Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 30


__ADS_3

POV ARUMI


Aku bingung setengah mati ketika menyadari ponselku tak ada di tas. Aku tadi ingat betul jika aku sudah meletakkan benda pipih itu ke dalam tasku. Tapi kenapa tidak ada? Bukan ponselnya yang aku bingung kan jika benda itu hilang. Tapi memori yang ada di dalamnya. Semua kenangan masa kecil Caca ada di benda itu.


Akhirnya aku putuskan untuk menghubungi nomor rumah melalui telepon rumah sakit. Mudah-mudahan saja ponsel ku memang tertinggal di sana.


"Apa? Ya udah kalau begitu bu. Makasih ya."


Rupanya ponselku jatuh di mobil Bari. Apa mungkin dia tadi menunggu ku di ruangan hingga tertidur karena ingin mengembalikan ponselku? Ah sudahlah, yang penting nggak hilang.


Pukul tiga sore, aku pulang dari rumah sakit. Aku mendapati Caca yang duduk seorang diri di teras. Tumben sekali, pikirku dalam hati. Ya, biasanya Arumi sebelum berangkat mengaji akan bermain dulu dengan teman-temannya di halaman rumah atau di rumah teman lainnya.


"Ca, tumben nggak main," tanyaku saat sampai di teras.


"Nunggu bunda. Tadi aku pulang sekolah di jemput om Bari. Terus om Bari ngajak aku jalan-jalan ke taman lihat badut. Aku dibelikan es krim juga. Tadi om Bari janji sama aku kalau sore mau ajak aku jalan-jalan lagi. Tapi harus ijin bunda dulu. Bunda bolehkan aku jalan-jalan sama om Bari?" Anakku cerita dengan panjang lebar. Aku membaca ada kebahagiaan di wajahnya. Aku tahu, pasti dia juga ingin seperti teman-temannya yang lain. Punya ayah, mainnya sama ayah dan diantar jemput sekolah sama ayah ibunya.


"Lain kali saja ya nak. Nanti om Bari capek. Ingat kata bunda, jangan dekat-dekat dengan orang asing."


"Jadi bunda nggak kasih ijin?"


"Sore ini kita jalan-jalan sendiri sehabis ngaji ya. Selepas sholat isya kita jalan-jalan ajak abi sama kak Zafran sama umi juga. Gimana?"


"Ya udah." Caca berjalan masuk ke dalam rumah.


Aku lihat guratan kesedihan di wajah anakku. Aku tak tahu hal apa yang di lakukan Bari hingga anakku begitu bisa dekat dengannya dalam waktu sesingkat ini.

__ADS_1


"Caca kenapa murung begitu Rum?" tanya ibu yang berpapasan dengan Caca di ruang tamu.


"Nggak aku kasih ijin main sama Bari."


"Rum, jangan begitu. Kamu kok tega banget sama anak. Jika dia bahagia, biarlah dia jalan-jalan sama Bari. Kamu bisa ikut dengannya kalau kamu tak yakin Bari bisa jaga Caca. Jangan karena apa yang terjadi di masa lalu, Caca jadi kena dampak juga. Kamu melarang Caca dekat dengan orang-orang yang berusaha mendekati kamu. Itu egois nak, kamu mungkin tidak butuh suami, tapi Caca tetap butuh ayah."


"Caca nggak kekurangan kasih sayang dari siapapun bu. Aku sudah cukup dan bisa berperan sebagai ayah dan ibu."


"Itu dari pandangan kamu. Pernah kamu tanya Caca dia maunya gimana? Di setiap ada pentas seni di sekolah, ayah teman-temannya datang, saat meraka liburan mereka bisa bermain dengan ayahnya, mereka bisa manja-manja ke ayahnya. Kamu bisa berperan sebagai keduanya, tapi dia juga butuh figur laki-laki untuk mengayomi dia. Ibu lihat sendiri tadi bagaimana cara Bari memperlakukan Caca. Dia pria yang baik Rum. Bahkan kamu kenal akrab dengan ibunya juga."


