Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 36


__ADS_3

Pukul setengah tiga sore mereka keluar dari wahana kolam sekaligus restoran itu. Mereka melakukan ibadah sholat terlebih dahulu sebelum pulang. Caca terlihat kelelahan dan menahan kantuk yang amat terasa menyiksanya jika tak segera di tidurkan.


"Dibelakang ada bantal Rum, sebentar aku ambilkan dulu buat tiduran Caca ya."


Baru menata kursi belakang garis nyaman untuk Caca tidur. Anak kecil itu tanpa aba-aba langsung saja merobohkan dirinya di kursi. Bai hanya geleng kepala seraya tersenyum kecil.


"Terimakasih ya Bar sudah buat Caca senang hari ini," kata Arumi sesaat setelah mobil melaju.


"Iya sama-sama. Aku ikut bahagia melihat kalian bahagia. Mau percaya atau tidak, aku udah berubah Arumi. Kamu bisa menguji ku dengan caramu jika kamu berkenan."


Arumi hanya diam. Ia tak tahu harus jawab apa. Karena pikiran dan hatinya sendiri sekarang sudah tak bisa diajak bekerja sama. Ia tak bisa memikirkan apapun lagi.


Bari sendiri juga sedang memikirkan perkataan Caca sebelum pulang. Tadi, sebelum mereka pulang, pada saat Arumi pergi ke toilet Bari sempat bertanya pada Caca perihal mereka yang katanya dikejar orang.


"Bunda bilang itu orang gila. Om-om tadi juga mau pegang kepala aku. Tapi kepala aku langsung dipeluk sama bunda. Terus bunda bilang. Jangan sentuh anakku, kamu yang tidak mengakuinya dulu." Caca berhenti bicara sejenak untuk mengingat kata apa saja yang keluar dari mulut ibunya. "Aku setelah itu lupa om, bunda bilang apa. Yang aku ingat cuman kata-kata anak selingkuhan dan menyesal. Anak selingkuhan itu apa om?" tanya Caca di akhir ceritanya.


"Kamu belum saatnya mengerti. Nanti kalau sudah dewasa kamu akan mengerti segalanya tanpa dijelaskan. Simpan ini untuk diri kamu ya. Jangan bilang ke bunda kalau om tanya ini. Nanti bunda marah sama om. Kamu nggak mau bunda marah sama om kan?"


Anak kecil itu hanya menggeleng pelan.


Apa laki-laki yang menemui Arumi dan Caca itu mantan suami Arumi? Anak selingkuhan? Apakah mungkin mantan suaminya itu salah paham saat Arumi hamil? Apa Arumi benar-benar selingkuh hingga hamil. Tapi rasanya tak mungkin jika Arumi melakukan hal itu apalagi sampai hamil. Kalau dia melakukan itu nggak mungkin dia sampai trauma hingga sekarang. Aku harus cari tahu sendiri bagaimana masa lalu Arumi da mantan suaminya.


"Patah hati itu jahat ya Rum," ucap Bari memecah keheningan.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Yang bikin patah satu orang, yang kena imbas semua orang."


"Bicara pada intinya saja, jangan buat aku berpikir."


"Hati kamu dipatahkan satu pria, tapi yang kena imbas semua pria. Padahal nggak semua pria seperti mantan suami kamu dulu. Nggak bisa kamu memukul rata semua pria begitu. Lalu kamu memutuskan untuk menutup diri dan hati kamu dari hiruk pikuk percintaan yang sebenarnya indah dimata semua orang. Mungkin di mata kamu juga. Aku yakin sebenarnya hati kamu belum mati untuk menerima atau merasakan apa itu cinta."


