Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 58


__ADS_3

Perasaan yang sudah ada dan tumbuh begitu saja memang sulit untuk dikendalikan. Meskipun harus mengorbankan atau merugikan diri sendiri tak kan jadi masalah. Setidaknya itulah yang di rasakan Bari.


Seumur hidupnya, ia tak pernah adu pukul dengan siapapun. Apa lagi untuk urusan wanita, sungguh ia tak pernah mengorbankan apapun untuk wanita-wanitanya terdahulu kecuali uang dan waktu.


Melihat perubahan Bari yang serius untuk berubah membuat ibunya respect terhadapnya. Bu Rahma merasa besyukur dan bahagia, Bari sudah ingin memperbaiki hidupnya meskipun di usia yang tak lagi muda. Usianya sudah cukup matang untuk menjadi kepala rumah tangga.


Namun, di sisi lain bu Rahma juga merasa iba melihat anaknya yang satu bulan ini mati-matian mengejar janda satu anak itu. Ia seperti membuang bundah waktu dengan percuma, bukan bermaksud menyalahkan Arumi, bu Rahma paham betul perjalanan hidup Arumi yang tak mudah.


"Kalau dirasa nggak bisa untuk di genggam, ya udah lah Bar, di lepas saja. Banyak perempuan yang sholehah di luar sana. Ibu nggak mau kalau kamu galau-galau terus dan sekarang malah babak belur begini. Apa lagi nanti yang kamu lakukan untuk Arumi?" ucap bu Rahma ketika melihat kondisi sang anak yang baru pulang dari rumah Arumi dengan kondisi yang sudah babak belur.


"Aduh sakit bu," pekik Bari yang diobati oleh ibunya. "Ibu bukannya dulu setuju kalau aku ngejar cinta Arumi? Tapi kenapa sekarang jadi kayak kesannya nyuruh pergi? Ini belum seberapa bu, justru aku semakin semangat buat mendapatkan Arumi. Aku yakin pasti bisa bersanding sama dia kok bu," balas Bari menerawang jauh.


Tak ada percakapan lagi setelah itu. Mereka memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah lelah. Rasanya percuma jika menjelaskan realita pada orang yang sedang dimabuk Asmara.


Meski hingga sekarang perjuangan Bari belum menunjukkan hasil yang signifikan, tak pernah terpikir bagi Bari untuk menyerah apa lagi pergi dari kehidupan Arumi. Bagi Bari, Arumi bagaikan membuang nafas dan Caca adalah menarik nafas. Keduanya sama-sama saling membutuhkan dan tak terpisahkan. Bisa dibayangkan jika Bari kehilangan salah satu dari mereka. Maka mati adalah satu-satunya pilihan.


*


Tiga hari kemudian.


"Ca, katanya kamu punya ayah. Mana? Coba bawa ayah kamu ke sini pas acara karnaval nanti," ujar salah satu teman Caca.


"Iya," balas Caca cuek seraya mengemasi peralatan sekolahnya untuk di masukkan ke dalam tas.


"Nggak punya ayah, tapi berkhayal punya ayah. Hahaha," ucap salah satu temannya yang lain.

__ADS_1


Ini adalah bukan pertama kalinya bagi Caca. Beberapa teman-temannya seringkali mengolok-olok Caca yang selalu berkhayal punya ayah. Seperti yang pernah ia ceriakan pada Bari beberapa pekan lalu.


Bari yang seringkali mengatakan akan menjadi ayahnya membuat Caca menaruh harapan besar bahwa apa yang dikatakan Bari adalah hal yang nyata. Karena sering mendapat harapan membuat Caca percaya diri bahwa ia akan punya ayah dan mengatakan akan punya ayah dalam waktu dekat saat teman-temannya yang lain mengejeknya. Namun, kenyataannya hingga kini Bari masih saja jadi orang lain. Hal itu membuat teman-teman Caca mengatai bahwa anak itu pembohong dan berkhayal. Tentu saja hal itu membuat Caca semakin sedih.


Anak lima tahun itu berlari keluar kelas dengan cucuran air mata. Ia tak tahu menangis karena apa. Menangis karena olokan temannya atau karena Bari tak kunjung memberikan kepastian.


