
Keesokan harinya, Bari melarang Arumi melakukan kegiatan apapun, bahkan ia melarang Arumi untuk mengantar Caca ke sekolah.
"Udah, istirahat di rumah. Kalau kamu masih ngeyel terus, ya udah aku nggak kerja. Akan aku jaga kamu di sini. Pilih mana?"
Jurus Bari yang selalu ia keluarkan jika istrinya tak menurut padanya. Ia sudah cukup pusing dengan Bari yang terus mengomel sepanjang pagi membuat Arumi akhirnya mau menuruti kata suaminya.
"Ya udah, aku berangkat ya. Ingat, jangan jalan-jalan." Satu kecupan mendarat di kening Arumi dengan mulus.
Sementara Widya sudah siap dengan Caca, hari ini ia akan mengantar dan menungu Caca selama di sekolah hingga Arumi sehat kembali.
"Anak ayah sudah siap? Ayo kita berangkat."
Bari berjalan keluar lebih dulu, namun langkah terhenti karena Widya memanggil.
"Sebentar pak, maaf rok saya tersangkut di resleting tas Caca," keluh Widya seraya berusaha melepas rok yang terangkut di tas Caca.
Dengan senyum yang tipis dan kecil, Widya melirik Bari yang berjalan mendekat. Bari lalu bersimpuh dan membantu melepas rok pendek Widya.
Lagi-lagi Bari hanya menanggapi pakaian Widya dengan bisa saja. Entah ada apa dengan gadis itu, sudah dua hari terakhir ia memakai pakaian dan rok yang mini untuk ukuran baby sitter atau asisten rumah tangga.
Bari berdiri dan kembali berjalan setelah permasalahan kecil itu selesai. Sedangkan Widya berjalan di belakangnya dengan senyum sumringah.
Sejak kemarin penampilan Widya sedikit ada perubahan. Gadis itu menonjolkan kemolekan tubuhnya yang Bari akui memang bagus. Meskipun hanya memakai kaos oblong sebatas lengan dan rok selutut membuatnya cukup cantik dan seksi di mata kaum hidung belang.
__ADS_1
Lemak kembar yang padat dan menonjol dibalik kaos ketatnya mungkin saja sukses membuat Bari yang dulu belingsatan. Ya, Bari yang dulu, Bari yang sekarang tak mudah tergoda dengan wanita seperti itu. Memiliki Arumi saja ternyata sudah lebih dari cukup untuknya.
Bari berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. Selama bekerja di rumahnya, Widya adalah gadis pendiam dan tak banyak bicara. Jadi tak mungkin jika gadis itu sama seperti wanita genit di luar sana.
Bari mendadak menghentikan langkah karena mendengar ponselnya yang berdering. Belum sempat ia menerima panggilan, tubuhnya sudah ditabrak oleh Widya dari belakang, ponselnya pun jatuh tepat di bawah kaki pria itu.
Entah kebetulan macam apa, atau memang semesta sedang berpihak pada siapa. Kedua manusia itu sama-sama membungkuk untuk mengambil benda yang sama. Bisa dilihat dengan jelas, saat Widya membungkuk benda kenyal yang ada di dalam kaosnya seperti menyembul ingin keluar. Entah disengaja atau tidak, Widya seakan membuat posisi itu lama dan membiarkan Bari melihat gundukan itu dengan bebas.
Menyadari hal itu, membuat Widya seperti sengaja membungkuk dalam waktu yang lama. Namun, tidak dengan Bari. Pria itu tersadar beberapa saat setelah melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Ia segera merebut ponselnya dari tangan Widya dan memasukkan benda itu ke dalam saku kemejanya.
"Terima kasih, ayo jalan!" ujar Bari menyembunyikan gugupnya.
"Maaf Pak, saya duduk di mana?" tanya Widya bingung, lantaran baru kali ini satu mobil dengan majikannya.
Bari melajukan mobilnya setelah Caca dan Widya masuk ke mobil. Belum usai dengan degup jantung yang masih mengencang, Bari tak sengaja melihat kaca spion yang berada dalam mobilnya. Ia melihat Widya di kaca spion itu, pria itu sedikit tersentak ketika melihat kaos ketat Widya sudah turun di pundaknya, dan memperlihatkan pundak mulus asisten rumah tangga itu.
