Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 68


__ADS_3

Sengaja Dinda pagi-pagi akan keluar rumah untuk menjenguk sang suami. Jika boleh memilih, Dinda lebih memilih di sel bersama suaminya, tak apa ia hidup terpenjara dengan Arkan, yang penting ia bisa terbebas dari mulut ibu mertuanya yang sangat tajam dan menyakitkan itu.


Baru juga menutup pintu utama, wanita yang dibenci Dinda itu sudah berdiri di belakangnya. Wanita itu sedikit terkejut ketika membelokkan tubuhnya, karena Dinda sendiri tak tahu ibu mertuanya datang.


"Mau kemana pagi-pagi? Jangan bilang kamu mau ketemu sama pria lain di saat suami kamu sedang sengasa di penjara," kata bu Arkan ketus.


"Bu, bisakah ibu bicara dengan menurunkan sedikit nada bicara ibu? Bukannya saya tidak sopan, tapi saya juga punya perasaan. Sama seperti ibu, ibu pasti juga tidak akan suka jika ada orang yang selalu bicara dengan nada tak bersahabat sama ibu. Jangan hanya karena sebuah takdir yang saya terima, ibu bisa memperlakukan saya seperti ini. Dan sekarang ibu tuduh saya selingkuh dengan laki-laki lain? Atas dasar apa saya selingkuh bu? Justru saya ingin menjenguk mas Arkan."


Sejak Arkan di penjara, ibunya semakin menyakiti Dinda. Wanita itu sama sekali tak dihargai oleh ibu mertuanya sendiri. Dinda tak ada pilihan lain selain bertahan, ia sudah tak punya siapa-siapa di dunia ini. Hanya Arkan yang ia punya.


Dahulu, Dinda sangat di puja oleh mertuanya, meskipun ia gadis sederhana, bahkan hanya bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah restoran. Tak pernah ibu mertuanya itu mencela atau bicara kasar padanya. Sekarang kenyataannya berbanding terbalik.


Namun, sekarang Dinda sadar satu hal. Ia merasakan apa yang di rasakan Arumi dahulu. Meskipun ia tak tahu secara langsung, tapi Dinda yakin ibu Arkan juga pasti memperlakukan Arumi seperti ini, bahkan mungkin lebih parah. Hal itu terlihat dari pertemuan beberapa waktu lalu saat pemutusan sidang Arkan. Tatapan kebencian dan dari sikapnya sangat terlihat jelas. Arumi tak dapat menyembunyikan kebencian terhadap mantan mertua dan juga suaminya itu.


"Mulai berani kamu sama saya ya."


"Bukan bermaksud berani bu. Saya juga bisa sakit hati dengan ucapan ibu. Saya menghormati orang bukan karena usianya. Tapi sikapnya terhadap saya. Jika ibu bisa menghargai perasaan saya, hal yang bodoh jika saya bersikap kurang ajar pada ibu. Saya begini juga karena ibu sendiri."


"Dosa apa Arkan sampai punya istri macam kamu."


"Saya juga juga bingung dosa apa yang saya lakukan sampai dapat mertua macam ibu." Merasa geram dan jengah dengan ibu mertuanya, Dinda langsung pergi tanpa permisi.


Selama ini Dinda diam karena masih menghargai sang suami. Ia tak mau melukai hati suaminya dengan menyakiti atau melawan ibu mertuanya. Ya, meskipun hatinya sendiri sering terluka karena wanita tua itu.


Dinda mengelap pipinya yang basah oleh air mata. Dari dalam taksi, ia memperhatikan lalu lalang kendaraan yang sedang ramai. Hatinya teriris perih melihat beberapa orang yang sedang berboncengan dengan mesra. Ia merindukan masa-masa terdahulu, masa dimana Arkan belum bertemu dengan Arumi setelah perceraian.

__ADS_1


"Terima kasih ya, pak." Dinda menyodorkan sejumlah uang yang disebutkan oleh pak supir. Dengan langkah tegar dan mantap, ia berjalan menuju sel dimana sang suami di tahan.


