
Setelah mendapat ancaman dari Arkan, Arumi menjadi tidak fokus melakukan apapun. Pikirannya hanya tertuju pada Caca dan Arkan. Ia takut jika apa yang Arkan ucapkan benar-benar ia lakukan.
Di saat sedang tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba pintu terdengar diketuk. Ia melirik jam di tangannya, masih jam istirahat, batin Arumi.
"Masuk sus!" ucap Arumi setengah berteriak.
"Ini aku Rum," kata Bari seraya membuka pintu.
Dengan setengah terkejut Arumi mendongak, saking terkejutnya ia sampai tersedak ludahnya sediri.
"Apa sih Rum? Lihat aku langsung keselek? Terkejut karena ketampanan aku ya?" goda Bari duduk di kursi yang bisa digunakan untuk pasien duduk.
"Ada apa kamu ke sini?"
"Kangen."
"Aku serius, Bari."
"Aku juga serius Arumi. Oh ya, tadi Arkan ke sini?"
"Kok kamu tahu?"
"Kenapa sih kamu nanyain hal yang nggak penting? Kalau aku tahu apapun, please lah nggak usah tanya tahu dari mana, kok kamu tahu, gimana...."
"Ya udah nggak tanya lagi," potong Arumi.
"Ya udah kenapa tadi Arkan ke sini?" tanya Bari lagi dengan nada yang lembut dan mesra. Sudah lama ia tak mengeluarkan jurus nada bicara yang seperti itu.
"Nggak apa-apa kok, cuman protes aja kenapa sekarang Caca pakai bodyguard, dia susah nemuinnya."
"Nggak bilang apa-apa lagi? Ngancam apa gitu."
__ADS_1
"Kamu berharap aku diancam?"
"Ya nggak gitu Rum. Kan nanya aja."
"Ya udah sana balik, aku mau kerja."
"Kenapa sih Rum, kamu nggak pernah menyambut baik kedatangan ku. Kamu nggak menghargai aku sebagai sesama manusia. Takut jatuh cinta sama aku?" tanya Bari serius
"Nggak usah mikir terlalu jauh Bari. Jatuh cinta adalah hal yang mudah untuk semua orang, tapi tidak untukku."
"Apa selama ini perjuangan aku kurang? Aku berusaha untuk selalu ada buat kamu. Tapi kekehadiran aku bagaikan nun mati diantara idgham billagunnah, terlihat, tapi tak dianggap ada."
"Bukan begitu Bar, aku..."
"Hanya menjaga hati dan dirimu, kamu menutup hati untuk semua laki-laki agar kamu tak tersakiti? Kamu tidak lihat bagaimana bahagianya Caca saat aku manjakan? Masih kurang kah pembuktian dari aku? Apa aku harus melalui rangkaian sakit luar dalam dulu baru kamu bisa lihat aku?" Kata Bari mengungkapkan unek-unek nya.
Bari bukan lelah berjuang, ia hanya ingin Arumi tahu bahwa dirinya juga punya perasaan yang akan nelangsa juga jika di perlakukan kurang baik. Setiap Bari bertandang ke rumah Arumi, wanita itu juga tak menyambut baik kehadirannya. Saat ini pun malah ia di suruh pergi, bukankah hal ini terjadi bukan yang pertama? Entah sudah ke berapa Arumi selalu menyuruh pergi Bari.
"Kamu nggak bisa maksa perasaan aku Bar."
"Baiklah, aku pergi."
Bari melangkah keluar ruangan dokter kandungan itu. Ia berharap, Arumi membuka suaranya untuk mencegah dirinya pergi. Tapi nyatanya sampai ia membuka pintu pun mulutnya masih tertutup rapat. Ia jadi sedikit merasa menyesal kenapa mengatakan itu pada Arumi. Ia jadi kepikiran bagaimana kalau Arumi justru akan melupakan dirinya dan membiasakan Caca hidup tanpanya.
Bari tak tahu, wanita yang sedang memenuhi hidupnya itu kini menatap punggungnya dengan nanar. Sepertinya saat ini Arumi sedang bertengkar dengan dirinya sendiri.
