
Detik berganti menit, menit berlalu pergi digantikan oleh jam, jam yang terus berputar menjadikan hari juga ikut berubah. Bari kini sedang berdiri di depan cermin dengan senyum percaya diri. Rasanya sudah tak sabar dirinya untuk segera ke rumah Arumi.
Tak ingin menunggu lama-lama, ia segera keluar kamar dan meminta kedua wanita yang berada di rumahnya untuk cepat.
"Far, cepetan. Ngapain aja sih kamu di dalam. Yang lamaran kamu apa kakak? Kenapa kamu yang lama?" teriak Bari dari luar kamar sang adik.
"Berisik, bentaran dikit. Lagi gambar alis," jawab Farah tak kalah berteriak.
Ceklek
"Astaga Far. Perasaan kamu belajar buat alis dari jaman lulus SMA. Sekarang mau wisuda tetep aja nggak bisa-bisa. Ya udah sini kakak yang gambar." Bari merebut pensil alis yang berada ditangan Farah.
"Kakak ih. Kecoret kan? Aku jadi harus mulai dari awal," sungut Farah sembari menghapus semua bentuk alis yang sudah ia bentuk sebelumnya.
"Yang kecoret satu Far ngapain dihapus semua?" pekik Bari yang frustasi jika harus menunggu lebih lama lagi.
"Ya nanti nggak sama alis kiri sama kanan. Udah sana keluar! Makin lama kakak di sini makin lama juga aku dandan. Mau cepet nggak?"
"Kenapa sih kalian para perempuan ribet banget. Yang lamaran kakak, Far. Bukan kamu, nggak kebayang kalau kamu yang lamaran. Seharian penuh buat gambar alis doang."
"Ya nggak lah. Kalau aku yang lamaran mah yang dandanin orang, kakakku kan orang kaya, harus dimanfaatkan."
"Lima menit nggak kelar, kakak tinggal."
Bari berjalan cepat menuju kamar ibunya. Ia berharap wanita yang melahirkannya itu tak seribet anak gadisnya. Beberapa kali ia melirik jam tangan, memang masih ada satu jam untuk memulai acara, tapi Bari sudah benar-benar tak sabar ingin bertemu belahan jiwanya.
"Ibu sudah selesai?" teriak Bari dari luar kamar.
"Masuk Bar, ibu benerin kerudung."
__ADS_1
"Astaga ibu, ibu belum siap juga. Ya gusti, ada apa sebenarnya dengan para wanita? Kenapa mereka seribet ini? Aku bantu, bu. Ibu mau model yang bagaimana?"
"Kamu ini kenapa sih? Nggak sabar banget kayaknya. Tunggulah sebentar Bari. Masih ada waktu."
Bari menghembuskan nafas panjang lalu bejalan menuju ranjang sang ibu. Ia merogoh ponsel yang ada di kemeja batiknya. Mencari kontak bernama bidadari ku di sana.
"Assalamu'alaikum Bar, ada apa?"
"Waalaikumsalam. Nggak ada apa-apa. Cuman mau ngasih tahu aja kalau aku sama ibu udah mau berangkat. Gamisnya pas kan? Nggak kegedean atau kepanjangan?" Bari menggaruk keningnya, ia merasa bodoh dengan mempertanyakan hal yang konyol itu. Untuk apa pula dirinya mempertanyakan hal yang akan ia lihat sendiri nantinya? Batin Bari dengan bodohnya.
"Ha? Nggak, pas kok. Nyaman juga dipakainya."
"Ya.. Ya udah aku tutup dulu ya. Tunggu...tunggu aku di kamar... Eh maksudnya tunggu aku di rumah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Suara gelak tawa terdengar, entah sejak kapan Farah sudah berada di kamar yang sama dengan dirinya dan juga juga ibunya.
"Udah ayo berangkat. Kepala kakak kamu udah absurd isinya. Mana kamar sama gamis segala di bahas."
Ingin sekali Bari mengubur dirinya sendiri saat ini. Sungguh ia sangat malu, baru kali ini ia merasa menjadi orang bodoh di depan ibu dan adiknya sendiri.