Caca masih berlari hingga tak terasa sudah di ujung jalan raya. Anak kecil itu tak sadar ada motor yang berjalan dengan kecepatan tinggi, saking cepatnya pengedara motor tersebut tak sempat menginjak remnya.


"Awas," teriak seorang wanita yang sejak tadi berdiri di situ.


Untunglah wanita itu memiliki kecepatan tangan yang bagus. Wanita itu berhasil menarik Caca ke pinggiran jalan dengan selamat.


Astaga, dia mirip sekali dengan Arkan. Batin ibu Arkan mengelus elus elus lembut pipi tembem sang cucu.


Belum sempat Caca menjawab, teman yang tadi sempat mengoloknya berjalan melewati Caca dan ibu Arkan.


"Hai Ca, ini ayah aku, mana ayah kamu?" ucapnya.


"Hus, nggak boleh gitu sama temennya. Nggak baik," sela seorang pria yang menggandeng anak kecil itu.


Melihat kejadian barusan, ibu Arkan mulai paham duduk perkara yang membuat cucunya menangis. Wanita itu menatap iba Caca yang masih terisak. Beliau juga berpikir bahwa selama ini Arumi jahat karena tak pernah memperkenalkan ayahnya. Beliau pun bertanya-tanya dalam hati, kenapa Arumi tega membiarkan anaknya sekolah di lingkungan yang toxic seperti ini. Jahat sekali, pikir ibu Arkan.


"Kamu nangis gara-gara teman kamu yang ngatain kamu?"


Caca hanya mengangguk pelan seraya mengelap pipinya yang basah.

__ADS_1


"Kamu sebenarnya punya ayah nak, oma kenal sama ayah kamu."


"Ayah udah meninggal waktu aku masih di perut bunda."


"Nggak, bunda kamu bohong. Ayah masih hidup dan tinggal sama oma. Nama ayah kamu Arkan, kamu pasti sudah kenal sama ayah."


Caca nampak berpikir setelah mendengar nama Arkan. Hal itu terlihat dari dahinya yang mengkerut.


"Om Arkan yang udah nyulik bunda? Nggak mungkin itu ayah aku," kata Caca setengah berteriak tak percaya.


"Dia memang bukan ayah kamu nak!" teriak Arumi dari belakang Caca.


Wanita barcadar itu lalu berjalan menghampiri sang anak dan mantan mertua yang sedang berjongkok berusaha untuk mempengaruhi Caca.


"Tidak anak tidak ibu sama saja. Tidak Bisakah kalian diberi tahu dengan bahasa manusia? Saya sampai bosan mengatakan ini," ujar Arumi pelan namun penuh penekanan dan ketegasan.


"Mau sampai mulut kamu berbusa sekalipun, kami tidak akan pernah berhenti untuk memperjuangkan hak kami, Arumi. Sebuah kesalahan jika kamu tak memberi tahu Caca kebenarannya, kamu juga nggak beri izin buat bertemu, hanya ketemu, tapi kamu tidak beri izin hingga Arkan melakukan hal kriminal."


"Siapa yang nggak beri izin? Saya kasih izin kok, jadi manusia harus pandai bersyukur. Jangan dikasih hati minta jantung. Masih untung saya kasih waktu sedikit dari pada tidak sama sekali."


"Jangan buat saya marah Arumi. Biarkan saya bawa Caca untuk menemui Arkan, atau kita bertemu di meja hijau. Kamu sama sekali nggak becus jaga Caca. Jemput datang terlambat, kamu tahu tadi Caca mau diserempet motor? Coba nggak ada saya, udah masuk rumah sakit cucu saya. Dan kamu juga nggak peduli dengan mental Caca. Kamu biarkan dia sekolah dilingkungan yang jahat. Bagaimana bisa kamu sebagai ibu malah membuat luka dan kesedihan yang tiada ujung?"


Arumi mengernyitkan kening, seakan ia sedang mencerna ucapan ibu Arkan. Ia benar-benar tak tahu apa yang beliau maksud dengan membiarkan Caca di sekolah yang jahat. Memang apa yang beliau tahu? Batin Arumi bertanya-tanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2