Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 40


__ADS_3

Beberapa hari setelah bertandang ke rumah Arumi, Arkan mencari tahu dimana sekolah anak Arumi yang sampai sekarang tak ia ketahui namanya. Melalui bantuan dari temannya, i ia tahu dimana letak sekolah anaknya. Ia nekat melakukan ini karena benar-benar ingin bertemu dan memberi tahu bahwa ia punya ayah.


Arkan sebenarnya sedikit kecewa dengan tindakan Arumi yang mengatakan bahwa ia tak punya ayah. Arkan tahu ia salah, tapi ia juga punya hak atas anaknya. Apa yang terjadi dahulu bukan keinginan Arkan, ia tak tahu jika anak yang tidak ia inginkan adalah anaknya.


Arkan rela menunggu di luar sekolah sedikit lama hanya demi bisa berjumpa dengan sang anak. Pucuk di cinta ulam pun tiba, setelah menunggu beberapa lama akhirnya yang di tunggu waktunya pulang sekolah. Arkan berharap Arumi akan datang terlambat.


"Hai anak manis," sapa Arkan saat melihat Caca keluar gerbang.


"Hai juga om," balas Caca ramah.


"Lagi nunggu mama?"


"Iya, bunda belum jemput."


"Kamu namanya siapa?"


"Cahaya biasa dipanggil Caca. Om yang pernah datang ke rumah aku kan? Kita pernah ketemu di kolam renang juga kan? Om jemput anak om?"


Arkan tersenyum kecil, anaknya ini rupanya banyak bicara seperti Arumi saat awal-awal menikah dengannya.


"Boleh om peluk sebentar?"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Om kangen sama anak om. Usia dia sama kayak kamu, dia perempuan juga."


"Memang anak om kemana?"


"Dia..."


"Caca, pulang nak. Maaf bunda jemput terlambat." Arumi datang tepat waktu, di saat Arkan baru saja hendak mengatakan kenyataan, ibu dari anaknya itu sudah datang.


"Om, aku pulang dulu ya. Bye."


Arkan hanya menatap kepergian kedua wanita yang seharusnya masih bersama dirinya. Seandainya saja ia dulu tak gegabah dan tak mendahulukan emosinya, maka semua ini tak akan terjadi.


"Bun, bunda kenal ya sama om tadi? Itu om yang ketemu di kolam renang itu kan? Tadi om nya bilang mau peluk aku, tapi keburu bunda datang," adu Caca saat berjalan dengan sang ibu.


Arumi berhenti melangkah dan berjongkok di depan anaknya. Memperhatikan lekat-lekat mata indah sang anak.


"Tapi kalau nggak kenal kenapa bunda bertengkar di kolam renang waktu itu? Om tadi juga pernah datang ke rumah. Apa om tadi kayak om Bari yang mau jadi ayah aku?" tanya Caca dengan polosnya.


"Om memang ayahmu nak," sahut Arkan.


Pria itu sengaja mengikuti ibu dan anak itu. Sungguh ia tak menyangka Arumi akan mengatakan hal itu. Menurut Arkan tak seharusnya Arumi mengatakan hal itu. Biar bagaimanapun Arkan berhak atas Caca, terlepas dari kesalahan yang pernah ia lakukan. Caca berhak untuk mengetahui anaknya. Setidaknya biarkan ia bertemui dengan Caca meskipun sebentar dan akui ia sebagai ayahnya.


Ucapan Arkan tentu saja membuat Caca bingung. Karena yang ia tahu ayahnya sudah berada di surga bersama dengan opanya.

__ADS_1


Sementara Arumi menatap tajam ke arah Arkan yang sedang menatapnya juga dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Ayo kita pergi sayang," ajak Arumi dengan menggeret Caca agar ikut dengannya.


"Mau menghindar bagaimanapun kamu nggak akan pernah merubah status yang sudah terikat antara aku dan Caca, Rum," teriak Arkan yang sukses membuat langkah Arumi terhenti.


"Caca tunggu di mobil ya nak. Bunda mau bicara sebentar sama om nya."


Tanpa banyak bicara Caca langsung menuruti apa yang dikatakan ibunya. Ia bergegas ke mobil dan duduk diam saja seraya melihat ibunya dari dalam mobil. Meski tak tahu apa yang akan dilakukan obrolkan dua orang dewasa itu, Caca tetap setia menatap mereka.


Arumi berjalan dengan elegan ke arah mantan suaminya yang rupanya tak tahu diri itu.


"Nggak bisa dikasih tahu pakai bahasa manusia apa gimana? Jadi manusia itu harus punya malu. Malu sama diri kamu sendiri yang pernah tidak mengakui anaknya. Sekarang malah mati-matian ingin diakui ayah."


"Kamu jangan egois Rum. Dia anakku, darah dagingku. Kamu harus memperkenalkan aku ke dia. Ok, nggak masalah kalau kamu nggak kasih ijin aku ketemu sama dia. Tapi akui aku sebagai ayahnya. Jangan egois, masalah kamu hanya denganku. Nggak perlu bawa Caca."


"Apa kamu bilang? Nggak perlu bawa Caca? Akan aku ingatkan alasan kenapa kamu memulangkan aku ke rumah orang tuaku dan juga menyiksa lahir batinku. Ada Caca di rahimku, ada dia yang membuat kamu berubah sikap. Kamu nggak tahu rasanya jadi aku, nggak usah ngatur dan mengatai aku egois. Kamu yang nggak tahu diri."


"Ya dia harus tetap tahu aku ayahnya. Masalahnya aku nggak tahu, kalau aku tahu juga nggak mungkin melakukan hal itu Rum."


"Sudahlah Arkan, aku bosan dengan alibimu yang itu itu saja. Aku yakin orang lain pun akan bosan jika mendengar pertengkaran kita. Jangan pernah lancang buat nemuin anakku. Dia anakku, bukan anakmu," tukas Arumi tegas lalu pergi meninggalkan Arkan yang masih menahan kesal.


Semakin lama Arkan semakin kesal dan geram juga dengan sikap Arumi. Di saat seperti itu, kepala Arkan langsung saja terkoneksi pada kata-kata ibunya yang harus merebut Caca dari Arumi, bila tidak bisa dengan cara baik maka cara apapun harus ia lakukan.

__ADS_1


Namun, di sisi lain hatinya bicara untuk tidak melakukan perbuatan itu. Hal itu akan membuat Arkan semakin sulit untuk bertemu Caca.


Bersambung


__ADS_2