"Ibu tidak tahu saja jika Bari ini pria yang tidak bisa menghargai perempuan bu. Sebelum kenal aku, dia itu punya banyak pacar dan sering berganti wanita, Diana salah satu korbannya, ibu bisa tanya ke dia. Apa menurut ibu seseorang bisa berubah secepat itu?"


"Cinta bisa mengubah segalanya Rum. Dan jangan lupa Allah maha membolak-balikan hati manusia. Tidak ada yang tidak mungkin jika ada campur tangan Allah di dalamnya."


"Iya bu aku tahu. Tapi aku tidak mau jika Caca bergantung pada Bari dan hal ini membuat aku sulit sendiri nanti."


Aku hanya menghela nafas panjang menatap ibu yang juga meninggalkan ku sendiri di teras. Kenapa semua orang jadi berubah begini? Bari pandai dalam mengambil hati orang lain. Pantas saja jika dia mudah mendapatkan wanita.


Aku masuk rumah dan menuju kamar Caca. Aku melihatnya yang sedang mewarnai buku bergambar.


"Anak bunda lagi apa?"


"Lagi mewarnai, gambaran aku bagus nggak bunda?" Caca menunjukkan gambar yang ternyata adalah hasil dari tangannya sendiri.


Hatiku semakin teriris melihat kertas yang menggambarkan anak kecil dengan ayah ibunya.

__ADS_1


"Itu tugas dari sekolah. Kata bu Asna kita di suruh gambar cita-cita kita. Mudah-mudahan nanti kita bisa ketemu sama ayah ya bun. Ayah lagi lihat kita dari surga kan?"


Aku mengangguk seraya meraih anakku untuk ku peluk. Aku memang mengatakan pada Caca bahwa ayahnya telah tiada sejak dia di salam kandungan. Aku juga tak pernah memperlihatkan foto ayahnya yang tak pernah mengakui kehadirannya sebagai anak.


Biarlah apa yang Caca pahami ini begini sampai dia dewasa dan benar-benar siap untuk mendengar cerita sesungguhnya. Dia belum cukup dewasa untuk memahami sakit yang aku rasakan.


Air mataku jatuh dari sudut netraku.


'Bunda minta maaf nak, bunda belum bisa mengabulkan apa yang kamu mau. Meskipun bunda harus memberimu ayah pengganti, bunda belum siap.'


"Sekarang siap-siap yuk. Anak bunda mandi dulu, sebentar lagi waktunya ngaji."


Aku mempersiapkan baju ganti untuk Caca sebelum keluar kamar. Aku semakin pusing dengan keadaan yang rumit ini.


"Rum, nih hape kamu. Ini ada nomer pribadinya Bari juga. Tadi pas lihat badut di taman Caca nggak mau pulang. Akhirnya Bari janji kalau akan ajak dia jalan-jalan nanti sore kalau dapat ijin dari kamu. Kamu suruh hubungi dia kalau kasih ijin," kata mas Alvin saat aku baru saja keluar dari kamar Caca.


Aku menerima ponsel dan kartu namanya tanpa menjawab sepatah kata pun. Hanya helaan nafas panjang yang aku perdengarkan. Semua orang jadi membicarakan Bari sekarang.


"Mas, aku udah bilang ke Caca kalau ntar sore jalan-jalannnya sama kamu dan mbak Ranti aja. Habis isya aku tunggu di taman biasa ya."


"Nggak bisa kalau Hari ini Rum. Mau berkunjung ke rumah mama soalnya. Biasa, udah kangen sama Zafran."


"Oh ya udah."


Aku menghembuskan nafas kekecewaan. Semesta tidak mendukung ku hari ini. Baiklah, tak apa jika aku ajak jalan-jalan Caca sendirian.

__ADS_1


Aku berjalan menuju kamar dan meletakkan ponsel beserta kartu nama Bari tanpa aku baca.


Bersambung


__ADS_2