Bari semakin yakin bahwa ada yang aneh dengan Widya. Ia tak mau berpikir negatif, tapi tingkah Widya membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Apa Widya tak sebaik dan se pendiam yang ia kira? Apa dengan mengumbar kulit mulusnya itu ia berpikir bahwa Bari akan tergoda? Ah entahlah, biarkan saja Widya dengan sikap anehnya, biarkan saja ia mengumbar apapun miliknya, ia tak akan tergoda, batin Bari berusaha acuh.
*
Terpisah oleh jarak dan tempat, ternyata tak membuat Arkan dan Dinda jauh, justru mereka tambah mesra dan semakin bahagia. Meskipun saat ini Arkan merasa miris mendengar keadaan ibunya yang baru di benci oleh sebagian tetangga karena ulahnya sendiri. Arkan hanya bisa berharap bahwa apa yang terjadi saat ini bisa membuat ibunya sadar dan tak mau mengambil jalan yang salah lagi.
Dinda juga terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Perlahan psikis Dinda kembali seperti sedia kala, meskipun dalam hati sebenarnya Arkan menyesali apa yang menimpa istrinya. Seandainya saja, ia masih bisa memiliki anak, batin Arkan di sela-sela canda tawanya. Namun, sedetik kemudian ia geleng kepala pelan, ia membuang jauh-jauh apa yang ada dalam pikirannya. Ia tak mau menyia-nyiakan wanita seperti Dinda yang menerima dirinya apa adanya, meskipun kini ia menjadi napi.
__ADS_1
Di tengah-tengah Arkan bercengkrama dengan istrinya, tiba-tiba saja ia teringat anaknya. Ia memikirkan bagaimana keadaannya, sedang apa ia sekarang, apa anaknya memikirkan dirinya? Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalanya.
"Kenapa mas? Kok tiba-tiba diam?" tanya Dinda merasa ada yang suaminya pikirkan.
"Nggak apa-apa, tiba-tiba keinget Caca aja. Wajar kan kalau aku tiba-tiba kangen dia, dia anakku dan aku sama sekali nggak punya sesuatu yang bisa aku jadikan kenang-kenangan, sebagai pengingat kalau aku punya anak gadis," jawab Arkan dengan menunduk menyembunyikan air matanya.
Ternyata Dinda berpikir salah selama ini, ia berpikir bahwa kehidupannya sudah bahagia dan sejahtera setelah apa yang ia lewati. Tapi rupanya, suaminya itu masih memikirkan masa lalunya juga. Tapi tak apa, tidak ada orang tua yang lupa pada anaknya, tidak ada yang bisa memisahkan hubungan mereka meskipun meraka kini sedang tak bersama. Sampai kapanpun, Caca dan Arkan adalah seorang anak dan ayah. Tidak ada yang bisa merubah atau menyangkal status mereka.
"Aku minta maaf, Din. Aku nggak bermaksud buat kamu jadi sedih dengan aku memikirkan anakku. Maaf," kata Arkan yang merasa bersalah melihat istrinya diam saja.
"Kenapa minta maaf mas, nggak ada yang salah dengan pemikiran dan apa yang kamu rasakan. Kamu dan Caca ada hubungan yang tidak akan dipisahkan, bahkan sampai kalian jadi maut pun, status kalian akan tetap sama. Aku nggak sedih kok mas, aku paham dengan apa yang kamu rasakan. Aku bisa melakukan sesuatu untuk mengobati rindu mu pada Caca."
"Apa sayang? Nggak, aku nggak mau kalau kamu melakukan sesuatu yang buat membuat meraka marah. Lebih baik jangan, jangan hiraukan perasaan ku. Aku nggak mau kamu kenapa napa."
"Apa yang kamu pikirkan mas? Kamu meragukan aku? Tentu saja aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuat mereka marah. Dengan susah payah aku mendapat kepercayaan dari mereka, nggak mungkin aku merusaknya lagi."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Ada deh. Nanti kamu akan tahu, nggak surprise dong kalau aku kasih tau sekarang."
Seketika tawa Arkan kembali menghiasi bibirnya. Hanya dengan mendengar Dinda akan melakukan sesuatu untuk mengobati rindunya dengan Caca, ia sudah seperti mendapat harapan baru. Entah rencana apa itu dan entah berhasil atau tidak, Arkan akan tetap menghargai apa yang Dinda usahakan.
Bersambung
__ADS_1