Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 84


__ADS_3

Setelah dinda pulang, Arumi kembali berdua dengan Caca. Wanita itu merasa masih ada yang aneh dengan anaknya, ia hanya diam sejak tadi. Ditanya pun menjawab dengan ekspresi datar dan sekenanya saja. Namun, Arumi lebih memilih untuk diam dan tak banyak bertanya, meskipun banyak pertanyaan yang menggelayut manja di kepalanya. Ia hanya berusaha positif thinking dengan berpikir bahwa Caca sedang lelah saja.


Merasa kepalanya sedikit pusing, Arumi mengajak Caca untuk tidur siang bersama. Namun, Caca menolak dengan alasan ingin bermain dengan Widya. Arumi membujuk anaknya untuk istirahat terlebih duhulu, namun awaban Caca tetap sama, yakni ia ingin bermain dulu dengan Widya.


"Ya udah, bunda istirahat dulu ya." Akhirnya Arumi membiarkan anaknya bermain dengan baby sitterya.


Seperti biasa, Bari akan pulang tepat pukul tiga sore. Begitu masuk ke dalam rumah, ia melihat anaknya yang hanya bermain dengan Widya. Bari yang biasa di sambut istrinya saat pulang menjadi bertanya-tanya dimana istrinya.


"Bunda mana nak?" tanya Bari menghampiri anaknya yang asyik dengan mainan.


"Tidur," jawab Caca tak mengalihkan perhatiannya pada mainan.


"Tumben," gumam Bari lalu beranjak pergi dari sana. Ia khawatir jika istrinya itu sakit, pasalnya ia tak pernah menemui Arumi yang tidur di hari yang menjelang sore.


"Tuh kan, ayah menghampiri kamu cuman nanya bunda aja dan langsung pergi. Nggak kayak biasanya kan? Nggak kayak bunda sebelum hamil," ucap Widya pelan.


Caca tak menjawab, ia semakin kesal dan berlari ke lantai atas menuju kamarnya. Sementara Widya hanya tersenyum puas.


Begitu sampai lantai atas, anak kecil yang masih polos itu berhenti di kamar orang tuanya yang kebetulan pintunya terbuka. Caca melihat Bari yang sedang mencium dan mengusap usap perut ibunya dengan kepalanya seperti sedang gemas.


Caca jadi teringat, ayah tirinya itu selalu memperlakukan begitu saat ia sedang merajuk padanya atau sedang bosan. Kalau sudah begitu, pasti Caca akan tertawa karena geli. Dan kini perlakuan itu diberikan juga pada adiknya yang bahkan belum lahir.


Ternyata kata mbak Widya benar, ayah sama bunda nggak sayang aku lagi. Mereka sibuk sama dedek bayi yang ada di perut bunda. Batin Caca melanjutkan langkahnya dengan air mata yang sudah menetes tanpa diminta.

__ADS_1


"Mas, apa Caca lagi tidur? Kok nggak ikut kamu ke sini? Biasanya kan nemplok sama kamu."


"Lagi main sama Widya di ruang tengah."


"Main? Masih main? Caca udah dari pulang sekolah main sama Widya. Ini yang nggak aku suka kalau anak di asuh sama baby sitter. Jadi berantakan semuanya, Caca kalau keseringan nggak tidur siang itu nanti dia pasti akan sakit karena kelalahan. Daya tahan tubuh Caca beda mas, dia nggak sekuat anak pada umumnya, dia harus tidur kalau siang." Arumi kesal dan beranjak dari tempat tidurnya.


"Sayang, sayang. Pelan-pelan jalannya, jangan marah-marah. Biar nanti aku bilang Widya ya. Nanti aku beritahu Caca juga. Udah kamu mandi, udah sore."


Arumi menurut, percuma juga jika harus berdebat dengan suaminya. Ujung-ujungnya ia juga yang akan kalah.


"Tapi mas, Caca seharian ini agak beda. Aku nggak tahu kenapa, sejak sepulang sekolah tadi dia lebih banyak diam. Aku tanya ada apa? Kenapa? Jawabannya selalu saja tidak apa-apa. Aku tanya Widya, apa barangkali Caca ada berantem sama temennya, katanya juga nggak."