"Siapa yang bilang aku memukul rata semua pria itu sama? Aku menutup diri bukan berarti aku begitu. Nggak Bari, aku hanya ingin istirahat. Kamu tidak tahu apa yang terjadi dan kejadian apa saja yang aku lewati untuk sampai di titik ini. Di titik dimana aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri, aku bisa melawan trauma yang pernah singgah di diri aku. Itu semua nggak gampang buat aku. Aku perlu waktu yang lama untuk bisa seperti sekarang, dan aku nggak mau hanya karena kamu datang dengan hal yang kamu sebut cinta, terus aku menerima begitu saja. Nggak bisa Bar. Lagian kamu tahu apa sih tentang masa lalu aku?"


Baru kali ini Arumi bicara panjang lebar dan itu mengenai apa yang sebenarnya ia rasakan. Sepertinya Bari sukses membuat Arumi sedikit demi sedikit terbuka padanya.


"Aku memang baru datang dalam kehidupan kamu Rum. Tapi sedikit banyak aku tahu bagaimana masa lalu kamu. Aku tahu bagaimana perjuangan kamu sampai di sini. Meskipun aku nggak ada di sisi kamu kala itu, aku tahu jadi kamu pasti nggak mudah dan aku tahu itu berat. Menyembuhkan luka hati memang memakan waktu yang lama. Tapi terkadang kita butuh bantuan orang lain untuk sembuh. Salah satunya dengan cara membuka dan membiarkan masuk pria yang sedang berjuang membahagiakan kamu dan anakmu."


"Wanita yang kuat tidak takut luka. Kamu bisa sampai di sini, itu artinya kamu kuat dan kamu adalah wanita pilihan. Pria yang tulus sama kamu nggak akan mungkin bawa luka baru buat kamu. Dia akan berusaha untuk nyembuhin kamu Arumi."


"Apa kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?"


Bari tertawa kecil, "apa aku terlihat begitu? Aku yakin kamu bisa menilai bagaimana aku tanpa aku jelaskan lagi. Seorang Bari yang mencari pacar hanya melihat fisik tanpa kenyamanan bisa jatuh cinta dan berjuang sedemikian rupa hingga detik ini pada wanita yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana bentuk wajahnya. Apa kamu pikir aku main-main?"


"Bisa jadi kamu hanya penasaran saja denganku. Kebanyakan pria kan begitu. Begitu sudah mendapatkannya, hilang penasaran dan juga rasa berjuangnya. Itu sudah hukum alam dan tidak ada yang melawannya."


"Kalau aku hanya penasaran, aku tidak akan melibatkan orang tua Arumi. Aku tidak akan datang ke rumah mu. Jika aku hanya penasaran aku juga tidak akan melibatkan Caca. Aku sayang sama dia sama kayak aku sayang ke kamu. Tanya ibu dan abang kamu. Aku sudah mendapatkan lampu hijau dari mereka untuk mempersunting kamu. Tinggal kamunya bagaimana?"

__ADS_1


"Hingga detik ini, aku belum melihat dimana perjuangan kamu."


Apa? Belum melihat perjuangan aku? Astaga apa yang salah dari matanya? Bagaimana bisa dia berkata begitu entengnya?


Tak berselang lama, meraka sampai di rumah.


"Biar aku yang bawa Caca masuk," ucap Bari saat Arumi hendak membuka pintu penumpang.


"Aku langsung bawa ke kamar ya. Aku udah tahu kamarnya." Bari meminta ijin dan hanya mendapat anggukan dari Arumi.


Suasana rumah masih sepi, nampaknya ibu Arumi belum kembali dari berpergian.


"Ibu belum pulang Rum?" tanya Bari seraya mendudukkan diri di kursi teras bersama Arumi.


"Belum, sebentar lagi juga pulang."


"Aku langsung pulang nggak apa-apa kan? Kamu kan harus istirahat juga. Nggak usah ke masjid dulu kalau capek. Jangan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu jika itu merugikan kamu nanti. Jaga kesehatan, aku pamit ya. Salam buat ibu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam. Sekali lagi terimakasih ya Bar."


Bari hanya mengangguk kecil dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Entah Arumi lihat atau tidak, biarkan saja. Batin Bari.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2