itu juga pasti akan diminta keterangan bu. Dan itu juga akan menyudutkan Arkan nantinya."
"Kamu kan pengacara hebat dan terkenal. Kamu bisa menuntaskan kasus apapun dan berakhir dengan kemenangan mu. Masa masalah sepele kamu nggak bisa bantu?"
Begitulah ibu Arkan. Ia selalu menekan anaknya-anaknya untuk menuruti apa yang ia mau. Sekuat apapun anak-anaknya menolak, akan berakhir pada menyerahnya ketahanan mereka. Arkan contohnya, awalnya ia tak mau memaksakan kehendaknya untuk mengambil Caca seperti yang diminta ibunya. Namun, akhirnya ia lakukan juga karena tak tahan mendapatkan tekanan dari ibunya sendiri.
"Bu, tolonglah. Aku di negara orang membela kasus yang benar. Tidak di pihak tersangka seperti ini. Aku bisa bantu Arkan, tapi kalau untuk membebaskannya dari tuntutan nggak bisa. Jangan bertindak gegabah dengan memaksa Arumi untuk mencabut tuntannya bu. Jangan kasih ancaman-ancaman juga seperti yang ibu lakukan kemarin."
"Ya terus gimana? Kamu mau saudara kamu di penjara lama?"
"Ya mau gimana lagi. Mungkin aku bisa bantu untuk mengurangi saja. Arkan juga harus menunjukkan sikap yang baik selama di sana, supaya dia dapat keringanan. Kalau dia kelakuannya sama aja, ya itu terserah dia."
"Kok kamu kesannya kayak berpihak ke Arumi sih San?"
"Bukannya berpihak ke sana. Tapi memang aku rasa Arkan harus terima kenyataan bu. Dia nggak akan bisa mendapat pengakuan dari siapapun setelah ini. Caca lambat laun akan dewasa dan mengerti apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya. Dia akan mengerti bagaimana ceritanya kedua orang tuanya berpisah."
"Kamu cepat berubah ya. Tadi pas ada Arumi seakan akan kamu juga memojokkan dia. Sekarang kamu mojokin Arkan."
"Bukan memojokkam siapa-siapa bu. Aku nggak berpihak pada siapapun bu di sini. Arumi salah, Arkan juga jauh lebih salah. Memang tidak seharusnya Arumi memgarang cerita seperti itu. Tidak memberikan akses untuk bertemu dengan anak kandungnya juga tidak benar. Akan lebih memalukan kita kalau kasus ini di bawa ke ranah hukum lebih jauh bu, semua ini kan berawal dari Arkan juga. Tapi aku rasa setelah ini memang Arkan harus terima konsekuensi nya. Nggak akan pernah ketemu anaknya, adalah salah satu akibat nyata yang nggak akan pernah bisa di tawar lagi. Kecuali kalau anaknya sendiri yang mau ketemu sama ayahnya."
__ADS_1
"Malang sekali nasib Arkan. Kehilangan anak dan sekarang istrinya pun mandul, tidak berguna sama sekali," gumam ini Arkan kesal.
Bersambung