Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 57


__ADS_3

"Aku bisa sendiri bang, Arumi aja." Bari menolak uluran tangan dari Alvin. Ia lebih mementingkan Arumi, ia merasa jauh lebih baik setelah mendapat pengobatan dari wanita pujaannya.


Meski berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit di telapak kakinya, rasa perih yang diciptakan luka di kaki Arumi nampaknya membuat wanita itu tak bisa menyembunyikannya.


"Ada yang sakit Rum?" tanya sang kakak yang melihat ekspresi menahan sakit saat di papah berjalan.


"Telapak kaki mas. Kayaknya luka."


Tak mau melihat Arumi lebih sakit lagi, Alvin memutuskan untuk menggotong Arumi sampai masuk ke rumah dan meletakkannya di sofa ruang tamu.


"Bunda," teriak Caca seraya berlari ke arah ibunya dan memberikan pelukan rindu. "Bunda kemana aja, aku kangen sama bunda. Jangan pergi lama-lama lagi. Bunda nggak apa-apa kan? Bunda nggak dijahatin sama om-om itu kan?" Caca memeberikan berbagai pertanyaan yang menyiratkan bahwasanya ia khawatir dengan sang ibu.


"Arumi, ya Allah nak. Alhamdulillah ya Allah, ini dahi kamu kenapa? Apa Arkan yang melakukan ini?" tanya ibu Arumi yang melihat dahi sang anak memar.


"Nggak bu. Ini aku jatuh aja, kebentur batu pas mau kabur. Nggak apa-apa, hanya memar sedikit."


"Ini juga hasil kamu kabur Arumi? Telapak kaki kamu banyak luka terbuka seperti ini dan kamu diam aja dari tadi? Kamu malah sibuk sama luka aku?" sahut Bari yang melihat telapak kaki Arumi tak kalah parah dengan lukanya.


Melihat itu, ibu Arumi bergegas ke belakang untuk mengambil kotak obat.


"Bagaimana dengan Arkan? Apa dia sudah ditangkap polisi?" tanya ibu Arumi seraya mengobati luka pada anaknya.


"Sudah bu, ibu tenang saja. Sudah tidak ada lagi yang ganggu kita. Arkan susah ditangani oleh pihak yang berwajib," kata Bari.

__ADS_1


"Nggak semudah itu Bar. Jika kamu mengira Arkan akan diam saja dan dengan pasrah menjalani hukuman, kamu salah. Asal kamu tahu, Arkan punya saudara kembar yang berada di negara tetangga dan menjadi pengacara di ternama di sana. Tidak ada kasus apapun yang kalah jika dia yang pegang. Aku khawatir jika Arkan akan melibatkan kakaknya dalam masalah anak."


Bari sedikit tercengang dan terkejut, ia sampai linglung untuk beberapa detik. Ia tak tahu Arkan punya tameng yang mungkin saja cukup kuat.


"Terus kita harus bagaimana? Pantas saja dia santai dan tidak memberontak ketika dibawa polisi, rupanya dia punya backup."


"Kalian kan berada di pihak yang benar. Kenapa harus bingung mau bagaimana? Biar saja Arkan mau apa, dia jual kita beli. Kalau kita mikir yang nggak-nggak malah pusing." Ibu Arumi mencoba untuk mencairkan suasana. Beliau merasa semua akan baik-baik saja meskipun ke depannya meraka akan terus menerus di ganggu oleh Arkan dan keluarganya.


Bari semakin khawatir seteleh mendengar apa yang dikatakan oleh Alvin. Jika Arkan berhasil di bebaskan oleh saudara kembarnya, maka tidak menutup kemungkinan ia akan kembali berulah. Dan ia pasti akan menggunakan saudaranya itu untuk mengambil Caca dari ibunya.


Jika hubungan Bari dan Arumi seperti ini terus, maka Bari akan kesulitan untuk melindungi Caca dan ibunya. Secinta dan sepeduli apapun Bari terhadap mereka. Bari tetaplah orang lain yang tidak berhak untuk ikut campur jika suatu saat nanti masalah perebutan anak ini akan di bawa ke meja hijau.