Jujur saja sebenarnya Arumi sudah mulai respek dengan Bari. Dalam hati ia sudah mengakui bahwa Bari benar berubah dan jauh lebih baik dari awal-awal pertemuannya. Sudah tak pernah pecicilan dan tak pernah gombal menggombal yang tidak berguna.
Perhatiannya pada sang anak pun ia akui sangat terlihat tulus. Caca tak pernah absen menghubungi Bari melalui ponsel Alvin. Justru sekarang hubungan mereka semakin dekat bak ayah dan anak.
Biarlah begini, Bari berhak mencari yang lebih dari aku. Soal Caca pasti aku bisa membuatnya terbiasa tanpa Bari. Bukankah dia lima tahun hidup juga tanpa Bari.
__ADS_1
*
Semenjak hari itu, Bari sungguh-sungguh tak menemui Caca dan Arumi. Sudah dua hari ini ia hidup tanpa mereka. Rasanya ingin uring-uringan, tapi ia sebisa mungkin tahan. Ia tak ingin sekretarisnya menderita karena jadi bahan pelampiasan.
Jangan tanyakan bagaimana rindu Bari terhadap mereka. Hari-hari yang biasa ia gunakan untuk menyempatkan waktu bertemu dengan mereka kini harus ia tahan dengan menenggelamkan dirinya di tumpukan berkas.
Dua hari ini ia tak mengaktifkan ponsel pribadinya. Ini ia lakukan untuk menghindari telepon dari Caca. Bukan berniat jahat, Bari hanya ingin tahu bagaimana respon Arumi ketika dirinya benar-benar menghilang. Apa ia akan mencarinya demi Caca? Atau demi hatinya yang diam-diam sadar dengan perasaannya? Apapun alasannya, Bari ingin dicari oleh Arumi.
"Aku mau ketemu om Bari, Bunda. Om Bari nggak ke sini dua hari. Om Bari nggak angkat telepon aku, om Bari kemana? Om Bari udah nggak sayang sama aku," rengek Caca di pagi hari.
"Sayang, om Bari lagi sibuk nak. Om Bari kan juga ada pekerjaan. Kan nggak bisa kalau harus nemuin kamu terus."
"Bisa bunda. Om Bari pernah bilang sama aku kalau akan nuruti apa mauku. Pokoknya aku mau om Bari. Om Bari juga bilang kalau mau ketemu tinggal telepon aja. Om Bari punya banyak waktu buat aku bunda," kata Caca mulai menangis.
Hari ini ada kegiatan di sekolah Caca. Yakni acara pentas seni merayakan hari jadi sekolah dimana Caca menempuh pendidikan awal. Ia harus tampil menyanyi. Anak kecil itu sudah memberi tahu Bari dan memintanya untuk datang ke sekolah.
"Telepon om Bari bun. Mungkin om Bari lupa."
"Kan ada bunda. Biasanya kan juga sama bunda nak."
"Nggak mau, mau sama om Bari juga, om Bari sudah janji sama aku."
Baru kali ini Caca seperti ini. Sejak kemarin anak itu sudah mengeluhkan mengenai Bari yang tak datang menemui dirinya dan tak menerima panggilannya.
Arumi bingung hendak bagaimana, ia tak punya nomer lain selain nomer pribadi Bari. Sedangkan nomer itu sudah tak aktif selama dua hari ini. Tak mungkin juga ia datang ke rumah atau perusahaan Bari hanya untuk menuruti apa mau Caca.
"Bagaimana ini bu? Ini salah aku juga kenapa nggak ngasih batasan kedekatan mereka. Bahkan aku nggak tahu kalau Caca akan meminta Bari datang," keluh Arumi pada ibunya.
"Nggak usah menyalahkan diri sendiri, biar ibu yang bujuk Caca. Barangkali dia nurut sama ibu." Ibu Arumi membawa Caca ke dalam rumah untuk beliau bujuk.
Arumi memijat keningnya yang mendadak pening. Ia tak menyangka akan rumit begini kejadiannya. Dalam hati ia tak henti-hentinya memaki diri sendiri, bagaimana bisa ia kelepasan membatasi anaknya dengan orang lain.
__ADS_1
Bersambung