
Bari panik begitu melihat Arumi yang tergeletak di lantai. Ia bingung harus bagaimana, belum ada orang di sekitar sana. Ingin mengangkat pun rasanya ia ragu, ia masih ingat dahulu hanya mencengkram tangannya saja susah di tepis degan cepat.
"Anak-anak tolong pinjam minyak kayu putih ke rumah terdekat ya. Dua anak aja, yang lain yuk pijit telapak tangan sama telapak kaki bu Arumi."
Semua anak yang berada di situ seketika menurut dengan titah Bari. Hanya ini yang bisa ia lakukan, tak mungkin ia membawa Arumi pulang, ia belajar untuk menghormati dan menghargai wanita yang kini sedang jauh dengannya.
Begitu minyak kayu putih berada di tangan Bari, pria itu bingung bagaimana cara menghirupkan di hidung Arumi. Di saat yang bersamaan datang Alvin dengan wajahnya bingungnya. Ia nampak terkejut dengan keadaan Arumi yang tak sadarkan diri.
"Arumi kenapa Bar?" tanya Alvin
"Nggak tahu bang, tiba-tiba aja pingsan tadi. Maaf bang aku biarin dia tergeletak di sini, bingung juga mau minta bantuan siapa buat angkat. Kita bawa aja ke rumah sakit gimana bang?" ujar Bari panik.
"Nggak usah, kita bawa pulang aja. Dia kecapean kayaknya."
Sementara itu, Caca terus menangis mendapati ibunya yang tiba-tiba saja pingsan.
"Bunda," panggil Caca lirih.
"Bunda nggak apa-apa sayang. Om gendong ya."
Bari menarik Caca ke dalam gendongannya, namun anak kecil itu menggelengkan kepala tanda tak mau. Ia memilih berjalan dengan cairan bening yang masih turun dengan derasnya.
Hati Bari menciut seketika. Pedih hatinya mendapat penolakan dari kedua wanita yang ia perjuangkan. Tak apa, hanya masalah waktu saja. Lambat laun kedua wanita yang sedang merajuk padanya itu akan dimilikinya.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah. Rentetan pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut ibu Arumi. Wajar saja, melihat anaknya yang tak sadarkan diri pasti akan membuat panik semua orang tua.
Bari hanya menunggu di rumah tamu, ia ta mau masuk karena bantu pasti Arumi akan dibuka cadar nya. Meskipun penasaran dengan bentuk rupa wanita yang mencuri hatinya, ia tetap harus menjaga attitude dan menunjukkan sikap baiknya. Mudah-mudahan bisa menjadi nilai plus di mata Arumi, harap pria tiga puluh tahun itu.
Setelah menunggu sekitar tujuh menit, akhirnya Alvin keluar kamar Arumi.
"Gimana bang? Udah sadar?" tanya Bari langsung ke intinya.
"Alhamdulillah sudah. Kecapean aja dia, mungkin juga banyak pikiran. Akhir-akhir ini kata ibu memang makannya dia nggak teratur. Jadi lemes, Arumi kalau banyak pikiran ya begitu, imbasnya pada makanan."
__ADS_1
"Memang apa yang dia pikirkan?"
"Nggak tahu, ibu juga aku tanya belum tahu. Nanti pelan-pelan kita akan tanya. Nggak mau masuk ke dalam?"
"Mau sih bang, tapi aku takut Arumi marah. Aku pamit pulang aja. Salam buat Arumi sama Caca."
"Di sini dulu Bar, pulang habis maghrib aja. Sebentar lagi udah maghrib, nggak baik kalau maghrib-maghrib di jalan," sahut ibu Arumi yang datang dari belakang dengan membawa sebuah nampan berisi dua cangkir teh hangat. "Minum dulu, makasih bantu Arumi ke sini ya," lanjutnya.
"Saya tidak melakukan apa-apa bu. Hanya saya kebetulan tadi di sana. Saya memang mau lihat Caca aja tadi, pas mau balik malah anak-anak teriak dan saya lihat Arumi sudah tergeletak di lantai."
Setelah bercengkrama sebentar, Alvin pamit pulang karena senja sudah menyapa sejak tadi dan sebentar lagi akan adzan maghrib. Ia harus pulang karena sang istri tak berani jika di rumah
sendirian di malam hari.
Obrolan berlanjut antara Bari dan ibu Arumi. Wanita itu mengatakan Arumi seperti banyak pikiran saat Bari tak ada kabar. Hal itu membuat kening Bari mengernyit. Ia heran sekaligus ge er, apakah Arumi memikirkan dirinya yang menghilang? Pikir Bari percaya diri.