"Jangan dipikirkan sayang. Barangkali dia capek, butuh istirahat aja. Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang sepele begini. Namanya juga anak kecil kan pasti ada masa dia sedang badmood juga. Jangan dikira orang dewasa aja yang punya mood buruk. Kamu harus ingat, ada nyawa dalam perut kamu. Jaga dia juga, dia masih lemah. Untuk yang lain biar aku yang atasi, kamu hanya nurut dan fokus sama ini," kata Bari panjang lebar seraya mengelus lembut perut istrinya.


Jika sudah begitu, Arumi hanya bisa mengangguk pasrah dan menuruti keinginan suaminya. Saat akan sedang berangkat mandi, tak sengaja sudut netra Arumi melihat luar kamarnya yang berdiri sosok Widya di tengah-tengah pintu. Ia baru sadar jika pintu kamar tersebut tak ditutup oleh suaminya.


"Kenapa? Duduk sayang duduk. Kenapa? Kenapa sakit perutnya, kita ke dokter?" tanya Bari panik.


"Nggak usah mas, mau tiduran lagi boleh ya, sambil di elus-elus perutnya," ujar Arumi manja seraya melirik Widya yang masih berdiri di tempatnya.


Arumi sebenarnya tak tahu apa yang dipikirkan oleh baby sitter anaknya itu, ia hanya curiga saja kenapa akhir-akhir ini ia sering ketahuan curi-curi pandang dan berpenampilan menor. Ia curiga jika gadis itu sedang mencari perhatian suaminya.


Biar bagaimanapun, Bari masih terlihat tampan di usia yang sudah kepala tiga. Wajahnya bersih dan terawat sehingga nampak awet muda.

__ADS_1


"Ya udah sana baring. Nggak apa-apa nggak mandi juga, aku tetap sayang," kata Bari seraya mengelus-elus perut istrinya.


Arumi melihat Widya pergi dari sana dengan kesal. Arumi tersenyum tipis dengan aksi Widya yang sangat kentara jika ia diam-diam menyukai suaminya.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Ha? Nggak, nggak apa-apa. Aku hanya bahagia saja mas, aku bisa bertemu dan dinikahi oleh pria yang mencintaiku dengan tulus. Terima kasih sudah menyembuhkan luka ku secara perlahan dan sabar."


"Kenapa harus terima kasih? Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki yang mencintai seseorang. Aku yang beruntung mendapatkan kamu."


"Mas, ambil Caca suruh dia mandi terus istirahat. Aku nggak mau dia kelelahan, dia gampang sakit mas."


"Ya udah, aku tinggal sebentar ya."


*


Di tempat yang lain, Arkan sedang memperhatikan ponsel istrinya. Ia berusia bahagia melihat Caca yang sedang bermain dan bercengkrama dengan istrinya itu. Saking bahaginya ia sampai menitikkan air mata.


"Kamu melakukan ini untukku? Terima kasih Din. Aku nggak tahu lagi bagaimana hidupku tanpa kamu."


"Hal itu tidak akan terjadi mas. Mau apapun kondisi dan keadaan kamu, aku akan tetap ada sama kamu. Aku akan sering main ke rumah Arumi untuk mengabadikan momen seperti ini."


"Nggak usah sayang. Ini saja sudah cukup, jangan sering-sering ke sana. Aku nggak mau kalau mereka justru akan berpikir yang tidak-tidak. Ini saja sudah lebih dari cukup."

__ADS_1


Mereka lalu melanjutkan obrolan yang ringan-ringan saja. Membicarakan keseharian selamadi dalam tahanan dan mengenai keseharian Dinda. Mereka sama-sama menguatkan satu sama lain. Meskipun kini sedang di uji dengan dipisahkan sementara, mereka bertekad akan kuat dan menikmati perpisahan ini sebagai penguat kadar cinta mereka.


Bersambung


__ADS_2