*
Di tempat lain, Arumi menunggu Bari dan keluarganya di kamar dengan ditemani oleh kakak iparnya, Hana. Memang ini bukan pertama kalinya bagi Arumi, tapi tetap saja momen ini akan menjadi hal yang mendebarkan bagi setiap wanita.
Tak bersepang lama, rombongan keluarga Bari sudah datang. Arumi berjalan menuju ruang tamu dengan digandeng sang kakak ipar. Debaran halus di dada Arumi kini tak lagi terbendung, jika saja jantung Arumi bisa lepas dari tempatnya mungkin saja bagian tubuh itu sudah tidak ada di tempatnya. Entah mengapa ia merasa sangat berbeda dengan lamaram sebelumnya.
Arumi duduk di apit oleh Alvin dan juga sang ibu. Nampak dirinya yang lebih memilih untuk menatap karpet yang bermotif bunga itu. Ia terlalu gugup untuk menatap semua orang yang berada dalam rumahnya.
__ADS_1
Bari pun merasakan gugup luar biasa. Keringat dingin mulai mengucur di dahi dan beberapa bagian lainnya. Ia tak tahu apakah ia nanti bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang sudah ia susun sedemikian rupa di kepalanya untuk Arumi dan keluarganya.
Bari melirik Arumi yang berada tak jauh darinya. Pria itu tersenyum kecil ketika melihat Arumi yang juga ternyata sama gugupnya dengan dirinya. Hal itu terlihat dari kedua jari tangan Arumi yang saling menaut dan tak berhenti bergerak pelan.
Hingga sebuah sikutan tiba-tiba mampir di lengannya. Rupanya bu Rahma yang memberi kode pada dirinya untuk meminta restu pada ibu Arumi. Untunglah di saat yang mendesak begini, otak Bari masih bekerja dengan baik. Ia mengerti maksud kode dari ibunya.
"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih karana sudah diberikan izin untuk berkunjung ke sini dengan keluarga saya, sudah menyambut kami dengan baik. Maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk meminang anak ibu agar menjadi istri saya. Menjadi teman saya menjalani hari kehidupan yang tidak mudah ini. Melengkapi ibadah saya yang belum ada apa-apanya ini, hanya anak ibu yang saya mau untuk menemani saya menuju surga Allah. Jika ibu berkenan, bisa kah saya mendapat restu ibu?"
Sebenarnya bukan itu yang Bari susun dalam kepalanya. Kalimat demi kalimat ia rangkai indah dan sangat mengesankan. Bari sudah berpengalaman dalam hal kalimat keromantisan, namun entah kemana perginya kalimat-kalimat yang ia susun. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena kata-kata yang barusan ia ucapkan adalah kalimat yang buruk baginya.
"Iya nak, ibu akan tetap merestui kalian. Tapi jawabannya tetap pada Arumi. Ibu serahkan semuanya pada anak ibu."
Mata Bari beralih pada Arumi, dengan gugup ia mempertahankan netranya untuk menatap Arumi yang sedang menatap karpet. Entah kenapa ia merasa ada yang berbeda dari Arumi.
Wanita beranak satu itu hanya melirik sekilas pada Bari lalu kembali menatap ke bawah. Kegugupannya semakin menjadi ketika sesaat menatap Bari tadi.
"Dengan bismillah, saya bersedia untuk menjadi teman hidup mas Bari. Menjadi teman menuju surga Allah bersama-sama."
Semua orang yang berada di sana mengucap puji syukur atas penerimaan lamaran Bari. Hanya Bari yang nampak tertegun dan linglung.
Mendengar dirinya di panggil mas rupanya membuat ia ingin terbang. Jika saja tak ada orang di tempat itu, mungkin ia akan guling-guling, salto dan berteriak. Sungguh dirinya berharap semua orang yang di sana tak sadar bahwa dirinya sedang salah tingkah.
"Ssst," desis Bari
Beberapa kali ia memanggil Arumi dengan desisan namun wanita itu tak kunjung peka juga.
"Ssssttttt." Sekali lagi Bari mendesis lebih panjang.
Bari menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk sebuah love di saat Arumi menatap dirinya. Keduanya lalu nampak salah tingkah dengan wajah yang sudah memerah.
__ADS_1
Bersambung