Casanova Kepincut Janda

Casanova Kepincut Janda
Bab 75


__ADS_3

"Din, bisa aku minta bantuan mu?" tanya Arumi tanpa basa basi.


"Apa Rum? Kalau aku bisa, pasti aku bantu."


"Kapan kamu ada waktu?"


"Sayang, udah ke kamar mandi? Kenapa lama sekali?" ucap Bari berjalan mendekati istrinya.


Dinda dan Bari saling tatap dalam diam. Pria itu seperti sedang mengingat ingat wajah Dinda.


"Maaf mas, aku sedang ngobrol dengan Dinda."


"Ini istrinya Arkan bukan?" tanya Bari dengan tatapan menyelidik.


"Iya mas. Kamu tahu, ternyata Mira dan ibunya Arkan ada hubungan keluarga. Mira keponakannya ibunya Arkan. Aku juga baru tahu dari Dinda. Karena memang aku nggak pernah kenal Mira selama jadi istri Arkan. Kita bisa minta tolong Dinda untuk masalah ini mas."


"Sebenarnya kalian ada masalah apa dengan Mira?" sela Dinda yang sudah tak tahan dengan ke kepoan nya.


"Ceritanya panjang Din. Itu sebabnya aku ingin kita bicara, kamu kapan ada waktu senggang?"


"Sepuluh menit lagi aku istirahat. Kita bisa ngobrol di sini kalau kalian mau."


"Iya, kita akan tunggu."


"Sayang, jangan percaya gitu aja. Siapa tahu dia kerja sama dengan Mira. Aku nggak mau ambil resiko dengan kita ceroboh seperti ini," sela Bari yang tak yakin jika Dinda adalah orang baik.


Bari ragu jika istri Arkan adalah wanita yang baik. Mengingat wanita itu adalah istri dari orang yang sudah menculik istrinya dan juga wanita yang menyakiti istrinya lima tahun lalu.


"Maaf Bari, aku dan Mira hanya kenal sekedar nama dan status, itu saja," ujar Dinda membela diri.


"Din, jangan dipikirkan. Kamu bisa kerja dulu, kita akan tunggu di sini."


Dinda hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara sepasang suami istri itu kembali duduk di sudut restoran itu.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu begitu percaya dengannya? Bagaimana kalau dia juga jahat kayak keluarganya yang lain?"

__ADS_1


"Mas, aku melihat kejujuran di matanya. Percayalah padaku, dia tidak ada sangkut pautnya dengan Mira. Kita akan cari informasi mengenai Mira dari Dinda. Pekerjaan kita akan lebih cepat selesai. Percaya sama aku mas, dia tidak seperti keluarga suaminya."


Bari menghembuskan nafas kasar. Ia berharap apa yang dikatakan istrinya tidak salah dan tidak merusak apapun yang sudah mereka rencanakan.


*


"Apa tante bilang. Untuk membuat Arumi percaya dengan sandiwara ini tidak sulit kan? Arumi itu wanita yang mudah di mainkan oleh situasi," kata ibu Arkan dengan senyum liciknya. "Tapi tunggu, bagaimana nasibmu setelah melahirkan nanti?" tanya ibu Arkan.


"Aku akan pergi dari sini dengan suami ku begitu surat cerai mereka sudah turun. Gampang kan?" jawab Mira dengan tertawa jahatnya.


"Kamu jahat sekali Mira."


"Sama seperti tante kan? Selama aku pacaran dengan Bari, tak pernah aku merasakan perhatian tulus darinya, seperti dia memperhatikan Arumi. Aku tahu perjuangannya saat mendapatkan Arumi. Dan aku tidak bisa terima, begitu aku tahu dia sudah membagi cintaku dengan banyak wanita."


"Kamu pun begitu kan? Kamu juga mendua sama laki-laki yang jadi suami mu sekarang. Kalian apa bedanya?"


"Aku seperti itu juga karena Bari tan. Bari berubah dan semakin tidak peduli denganku. Ternyata kala itu dia sedang mendekati janda itu. Akhirnya aku berhubungan dengan Jo. Dan bodohnya aku, aku malah melakukan kesalahan dengan menyebut nama Jo saat dengan Bari."


