
"Kok bisa? Maksudnya gimana bisa ibu langsung bilang setuju? Main dukun lo pasti!" tuduh Bari curiga.
"Saya yang religius begini main dukun? Bukan level saya tuan, saya main aman saja."
"Farah bagaimana? Terima kamu emang?"
"Iya. Dengan senang hati, tanpa mikir lagi."
"Katanya tadi nggak bilang ke Farah, bilangnya ke ibu. Yang bener yang mana?"
"Ya saya awalnya bilang ke ibu Rahma dulu tuan. Setelah beliau setuju, beliau bilang ke Farah soal niat saya. Alhamdulillah satu minggu kemudian saya dapat kabar baik dari bu Rahma. Tapi syaratnya ya itu tadi."
"Lo nggak kasih kesempatan adik gue buat kerja? Biar dia tahu rasanya kalau cari uang susah. Dia boros soal sandang loh Fir."
"Rata-rata wanita kan seperti itu tuan. Lagipula hakikatnya seorang wanita kan di tanggung. Selagi saya bisa mencukupi kenapa tidak? Pelan-pelan akan saya rubah sifat boros Farah. Pokoknya tuan tenanglah. Farah berada di tangan yang tepat."
"Bisa ya Farah dengan mudahnya terima lo. Dia selektif banget setahu gue. Temen aja pilih-pilih dia."
"Jodoh nggak akan kemana. Mangkanya tuan ikuti cara saya nikung Farah, saya sebenarnya juga pakai jalur langit tuan. Mangkanya Allah mempermudah," kata Firdaus cengengesan.
Tak masalah bagi Bari jika Farah benar-benar akan menikah dengan Firdaus. Toh ia sudah kenal lama dengan pria yang berperan jadi sekretarisnya itu.
Firdaus adalah pria yang baik dan dewasa. Meskipun usia dirinya lebih tua dari Firdaus, ia mengakui kedewasaan Firdaus bukan main-main.
*
"Jadi kamu tadi sempat bertemu Caca?" tanya Dinda begitu suaminya selesai menceritakan apa yang ia alami di sekolah Caca.
"Iya. Baru mau bilang kalau aku ayahnya, tapi Arumi datang dan bawa Caca pergi."
"Kamu ingin anak atau ingin pengakuan mas? Jawab jujur," tanya Dinda sendu.
"Aku hanya ingin bisa bertemu dengan Caca, Din. Itu aja, aku nggak minta muluk-muluk."
__ADS_1
"Ya kan ibu udah bilang kalau kamu harus rebut anakmu dari Arumi. Kamunya aja yang klemar klemer," sahut ibu Arkan yang entah kenapa wanita itu selalu datang di saat yang tidak tepat. Selalu saja muncul di kala Arkan sedang pusing dengan situasi.
Arkan hanya menghela nafas panjang, ia sebenarnya sudah malas menanggapi ibunya yang selalu memprovokasi dirinya agar merebut Caca.
"Ar, kamu pikir iki baik-baik ya. Kamu nggak akan muda dan sehat terus. Kalau kamu nggak punya anak, bagaimana masa tua mu nanti. Siapa yang akan rawat kamu kalau kamu nggak ada anak. Mau nggak mau kamu harus rebut Caca dari Arumi."
"Apa yang dikatakan ibu benar mas," ucap Dinda tiba-tiba yang berhasil membuat Arkan terkejut. Dari awal Dinda sepemikiran dengannya, tapi kenapa bisa secepat itu berubah?
"Kamu yakin din?"
"Memang ada pilihan lain? Kalau aku pikir-pikir apa yang ibu katakan benar."
"Secepat itu kamu berubah?"
"Bukan berubah mas, tapi logika saja. Kita nggak bisa berdua terus. Kecuali, kalau kamu memang mau menikah lagi demi keturunan."
Tak tahu lagi harus berkata apa, Arkan memutuskan untuk pergi dari ruang tamu. Kedua wanita yang mengisi hidupnya telah membuat dirinya bingung.
"Sudah puas kan ibu?"
"Tentu saja." Ibu Arkan pulang tak lama setelah itu.
Rupanya, Dinda mendapatkan tekanan dari sang ibu mertua. Ibu Arkan meminta dirinya untuk berpihak padanya. Jika tidak, beliau akan membawa perempuan lain ke rumah untuk Arkan nikahi.
Tak ada wanita manapun yang rela di madu dengan alasan apapun. Tentu saja Dinda akhirnya menerima tawaran tersebut karena tak ingin di madu. Untuk pisah dengan suaminya pun rasanya tak mungkin.