Tak berselang lama, Caca datang ke ruang tamu. Anak kecil itu mengatakan bahwa ibunya lapar dan ingin makan.
"Ca nggak mau temani om di sini?" tanya Bari saat ibu Arumi berjalan ke belakang.
"Sayang, hey. Om minta maaf, om nggak bermaksud buat ingkar janji, om lupa kalau kemarin om harus menghadiri acara di sekolah kamu. Hape om juga lupa naruh dimana sampai mati hapenya. Maafin om ya, kamu mau apa biar kamu maafin om, mau jalan-jalan? Es krim? Renang?" tanya Bari seraya berusaha menarik Caca duduk di pangkuannya.
"Nggka mau," jawab Caca masih dengan nada ketusnya.
"Caca mau apa? Om sedih kalau kamu marah terus sama om. Atau gini aja, kamu hukum om deh," kata Bari memberi penawaran.
Caca diam tak menjawab. Ia masih menyilangkan tangan di depan dada dengan bibir yang masih mengerucut. Melihat hal itu timbul jiwa iseng Bari. Tangannya tiba-tiba saja menggelitik perut Caca hingga anak itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Ampun om ampun," kata Caca di sela tawanya.
"Dimaafin nggak? Digelitik terus nih," balas Bari yang terus melancarkan aksinya.
"Iya iya. Aku maafin udah." Akhirnya kata yang diharapkan Bari meluncurkan juga dari mulut Caca.
__ADS_1
"Nah gitu dong. Sini peluk cium dulu."
Anak kecil yang sedikit banyak merubah hari Bari menjadi lebih berwarna. Bari menyanyangi Caca seperti anaknya sendiri, entahlah rasa itu timbul dan tumbuh begitu saja hingga ia lupa bagaimana cara menghentikannya, atau bahkan mungkin ia tak akan bisa menghentikan rasa itu. Karena semakin hari Bari semakin tak ingin jauh dari Caca dan ibunya.
"Makasih hadiahnya ya om aku suka."
"Iya sayang, sama-sama."
Di detik berikutnya, terdengar lantunan adzan maghrib berkumandang.
"Sholat berjamaah yuk om," ajak Caca dengan senyum yang sudah mengembang seperti biasa.
"Berjamaah? Di Masjid?"
"Nggak, di rumah aja. Kan bunda lagi nggak sehat. Masak aku tinggal berdua sama oma aja. Nanti nggak ada yang temenin. Om yang jadi imam buat aku, bunda sama oma," ucap Caca dengan polosnya.
Bari seketika tersedak mendengar kalimat Caca.
"Kenapa?" tanya Caca bingung melihat Bari yang tiba-tiba batuk-batuk.
"Sayang, mana bisa om jadi imam. Om nggak pernah ngimamin sholat."
"Bisa om, katanya om mau jadi ayah aku. Ya sekarang aja belajarnya, biar nanti kalau om udah jadi ayah aku, om udah terbiasa."
"Caca! Nggak ada yang ngajarin kamu buat bicara begitu," sahut Arumi sedikit marah.
Caca seketika menundukkan kepala dengan wajah takut bercampur kesal. Caca selalu terlihat takut saat Arumi mulai bicara dengan nada sedikit keras dan tegas.
"Rum, kamu ini apa-apaan sih, kamu bisa ngasih tahu pakai nada pelan. Kenapa apa-apa kamu selalu marah ketika ada sesuatu hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kamu," sahut Bari berdiri dan menatap Arumi dengan kesal. Entah kenapa ia selalu kesal saat melihat Arumi membentak atau bicara dengan nada tinggi pada Caca.
"Kamu juga harus jaga bicara Bari. Kamu nggak ada hak untuk melarang ku melakukan apapun pada anakku."
"Jangan bicara hak Arumi, jelas aku kalah jika kamu membicarakan hal itu. Caca, kita ambil wudhu sekarang. Kita sholat berjamaah," ajak Bari namun tatapan matanya masih intens memandang Arumi yang membuat jantungnya berdebar tak karuan.
__ADS_1
Meskipun Bari di luar nampak kesal dan marah dengan wanita itu, di dalam hatinya tetaplah ia mengagumi sosok Arumi. Ia bersikap begitu agar Arumi sadar bahwasanya ia salah dalam memperlakukan anaknya sendiri.
Bersambung.