"Sudahlah, nikmati saja sekarang kemenangan kita."


Kedua wanita berbeda generasi itu sedang menikmati kemenangan yang mereka raih lebih cepat dari yang meraka perkirakan.


*


Meskipun tak yakin dengan apa yang ia lakukan, Bari tetap menunggu Dinda di restoran itu. Ia tetap menuruti apa kata istrinya meskipun setengah hati.


Tak lama kemudian, Dinda datang bergabung ke meja meraka.


"Maaf menunggu lama, jadi apa yang bisa aku bantu?" tanya Dinda sungkan. Sejujurnya, ia tak punya muka jika harus berhadapan dengan sepasang suami istri yang sudah di dzolimi suaminya.


"Nggak apa-apa Din. Aku mau tanya-tanya aja sih. Kamu tahu Mira hamil?"


"Tahu, memang kenapa? Pacarnya kan sudah tanggung jawab. Laki-laki itu sudah menikah dengan Mira. Memang apa hubungannya dengan kalian?"


Sepasang suami istri itu tentu saja terkejut. Itu artinya benar dugaan meraka bahwa apa yang dilakukan oleh Mira adalah penipuan. Lalu apa tujuannya? Untuk apa Mira melakukan itu? Kekasihnya sudah tanggung jawab dan kenapa wanita itu malah mengusik orang lain? Masih banyak pertanyaan yang berseliweran di kepala sepasang pengantin baru itu.

__ADS_1


"Sudah menikah?" ucap Bari dan Arumi bersamaan.


"Iya, sebenarnya ada apa?" tanya Dinda semakin bingung.


Mengalirlah cerita Mira yang tiba-tiba saja hadir di pernikahan nya dan Bari. Arumi menceritakan apa yang ia rasakan, bahwa ia curiga pada Mira. Ia curiga bahwa wanita itu hanya main-main saja.


"Dan aku nggak tahu tujuan dia melakukan ini semua apa?" kata Arumi di akhir kalimat.


"Apa rumah tangga Mira sedang ada masalah?"


"Setahu aku sih nggak ada. Hubungan mereka baik-baik saja. Sering ke rumah ibu juga."


"Kamu masih se rumah dengan ibu mertua mu?"


"Nggak. Tapi rumah kami dekat, akhir-akhir ini memang aku sering melihat Mira dan suaminya ke rumah ibu. Aku nggak tahu juga ada kepentingan apa."


"Mas, apa yang kamu pikirkan sama dengan yang aku pikirkan?" tanya Arumi pada suaminya.


"Apa? Memang apa yang kamu pikirkan?"


"Astaga," gumam Arumi menepuk dahinya pelan. "Kamu dengar apa yang aku omongin nggak sih mas?"


"Dengar sayang dengar. Ini aku lagi mikir, apa ini ada hubungannya dengan ibu Arkan? Maksudnya apa mereka bekerja sama untuk membuat kita berpisah? Tapi kenapa?"


"Aku juga bepikir begitu mas. Itu artinya itu yang harus kita cari tahu. Apa kamu bisa bantu Din?" tanya Arumi pada Dinda.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak dekat dengan ibu. Bahkan hubungan ku dengannya sangat buruk sejak aku keguguran dan rahim ku diangkat. Aku dan ibu seperti musuh saat ini Rum."


"Untuk masalah itu aku sendiri belum tahu Din. Bagaimana denganmu mas? Adakah cara untuk Dinda membantu kita?"


"Akan aku pikirkan dulu. Sementara biarkan begini, kita harus berpikir jernih untuk setiap masalah sayang. Jangan terburu-buru."


"Baiklah, begini saja Din. Ini ada kartu nama aku. Kamu biasanya hubungi kalau kamu mengetahui sesuatu. Aku dan mas Bari akan ke sini lagi jika kita sudah punya solusi."


"Iya Rum. Aku akan kabari kamu jika ada yang mencurigakan."

__ADS_1


"Terima kasih ya Din. Aku pamit ya." Arumi sempat memberikan pelukan pertemanan kau beranjak pergi.


Bersambung


__ADS_2