Dinda sudah sebatang kara di dunia ini. Keluarganya sudah lama meninggalkannya karena kecelakaan maut yang menimpa mereka beberapa tahun lalu.
*
Beberapa minggu berlalu, setelah Caca memiliki bodyguard, tak ada lagi celah atau titik dimana Arkan bisa menemui Caca. Arkan jadi kesulitan dan mau tak mau harus melihat anaknya dari jauh.
Sejak itu pula, Arkan tahu kedekatannya Arumi dan Bari seakan berjalan tak seimbang. Tak mau kalah dari Bari, ia juga menyewa orang untuk mengetahui latar belakang pria itu. Dari anak buahnya lah Arkan tahu bahwa Bari sedang mengejar Arumi mati-matian.
__ADS_1
Hubungan Bari dan Arumi memang masih sama saja. Tak ada kemajuan yang bisa Bari banggakan. Namun, Bari tak ingin menyerah begitu saja, jiwa berjuang untuk mendapatkan Arumi masih berkibar hingga sekarang.
Tidak bisa bertemu lagi dengan sang buah hati satu- satunya membuat Arkan hilang kendali. Ia merasa Arumi sudah sangat keterlaluan. Ia tak di beri kesempatan untuk menebus kesalahan di masa lalunya. Seakan dirinya tak pernah melakukan kesalahan saja.
Siang itu, Arkan datang ke rumah sakit dimana Arumi bekerja. Ia ingin menanyakan apa sebenarnya yang Arumi mau, kenapa ia tak diberi kesempatan untuk melihat anaknya sendiri.
Arkan berjalan dengan amarah yang terlihat dari sorot matanya. Ia akan menemui Arumi yang sedang berada dalam ruangannya. Tanpa permisi atau mengucapkan salam apapun, Arkan langsung membuka pintu dan berjalan cepat ke meja Arumi.
"Apa maksud mu dengan semua ini Rum?" tanya Arkan tanpa basa basi.
"Apa kamu tidak pernah sekolah sehingga tidak tahu bagaimana cara bersopan santun pada orang? Tidak tahu adab masuk ruang kerja orang?" tanya balik Arumi dengan penuh penekan.
"Nggak usah banyak ngomong. Aku sudah cukup diam dan sabar ketika kamu tidak memperkenalkan diriku sebagai ayah pada anakku sendiri. Tapi kamu bertindak keterlaluan kali ini, bagaimana bisa kamu ingin memisahkan aku dengan Caca. Untuk apa kamu menyewa bodyguard untuknya? Aku bukan penjahat yang akan menyulik anakku sendiri. Aku kesulitan bertemu dengan anakku, apa maksudnya ini semua Rum? Caca berhak kenal aku dan tahu siapa ayahnya," protes Arkan panjang lebar.
"Tidak ada yang berhak melarangku untuk melakukan apapun. Dari Caca dalam perut, aku dan keluarga ku yang merawat, kamu ikut andil apa dalam kehidupan Caca? Bukankah kamu ingin dia lenyap?"
"Itu masa lalu dan kalian sudah memaafkan aku, lalu kenapa masih di bahas? Setiap orang punya kesalahan termasuk kamu. Jangan merasa paling benar dan merasa paling tersiksa di sini Arumi. Aku ada hak untuk bertemu Caca."
"Pergi, atau aku akan panggil satpam?" ancam Arumi yang sudah jengah.
"Panggil saja. Kamu akan malu sendiri jika sampai itu terjadi. Ayo panggil!" tantang Arkan.
"Apa yang kamu mau? Kamu sudah bertemu dengan anakku kan? Apa kurang lama? Apa kurang puas? Kenapa tidak kamu biarkan aku dan Caca menikmati hidup dengan tenang?"
"Apa menurut mu pantas kamu melakukan hal ini? Biarkan aku bertemu dengan Caca sepuas dan sesuka hatiku, atau akan aku ambil paksa dia darimu."
Tidak ada seorang ibu yang tak takut jika mendengar pernyataan begitu dari orang lain. Belum sempat Arumi menjawab, Arkan sudah buka suara kembali.
"Aku beri kamu waktu satu minggu. Jika dalam satu minggu, bodyguard kamu masih menjaga Caca. Aku pastikan, akan aku ambil Caca darimu."
Setelah puas melakukan pengancaman itu, Arkan meninggalkan ruangan Arumi dengan senyuman yang puas dan terlihat sangat licik. Ia meyakini Arumi akan takut dan akhirnya mau tak mau memberikan akses padanya untuk menemui Caca.
Bersambung.
__ADS_1