"Bar, itu lukamu lebih baik di bawa ke dokter saja. Ibu takut kalau lukanya dalam."


Mereka tenggelam dalam obrolan ringan setelah itu. Hanya beberapa menit saja bergabung dengan mereka, Bari memutuskan untuk pulang. Rasa lelah sehabis pulang dari luar negeri belum juga pudar. Ditambah lagi dengan seharian ini ia tak istirahat.


"Jangan berdiri dulu Arumi, biarkan kakimu sehat dulu." Bari mencegah Arumi berdiri.


"Terima kasih Bari. Kamu sudah menolong ku. Sudah merelakan tubuhmu untuk babak belur karena aku. Hanya terima kasih yang bisa aku ucapkan."


"Iya Arumi. Apapun akan aku lakukan untuk kamu dan Caca. Selama ada aku, kalian akan baik-baik saja. Jangan sungkan untuk meminta apapun padaku."


Untuk sesaat mereka saling tatap dalam diam. Entah menyiratkan apa pandangan mereka. Hanya satu yang terlihat, tatapan mereka sama-sama dalam dan entah mengandung apa.

__ADS_1


"Om Bari istirahat di rumah ya. Nanti kalau sudah sembuh jangan lupa ke sini. Terima kasih sudah membawa bunda kembali. Aku sayang om Bari," kata Caca seraya merentangkan tangan pertanda menginginkan sebuah pelukan.


Dengan senyuman yang mengembang dan ekspresi gemas, Bari jongkok untuk menjajari tinggi badan Caca. Tak berkata apapun, Bari memberikan pelukan yang diinginkan anak kecil itu.


"Om juga sayang sama Caca." Bari menghujani anak lima tahun itu dengan ribuan ciuman di wajah Caca. Anak itu sampai tertawa karena geli dengan kecupan-kecupan singkat yang Bari berikan.


Semua mata hanya menatap haru dan bibir yang melengkung membentuk senyuman. Tak terkecuali Arumi, ia juga tersenyum dibalik cadarnya. Hatinya mendadak menghangat melihat Bari dan sang anak yang bertukar kebahagiaan.


"Aku antar Bar," sela Alvin di tengah-tengah kehangatan yang diciptakan Bari dan Caca.


"Ngga perlu bang. Aku bisa kok. Aku sudah jauh lebih baik. Apalagi setelah mendapat pelukan dari bidadari kecil ku." Bari menatap Caca dengan penuh kasih sayang. Pandangannya seakan mengartikan seandainya saja Caca memanggilnya ayah.


*


"Ibu jangan nyalahin aku dong bu, yang terus mencerca dan maksaku untuk cepat dapat Caca siapa? Ibu juga setuju dengan apa yang aku lakukan. Mana tahu kalau Bari bawa polisi, angan-angan kita kan Bari nggak mungkin nemuin kita cepat. Tapi nyatanya dia bisa dengan cepat temuin kita."


Arkan murka karena sang ibu menyalahkan dirinya. Ibu Arkan yang terus menerus menekan Arkan untuk segera mendapat Caca membuat Arkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ibunya mau.


"Lagipula kan ada Aksan bu. Telepon saja dia, beres masalah," kata Arkan lagi.


Ibu Arkan yang kesal meninggalkan anaknya begitu saja. Beliau tahu, ada yang bisa diandalkan dalam masalah ini. Saudara kembar Arkan bisa saja membebaskannya dari penjara. Yang beliau bingung kan setelah ini adalah bagaimana caranya untuk merebut cucunya. Dengan secara terang-terangan tak mungkin, dengan kekerasan lebih tak mungkin.


Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan cucu ku. Sekarang pasti nggak ada kesempatan untuk bertemu dengannya. Jika aku minta bantuan pada Aksan pun, rasanya akak tetap kalah. Caca msih di bawah umur, dia pasti akan di bawah asuhan ibunya. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Batin ibu Arkan pusing dengan permasalahannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2