Sepersekian menit berikutnya datanglah Arkan dengan wajah lesu dan badan yang berkurang beratnya. Baru beberapa minggu di sel, tubuhnya terlihat sudah menyusut, batin Dinda sedih.


"Mas, bagaimana keadaan kamu? Aku harap kamu sehat selalu." Sudut mata Dinda sudah berembun. Dengan erat ia menggengam tangan suaminya.


"Aku baik sayang. Jangan bersedih. Aku tidak apa-apa."


"Aku ingin di sini aja sama kamu mas. Aku nggak kuat kalau harus menghadapi mulut ibu sendirian." Dinda terisak pilu.


Arkan memindahkan posisi duduknya dan beralih ke samping istrinya, memberikan pelukan penenang sekaligus memberikan kenyamanan yang akan hilang tiga tahun ke depan.


Di dalam dekapan Arkan, Dinda menangis sejadi-jadinya, ia menumpahkan segala rasa yang udah manyatukan entah itu kesedihan, kesepian, dan rasa perih lainnya yang tak dapat di jelaskan dengan kata-kata.


Mendengar ucapan Arkan membuat Dinda merasakan ada sedikit cahaya yang masuk ke dalam kegelapannya selama ini.


"Kamu yakin mas? Kamu yakin ingin meninggalkan kota ini?"


"Kenapa nggak? Kamu dan aku sama-sama merasakan sakit di sini. Alangkah lebih baik kalau kita nanti memulai hidup baru dengan jauh dari orang-orang di masa lalu."


"Kamu sudah mengikhlaskan anakmu?"


Arkan menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab. "Antara iya dan tidak. Aku hanya berpikir, aku akan sia-sia saja jika harus kembali berjuang meskipun hanya untuk ingin bertatap wajah dengan anakku. Dari pada aku membuang waktu untuk berjuang hal yang tidak pasti lebih baik nanti kita adopsi anak bayi saja. Kita besarkan sama-sama. Kita jauh dari hiruk pikuk yang membuat kita terpuruk."


"Bagaimana dengan ibumu?"

__ADS_1


"Biarkan saja. Di sini ibu tidak sendirian, ada anak gadisnya."


Dinda kembali menenggelamkan kepalanya di dada Arkan. Ada sedikit kelegaan dan kebahagiaan mengenai rencana Arkan.


"Oh ya ini aku bawa makanan, selimut sama bantal. Makan yang banyak mas. Kamu sudah mulai kurus. Aku akan ke sini setiap hari untuk kirim makan. Kalau kamu mau sesuatu, kamu bisa bilang ke aku."


"Apa tabungan kita cukup untuk kehidupan sehari-hari kamu? Tiga tahun bukan waktu yang sebentar."


"Kamu tenang aja, aku kembali bekerja di kerjaan yang lama. Alhamdulillah kemarin aku sempat ke sana dan aku langsung diterima."


Arkan berkaca-kaca dan membawa istrinya kembali dalam pelukan. Ia merasa berdosa dan bersalah membuat istrinya jadi menderita. Penyesalan mulai datang menghampiri, seandainya saja ia tak menuruti apa kata ibunya dan pergi dari sini sejak dulu, kehidupan sang istri tidak akan seperti ini, batin Arkan memaki dirinya sendiri.


"Maaf sudah membuat kamu jadi menderita."


"Nggak, ini konsekuensi dari apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Kita jalani saja, mudah-mudahan bisa mengurangi dosa kita."


Setelah itu mereka makan pagi bersama, dengan membuang rasa kesedihan yang ada dan berusaha untuk membicarakan hal yang bahagia-bahagia saja.


Sebelum pulang, Dinda mengatakan akan menjenguk suaminya tiga kali sehari agar ia bisa makan dengan suaminya itu.


"Jangan sayang. Kamu capek, aku nggak mau. Cukup sekali saja. Kalau kamu sakit siapa yang akan jenguk aku nanti? Aku cuma punya kamu."


Dinda hanya mengangguk lalu kembali memeluk sang suami sebelum pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2